Pakaian Khas Adat Jawa

0
1806
Foto ilustrasi: pariwisataindonesia.id

Sudah tepat memang jika negara kita memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sebab memang, nusantara memiliki banyak sekali keanekaragaman. Dari mulai tempat tinggal, bahasa, makanan, adat, kebudayaan, suku, warna kulit, dan yang lainnya. Namun di balik keanekaragaman itu kita tetaplah satu: Indonesia.

Pakaian merupakan salah contoh dari keanekaragam yang kita milki. Dari satu daerah ke daerah yang lain memiliki jenis dan bentuk pakaian yang berbeda-beda. Dan dari sekian banyak jenis pakaian di nusantara tersebutlah pakaian khas adat Jawa. Dan ini juga bentuk serta namanya berbeda-beda. Apa sajakah pakaian khas adat Jawa yang kita miliki itu? Berikut ini uraiannya.

1. Pakaian Adat Pria Jawa

Pria Jawa mengenakan pakaian adat yang berbeda-beda. Semua tergantung pada jenis acaranya. Ada yang formal dan ada yang non-formal. Dan beda pula dengan pakaian yang dikenakan dalam keseharian. Akan tetapi pada umumnya, pakaian tradisional para pria Jawa itu terdiri atas atasan dan juga bawahan yang berupa celana atau kain.

a. Surjan

Surjan merupakan jenis baju adat Jawa yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Pakaian yang satu ini sudah dipakai sejak zaman Mataram Islam. Pemakaiannya sendiri itu dirintis oleh Sunan Kalijaga. Sejak dulu, surjan cuma dipakai oleh kaum bangsawan dan abdi keraton saja. Dan sekarang, surjan secara khusus dipakai oleh abdi keraton di Jawa Tengah.

Surjan sendiri merupakan singkatan dari suraksa janma yang artinya menjadi manusia. Model surhan itu menyerupai kemeja. Ada bagian kerah yang tegak dengan lengan yang panjang. Surjan secara umum dibuat dari kain yang bermotif lurik khas Jawa. Namun pun begitu, ada juga yang menggunakan motif kain bunga.

Banyak kalangan yang menyebut surjan sebagai baju taqwa, sebab memang surjan mempunyai makna religius. Di mana di bagian depan, surjan dilengkapi dengan 6 kancing yang mana hal ini melambangkan rukun iman. Sementara 2 kancing yang lainnya, yaitu yang ada di bagian dada kiri dan bagian kanan menjadi simbol 2 kalimat Syahadat.

b. Jawi Jangkep

Jawi Jangkep merupakan pakaian adat Jawa Tengah. Pakaian ini asalnya dari Keraton Kasunanan Surakarta. Jawi Jangkep dan Jawi Jangkep Padintenan merupakan 2 jenis dari pakaian ini.

Jawi Jangkep termasuk ke dalam pakaian formal. Dipakai hanya saat acara tertentu, misalnya saja upacara adat. Atasannya berwarna hitam. Adapun Jawi Jangkep Padintenan kebalikannya. Pakaian ini bisa dikenakan sehari-hari. Warnanya boleh selain hitam. Kedua jenis pakaian ini, hingga sekarang masih sering digunakan. Bersama dengan keris, setagen, ikat pinggang, barik, selop, 

Destar, atau blangkon.

c. Beskap

Beskap sebenarnya merupakan bagian dari pakaian Jawi Jangkep. Akan tetapi kini seringkali dipakain secara terpisah. Beskap cuma dipakai acara resmi. Misalnya saja pernikahan. Beskap sendiri itu sudah ada sejak akhir abad ke-18, di masa Kerajaan Mataram.

Beskap itu modelnya seperti kemeja lipat. Pada umumnya berwarna polos. Dan dilengkapi kancing di kanan dan kirinya. Adapun di bagian belakang, panjangnya lebih pendek daripada bagian depannya. Hal ini konon berfungsi seperti halnya Jawi Jangkep. Sebagai tempat untuk menyelipkan keris. Gaya Jogja, gaya Solo, gaya kulon, dan gaya beskap landung merupakan jenis-jenis gaya yang digunakan di dalam beskap.

2. Pakaian Adat Wanita Jawa

Seperti halnya pria Jawa, wanita Jawa juga memakai pakaian adat yang berbeda-beda. Ada yang dipakai untuk acara formal, dan ada pula yang dipakai untuk keseharian. 

a. Kebaya Jawa

Kebaya, kini tak hanya ada di Jawa. Di seluruh daerah di Indonesia, banyak juga yang memiliki kebaya. Dan saat ini, model kebaya juga sudah banyak mengalami perubahan serta modifikasi. Ada yang pendek, sedang, dan juga panjang menyerupai tunik. Potongannya pun bisa pas di badan dan juga ada yang longgar seperti baju kurung. Semua diserahkan kepada selera pemakainya.

Banyak ahli yang mengatakan bahwa konon kebaya ini berasal dari adata Tionghoa. Teruma di Batavia. Para wanita Tionghoa zaman dulu memakai kebaya yang kini disebut sebagai Kebaya Encim. Baru setelah itu, kebaya dipakai secara luas dengan model yang semakin beragam.

b. Kemben

Penggunaan pakaian ini sebenarnya tidak kelihatan. Sebab kemben dipakai untuk menutupi bagian dada dari dalam. Kemben sendiri itu terbuat dari kain panjang yang dililitkan dari dada hingga ke bawah pinggul. 

c. Dodot

Dodot sering juga disebut sebagai Sinjang. Dodot ini merupakan kain batik panjang yang berfungsi sebagai penutup tubuh bagian bawah. 

3. Pakaian Pengantin Jawa

Selain pakaian tradisional, ada juga pakaian adat Jawa yang yang hanya dipakai pengantin saat pernikahan.

a. Kanigaran

Kanigaran sebenarnya merupakan dandanan khusus pengantin keluarga kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Bajunya disebut sebagai Paes Ageng Kanigaran. Akan tetapi dulu, pada masa pemerintahan Sultan HB IX, riasan ini boleh digunakan masyarakat umum.

Makna dan filosofi pakaian ini sangatlah dalam. Jadinya banyak dipakai sebagai dandanan pengantin Jawa. Terbuat dari bahan beludru hitam dengan tambahan kain dodot atau kampuh di bagian bawahan. 

b. Basahan

Riasan basahan juga banyak digunakan pengantin dari Jawa. Dandanan ini sendiri berasal dari kebudayaan mataram. Akan tetapi sampai sekarang, riasan basahan masih banyak dipakai saat upacara adat pernikahan.

Yang membedakan riasan basahan dan kanigaran ada pada gaya pakaiannya. Kaingaran menggunakan pakaian luar berbahan beludru, di luar kemben. Adapun pakaian basahan tidak ada yang seperti itu. 

Itu dia uraian mengenai pakaian khas adat Jawa. Lumayan rumit juga ya. Akan tetapi jelas, hal ini membuktikan kepada kita bahwa pakaian adat ini memang kekayaan nusantara yang wajib dilestarikan. 

Sudah melihat langsung pakaian-pakaian adat Jawa ini? Sudah saatnya Anda melihatnya. Klik saja https://www.traveloka.com/id-id/tiket-pesawat. Supaya bisa mendapatkan tiket ke Jawa yang mungkin harganya sesuai dengan kantong Anda. Sekalian juga, jalan-jalan ke berbagai tempat wisatanya.

Tapi jangan lupa, tetap disiplin protokol kesehatan ya. Supaya selalu sehat, sehingga jalan-jalan ke Jawa pun menjadi lancar dan menyenangkan. ( *)