Foto ilustrasi. Dok. Radar Banten

SERANG-Cabang olahraga (cabor) paralayang sukses mempersembahkan sekeping medali emas untuk kontingen Banten pada PON XIX Jawa Barat 2016. Medali emas dipersembahkan Risman Supriadi dari nomor ketepatan mendarat (KTM) perorangan.

Medali emas yang diraih Risman termasuk kejutan bagi tim paralayang Banten. Itu lantaran dari awal Risman tidak diperhitungkan atau ditargetkan meraih medali. Sebaliknya, Aris Afriansyah, Irvan Winarya, dan Ari Prayogo yang digadang-gadang menjadi unggulan Banten gagal bersaing. Hal itu menjadi pekerjaan rumah (PR) cabor paralayang untuk mempersiapkan tim dan meningkatkan prestasi pada PON XX Papua 2020.

Ketua Pengprov Paralayang Banten Asep Renggana mengatakan, hasil yang diraih tim paralayang Banten pada PON XIX Jawa Barat 2016 menjadi acuan evaluasi untuk menghadapi PON XIX Papua 2020. Yang menjadi PR utama jelang menghadapi PON XX adalah melahirkan atlet muda potensial.

“Ibaratnya kami sedang berburu amunisi anyar untuk ditempa dari sekarang. Tim kami butuh penyegaran dengan mendatangkan atlet muda potensial. Kami akui kekuatan tim di PON XIX Jawa Barat 2016 tidak seimbang. Dua tahun jelang berlaga di PON XX Papua 2020 bukan waktu panjang bagi olahraga dirgantara. Kami harus melakukan evaluasi secepatnya,” kata pria yang akrab disapa Areng kepada Radar Banten, Kamis, (11/1).

Areng menambahkan, menghadapi Pra-PON 2019, minimal paralayang harus menyiapkan sepuluh atlet. Yang menjadi permasalahannya adalah dua dari tujuh atlet yang tampil di PON XIX Jawa Barat 2016 sudah tergolong sangat senior. “Itu artinya kami hanya bisa bawa lima alumnus PON XIX ke PON Papua. Kami butuh lima atlet lagi untuk menghadapi PON Papua. Syukur alhamdulillah, sepanjang tahun 2017 kami sudah melakukan pembinaan untuk menutupi kekurangan tersebut,” imbuhnya.

Menurutnya, bukan pekerjaan mudah untuk menciptakan atlet dirgantara. Butuh proses dan waktu panjang guna melahirkan atlet berprestasi. “Kalau bibit kita sudah punya, hanya harus dibina dalam jangka waktu panjang. Kami berharap dukungan penuh dari semua pihak dalam proses pembinaan ini. Untuk menghadapi PON XX Papua 2020, pembinaan intensif harus dimulai dari sekarang,” tegas Areng.

Pelatih Paralayang Banten Anwar Permana menyatakan, menciptakan atlet dirgantara tidak seperti membalik telapak tangan. Butuh proses panjang dan berjenjang untuk melahirkan atlet potensial dan berprestasi.

“Selain dibutuhkan pembinaan, dukungan peralatan juga harus diperhatikan. Kita memiliki potensi untuk berprestasi di PON Papua. Sejarah juga membuktikan cabor dirgantara selalu mampu mempersembahkan medali emas untuk kontingen Banten di setiap PON,” ucapnya singkat. (Andre AP/RBG)