Pabean, Pelabuhan Internasional di Banten Tanpa Jejak

    Pelabuhan Pabean namanya tak sefamilier Karangantu. Jejaknya pun telah hilang seiring pendangkalan area dermaganya. Di situlah sentrum bandar dagang internasional Banten digerakkan.

    KEN SUPRIYONO – Serang

    Pelabuhan Pabean benar-benar tak menapakkan jejak. Tak ada lagi tanda-tanda kepelabuhanan. Juga namanya yang tak banyak dikenali orang. Bekas dermaganya telah mendangkal, menyisakan bekas kanal yang airnya hitam pekat bertumpuk sampah.

    Konon, seribu meter lebih pendangkalan telah terjadi dari bibir laut di teluk Banten ini. “Lokasinya di Pacinan, dekat Jembatan Rante,” kata arkeolog Banten Tb Entus Najib kepada Radar Banten, kemarin.

    Petunjuk peneliti pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sejalan dengan dokumen orang-orang Eropa pada lima abad silam. Arsip catatan yang banyak dikutip Claudue Guillot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XII.

    Detail arkeolog asal Perancis itu memberi gambaran Pabean. Pelabuhan di barat kota raja ini, pertamanya bermula dari palang pintu yang terbuat dari batang-batang pohon. Penjagaan dilakukan pasukan perwira di bawah tumenggung yang dilengkapi dua meriam. Mereka bertugas mengizinkan atau tidak kapal-kapal masuk ke kota melalui Tolhuis. Artefak yang dikenal dengan nama Jembatan Rante di sisi utara Keraton Surosowan.

    Di dekatnya, terdapat kantor bea cukai Pabean. Kantor dinas untuk mengawasi semua kegiatan ekspor impor barang dagangan. Di situ pula dilakukan pembayaran pajak barang dan lainnya ketika kapal merapat. Untuk menghitung bea pajak yang harus dibayar, digunakan timbangan umum atau dacing.

    Agak lebih ke selatan, terdapat kantor syahbandar atau kepala pelabuhan, kantor bea cukai, dan kantor timbangan. Lengkap dengan pegawai-pegawai akuntannya. Gedungnya dibangun Kaytzu pada 1674. Dialah penasihat ekonomi sultan Banten yang berperan membawa pertumbuhan ekonomi Banten ke kancah dunia sejak 1665.

    Sejak meninggal pada 23 Februari 1677, kedudukan Kaytzu digantikan Kiai Ngabehi Cakradana. Duanya keturunan Tionghoa. Selain Cakradana, pada 1678 kantor-kantor penting di sekitar pelabuhan banyak dipegang orang Tionghoa.

    Guillot menyebut sebagai hal yang masuk akal meski masa itu sudah terbilang mengherankan orang. Seorang syahbandar tidak hanya menangani masalah yang berhubungan dengan pelabuhan dan pedagangan. Masalah komunitas asing juga ditangani. Ia bertindak sebagai orang penjamin dan wakil mereka di hadapan pemerintahan.

    Majunya Pabean sebagai pelabuhan internasional terlihat dari banyaknya loji-loji (gudang) pedagang Eropa. Sekaligus permukiman yang sudah dikelompokkan sesuai asal-usul etnik dari mayoritas penduduknya. Permukiman di barat kota itu yang dipisahkan dinding kota dan kanal.

    Secara arkeologis, terdapat tiga pelabuhan di teluk Banten. Pabean di barat Keraton, pelabuhan di bagian tengah atau garis lurus dengan Keraton, dan Pelabuhan Karangantu di timur Keraton. Ketiganya disebut Tom Pires, seorang pakar obat dari Portugal yang pernah melakukan pelayaran ke Asia Tenggara, sebagai Pelabuhan Bantam.

    Berdatangan perahu-perahu dari daratan Tiongkok dan Eropa ke Pelabuhan Pabean. Tak terkecuali perahu-perahu lokal yang membawa produk-produk ekspor. “Secara temporer atau permanen perahu-perahu pedagang lokal ikut ambil bagian perdagangan di bawah Orde Ekonomi Internasional,” kata arkelog Banten Ali Fadilah pada ulasan Dari Surosowan ke Tirtayasa, Urbanisasi dan Perubahan Sosial di Banten.

    Masa itu, dunia memburu rempah-rempah atau lada dan Banten masuk kategori jalur spice road. “Pelancong Tiongkok yang bernama Jungkyun menyebut rempah-rempah Banten yang terbaik,” kata arkeolog Banten Tb Entus Najib.

    Lada sebagai komoditas ekspor pun telah dikelola secara profesional. Dari masa tanam hingga pemasaran sebagaimana tercatat dalam arsip Belanda.

    Menurut Najib, seminar internasional 1995 menyimpulkan Banten di masa kesultanan masuk dalam kategori sebagai bandar internasional. Banten pun disebut sebagai The Long Sixteenth Century.

    Sayang, kekuasaan kolonial telah meminggirkan budaya maritim yang sudah jauh berkembang di Banten. Ditambah pengikisan pada abad ke-16 yang terus terjadi hingga kini. Bahkan, konsep tol laut yang sempat mengemuka tak memasukkan nama Banten di dalamnya. “Akan sangat baik jika ini dilakukan revitalisasi dan normalisasi,” ujar Najib. (*)