Mungkin ini kisah layaknya cerita di sinetron yang sering kita tonton. Tapi, percaya tidak percaya, ini benar adanya. Hikayat perjuangan Tile (22), bukan nama sebenarnya, dalam merebut kembali cinta sejati yang sudah dipinang lelaki lain, sebut saja Mimin (21), istri sah Rokim (23), nama samaran.

Mimin yang dipaksa menikah dengan Rokim oleh kedua orangtua tak bisa berbuat banyak. Asmara yang dipupuk selama tiga tahun bersama Tile terpaksa harus pudar tertiup angin kepedihan. Akhirnya pernikahan berlangsung. Mimin terpaksa, Tile menderita. Wah, Kang Tile baik yah! Menjaga jodoh orang selama tiga tahun, hehe.

Namun, bukannya pasrah dengan keadaan, Tile justru berontak dan mendobrak larangan yang seharusnya tidak ia langgar. Seperti apa yang dikatakan si raja dangdut Rhoma Irama, darah muda darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah, walau salah tak mau mengalah. Tile mencaci maki Mimin yang telah mengkhianati cinta suci mereka. Ujung-ujungnya, adu pukul deh dengan Rokim, sang suami yang sok jadi pahlawan kesorean.

“Iya, waktu itu memang kejadiannya sore hari,” kata Mimin.

Peristiwa itu sontak mengundang perhatian warga kampung. Ibu-ibu, bapak-bapak, semuanya riuh mengerubungi rumah Mimin. Ujung-ujungnya, orangtua deh yang kena batunya. Menanggung malu setengah mati dan harus berurusan dengan aparat desa. Sedang Tile, merasa puas lantaran amarahya sudah terkuras. Terlampiaskan melalui cacian dan beberapa pukulan di wajah Rokim. Ya, meski keduanya sama-sama bonyok, tapi yang jadi korban sebenarnya adalah Mimin. Sudah sakit hati, malu, dimarahi mamih, jengkel, kesal, pokoknya campur aduk. Duh, ada-ada saja yah anak-anak muda ini.

Mimin dan Tile bertemu sejak awal masuk SMA, waktu itu sedang ada kegiatan MOS (masa orientasi siswa), semacam ospek kalau di kuliahan. Nah, tak sengaja mereka berdua datang telat secara bersamaan, akhirnya, berkat kejahilan panitia, mereka dihukum jalan berdua mengitari sekolah dengan papan nama bertuliskan, ‘kami pasangan mesra, telat saja berdua’. Ciyee, romantisnya! Sejak kejadian itulah, kedekatan mereka berlangsung sampai akhirnya pacaran. Sungguh masa remaja memang luar biasa.

Tanpa disangka keduanya saling mencinta. Setiap hari berangkat dan pulang sekolah bersama, jalan-jalan dan terkadang juga bolos bareng. Wah-wah, nakal juga ternyata.

“Ya namanya juga remaja Kang. maklumlah!” ucap Mimin.

Pribadi Mimin yang tidak pernah ambil pusing membuat Tile nyaman saat bersamanya. Selain itu, meski wajah Mimin biasa saja, tapi penampilannya di sekolah patut menjadi perhatian. Ya, bagaimana tidak, seragam SMA yang ia kenakan memang sedikit ketat, meski berkerudung, tapi modelnya ala-ala jilbob. Itulah yang membuat Tile betah berboncengan motor, menghabiskan waktu di jalanan bersama Mimin. Waduh, ini sih cinta pada lekukan pertama.

Tile bukanlah lelaki kaya, meski hanya bermodalkan motor supra modifikasi yang ia rakit sendiri,membuat Mimin lengket di hati. Wajah biasa saja, uang pas-pasan, motor supra, tapi kok Teh Mimin mau?

“Cinta itu enggak kenal materi, Kang. Asal sayang dan bikin nyaman, itu jadi fondasi utama!” sanggah Mimin. Fondasi? Sudah kayak rumah saja, Teh, hehe.

Setelah lulus SMA, Mimin ingin segera menikah. Bersama Tile, ia memegang erat kepercayaan untuk selalu bersama. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tingkah laku Mimin yang selama ini dinilai buruk oleh orangtua, membuat mereka mengambil tindakan tegas dengan menjodohkan Mimin dengan lelaki pilihan ayahnya.

Seperti diceritakan Mimin, sang ayah selama ini diam saja ketika melihat tingkah lakunya. Mulai dari pulang terlambat, pergi naik motor bareng Tile, bahkan dipanggil guru ke sekolah lantaran bolos dan kenakalan lainnya, ayahnya tak pernah marah. Ternyata, dari diamnya selama itu, sang ayah menyimpan kejutan yang membuat Mimin belingsatan.

Dan, apa yang ditakutkan pun terjadi, datanglah seorang lelaki bersama keluarganya ke rumah. Setelah mengobrol sana-sini, sang ayah langsung menyatakan tujuan dari pertemuan dadakan malam itu. Mimin akan dijodohkan dengan Rokim. Lelaki gagah pilihan ayah yang dipercaya akan membawa Mimin menjadi wanita solehah. Sontak Mimin pun langsung gegana alias gelisah, galau, merana. Haha.

Meski sempat mengajukan penolakan, Mimin tak bisa berbuat banyak. Ketika Mimin berbicara, ayahnya langsung membentak. Tak hanya itu, ponselnya pun disita. Wah galak juga yah. Mimin hanya bisa menangis. Bukan cuma karena akan dinikahkan oleh lelaki yang baru dikenalnya, tapi juga ia tak bisa mengabari Tile terkait apa yang dialaminya.

Dua minggu kemudian, undangan mulai disebar. Perlahan, Mimin mencoba menerima kenyataan. Ia berusaha sekuat tenaga melupakan kenangan bersama Tile dan menerima Rokim apa adanya. Satu hal yang ia percaya yang bisa menenangkan hatinya, yaitu saat neneknya memberi nasihat atas apa yang ia alami saat ini. Wuih, memang nasihat apa, Teh?

“Ya, katanya orang-orang zaman dahulu saja banyak yang menikah dengan pasangan pilihan orangtua yang baru dikenal dan mereka langgeng-langgeng saja sampai kakek-nenek. Begitulah katanya,” curhat Mimin

Pernikahan pun berlangsung tanpa kendala. Mimin resmi jadi istri sah Rokim, lelaki gagah dengan kulit sawo matang yang baru saja lulus kuliah. Mimin terlihat bahagia, meski ada raut risau di matanya, tapi dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk tersenyum kepada setiap tamu yang datang. Pesta pernikahan telah usai. Mimin dan Rokim kini tinggal satu atap bersama keluarga mempelai wanita.

Selamat ya Teh Mimin dan Kang Rokim. Langgeng selamanya. Amin! (daru-zetizen/zee/ira/RBG)