JAKARTA – Manajemen Panasonic menegaskan bahwa penutupan pabrik di Cikarang, Jawa Barat, merupakan konsekuensi dari penggabungan dua perusahaan (merger) yang dilakukan 1 Januari 2016. Selanjutnya, Panasonic mengalihkan produksi LED (light emitting diode) ke pabrik di Pasuruan, Jawa Timur.

“Penggabungan pabrik ini merupakan strategi Panasonic dalam mengantisipasi kemajuan teknologi dan perkembangan pasar produk lampu LED. Kami fokus pada produksi yang memberikan nilai tambah bagi industri,” ujar Presiden Direktur Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI) Itchiro Suganuma, Rabu (3/2).

Panasonic memiliki dua unit bisnis di bidang perlampuan. Yaitu, PT Panasonic Lighting Indonesia (PESLID) di Pasuruan yang memproduksi lampu hemat energi (CFL) dan PT Panasonic Gobel Eco Solution Manufacturing Indonesia (PESGMFID) di Cikarang dan Cileungsi yang memproduksi LED. “Merger ini murni karena teknologi,” katanya.

Panasonic ingin fokus memproduksi LED yang pasarnya terus meningkat. Setelah penggabungan, produksi LED difokuskan di dua pabrik saja, yaitu Cileungsi dan Pasuruan. Oleh karena itu, produksi LED di pabrik Cikarang dialihkan ke Pasuruan. “Permintaan lampu hemat energi menurun. Sekarang pindah ke teknologi LED,” tambahnya.

Suganuma menambahkan, pabrik di Cileungsi dan Pasuruan selanjutnya dijadikan sentra produksi luminer serta lampu LED untuk memperkuat daya saing di pasar domestik dan dunia. “Ini bertujuan meningkatkan efektivitas, efisiensi, serta merespons perkembangan teknologi perlampuan dan tren permintaan pasar,” jelasnya.

Kepada 425 karyawan di pabrik Cikarang, Panasonic menawari mereka agar tetap bergabung di perusahaan. Opsi pertama, ikut produksi di Pasuruan atau Cileungsi. Kedua, bergabung dalam kelompok usaha Panasonic Gobel lain sesuai dengan keahlian masing-masing. “Atau ketiga, mengundurkan diri untuk berwiraswasta,” paparnya.

Sementara itu, karyawan produksi di pabrik Pasuruan, Jawa Timur, dan Cileungsi, Bogor, bisa tetap bekerja seperti biasa. Suganuma menuturkan, keputusan tersebut merupakan langkah untuk mengantisipasi perkembangan teknologi dan situasi pasar. “Kami tetap optimistis terhadap perkembangan industri elektronik di Indonesia,” paparnya.

Sebagaimana diberitakan, berdasarkan laporan Gabel, pabrik televisi Panasonic di Indonesia ditutup seiring penutupan pabrik-pabrik Panasonic di berbagai negara. Itulah keputusan bisnis prinsipal Panasonic Jepang untuk beralih fokus memproduksi chips. Pabrik lampu hemat energi (LHE) pun ditutup Panasonic lantaran dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang pasar meminati produk lampu LED yang konsumsi listriknya lebih irit. (JPG/RBG)