Leha (34) bukan nama sebenarnya memang bukanlah wanita biasa. Terlahir dari keluarga sederhana dengan kasih sayang orangtua, sudah membuat masa mudanya cukup bahagia. Sang ayah yang sudah tua renta, selalu mengajarkan pola hidup sederhana kepada seluruh anggota keluarga.

Didorong kuatnya bimbingan tentang ketaatan beribadah, Leha tumbuh menjadi wanita penuh keistimewaan. Selain cantik, Leha juga terkenal baik dan ramah terhadap siapa pun. Baik orang yang sudah lama kenal, maupun yang baru bertegur sapa.

Leha anak kedua dari tiga bersaudara. Sang kakak sebenarnya menginginkan Leha melanjutkan pendidikan di tingkat perkuliahan, namun karena masalah biaya dan ketidakminatan keluarga, ia tidak memanfaatkan jalur beasiswa. Leha justru melanjutkan sekolah agama di tempat dahulu bapaknya mengajar.

Seolah sudah ditakdirkan Tuhan, di sanalah Leha bertemu dengan jodohnya. Dua tahun mempelajari ilmu agama, karena sikap lembut ditambah kepandaiannya mengaji, Leha sempat menjadi incaran beberapa lelaki. Namun, karena peraturan ketat di pondok pesantren, membuat tidak sembarang orang bisa mendekat seenak hati. Pada akhirnya, hanya lelaki pilihanlah yang bisa memiliki peluang merebut sang bidadari.

Tak ingin sembarangan memilih calon pendamping hidup, diam-diam dengan penuh rasa percaya diri, Leha membawa seorang lelaki yang dikenalnya baik dan pandai mengaji, sebut saja namanya Odin (37), datang menemui ibu dan bapaknya di rumah. Lelaki yang senang memakai peci hitam ini kebetulan mengaku, siap mengajak sang pujaan hati menuju pelaminan. Widih, nekat juga nih Teh Leha.

“Hehe, ya waktu itu dia duluan nembak saya. Saya bilang saja, kalau mau serius silakan dateng ke rumah. Kirain dia bakal nyerah, eh tahunya beneran dateng,” curhat Leha.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, bagai merpati muda yang dipertemukan cinta, kedua keluarga pun sepakat. Maka tak lama setelah mempersiapkan biaya pernikahan, Odin melamar Leha.

Meruntuhkan hati para lelaki pemuja rahasia sang wanita, Odin percaya diri melangkah ke jenjang lebih serius. Tak jauh berbeda dengan Leha, Odin sendiri lelaki yang terlahir dari keluarga sederhana. Orangtua pedagang di salah satu pasar di Kota Serang, ia tumbuh menjadi lelaki yang baik dengan motivasi hidup nan tinggi.

Singkat cerita, pesta pernikahan pun terlaksana. Meski sederhana dan hanya mengundang teman serta sanak saudara, Odin dan Leha terlihat bahagia. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Kedua keluarga pun tampak saling menghargai satu sama lain.

Di awal pernikahan, Odin bersikap penuh perhatian. Layaknya Romeo yang cinta mati pada Juliet, ia sangat lembut dan mengayomi Leha. Maklumlah, mereka tinggal di rumah keluarga wanita. Jadi kalau tidak pandai-pandai mencuri hati keluarga, wah, bisa bahaya.

Hal serupa dilakukan Leha. Seolah ingin menunjukkan bahwa sang suami tak salah memilihnya, setiap saat selama berada di rumah, Leha menunjukkan kebolehannya dalam memasak dan rajin beres-beres rumah. Tak hanya itu, dengan sikap manja namun mesra, ia sukses membuat Odin betah di rumah.

“Syukur alhamdulillah, yang namanya istri tuh harus serba bisa. Jangan cuma modal cantik doang, tapi juga harus rajin dan pinter masak,” kata Leha. Widih.

Hingga berjalan setahun usia pernikahan, Leha melahirkan anak pertama. Bayi lelaki lucu dan imut, menjadi pelengkap kesempurnaan rumah tangga. Odin semakin sayang, keluarga pun dibuatnya senang. Pokoknya, rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan.

Dengan kehadiran anak tercinta, tentu membuat kebutuhan ekonomi semakin bertambah. Odin yang bekerja sebagai guru honorer, harus memutar otak mencari penghasilan lebih besar. Apalah daya, ia pun mencari pekerjaan layaknya orang kelaparan, apa pun dikerjakan asal halal.

Mulai dari pegawai toko perabotan, sampai office boy sebuah perusahaan kecil, tampaknya Odin tak juga menemui kecocokan. Di tengah kebimbangan mencari penghasilan tambahan, ia diterpa berbagai cobaan. Mulai dari tak bisa memberi makan anak istri, sampai digunjingkan tetangga dan mertua. Astaga.

“Iya namanya rumah tangga wajarlah hal kayak gitu mah. Saya sih yang penting Kang Odin enggak menyerah,” tutur Leha.

Hingga suatu hari, seolah Tuhan menjawab doa Leha dan Odin selama ini, datanglah tetangga yang menawarkan pekerjaan. Tapi sayang seribu sayang, persyaratannya harus wanita dan bisa bekerja shift malam. Apalah daya, setelah ditimbang serta dipikirkan matang-matang, demi kesejahteraan bersama, Odin pun mengizinkan sang istri bekerja dengan syarat tidak boleh melepas hijabnya.

Leha pun bekerja sebagai pelayan di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Cilegon. Berangkat pagi pulang sore, kadang berangkat siang pulang malam, Leha mampu membantu perekonomian rumah tangga. Hebatnya, dengan status sang suami yang hanya guru honorer berpenghasilan minim, rumah tangga mereka berjalan lancar seolah tak ada hambatan. Widih, hebat amat sih Kang Odin dan Teh Leha ini.

“Kuncinya sih bersyukur, Kang. Ya meski kadang pusing mikirin urusan ekonomi, tapi dengan sama-sama cari nafkah, lelahnya juga serasa lelah berkah gitu. Jadi lebih indah,” kata Leha bangga.

Subhanallah, semoga Teh Leha dan Kang Odin langgeng selamanya dan bisa hidup sejahtera. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)