Pas-pasan di Era 90-an

0
503 views

Konon, era 90-an adalah era yang pas. Kehadiran game yang pas dan enggak berlebihan stoknya seperti sekarang, musik yang pas didengar tanpa harus diracik berbagai macam, jajanan yang pas dan tidak banyak mengundang banyak penyakit, sampai gaya berpakaian yang pas tanpa harus aneh-aneh. Tidaklah heran, bagi generasi yang pernah mengalami era ini, merasa kangen dan selalu ingin kembali ke masa itu.

Bagi yang pernah merasakan masa kecil atau remajanya di era 90-an adalah suatu keberuntungan yang sangat menyenangkan. Nah, sekarang mari kita bernostalgia dengan kenangan apa saja yang ada di 90-an.

“Pada era 90-an internet itu belum banyak atau bahkan belum ada. Hobi kita enggak bakal lari jauh dari permainan berkelompok seperti sepak bola dan bulu tangkis atau bahkan permainan tradisional seperti egrang dan gobag (adang-red),” jelas Aan Ali Ghibrant yang menghabiskan masa remajanya di tahun 90-an.

Sedikit mengulas, pada era 90-an memang permainan tradisional banyak yang menggunakan bambu sebagai bahan dasarnya. Seperti egrang, babadogan, dan peletokan. Egrang yang dimainkan Aan merupakan permainan tongkat dari bambu yang dipasang pijakan untuk berjalan. Dibutuhkan keseimbangan dalam memainkan ini.

“Acara musik yang paling terkenal adalah Aneka Ria Safari di TVRI yang menyuguhkan band-band pop terkenal. Salah satu yang paling populer adalah Dewa 19 dengan judul lagu Kangen. Tidak berhenti di situ, masa remaja saat itu juga kita banyak sekali yang bikin grup musik bareng teman-teman SMA,” tukas Aan menyinggung musik paling hits pada masa SMA.

Setelah lulus dari bangku SMA, Aan mengingat pada 1994 merupakan awal ia meniti karir sebagai instruktur di sebuah bimbingan kursus yang ia bangun, Ghibrant English Course. “Kalau berbicara era 90-an tentunya tidak lepas dengan masa remaja saya yang seperti baru saja kemarin. Hal itu karena saya konsisten untuk mengajar sejak 1994,” tutur Aan yang sempat menjadi tour guide bagi para wisatawan mancanegara di era 90-an.

Begitu pula dengan Saebudin. Kelahiran 2 Februari 1980 ini meghabiskan masa kecilnya di era 90-an. “Waktu kecil sih yang paling diingat banyak makanan jajanan tradisional ya seperti pancong, serabi, juga kue-kue manis. Dibanding zaman sekarang beda jauh banget, makanan cepat saji di mana-mana.” jelasnya

Saebudin yang kini mengajar sebagai guru madrasah mengaku, dengan uang Rp100 dulu sudah bisa membeli cokelat enak banget merek ayam jago atau beli empat krip-krip sudah menyenangkan sekali. Sekarang makanan-makanan itu sudah jarang ada. “Pokoknya zaman dulu tidak pernah tidak jajan ke warung, hehe,” tukas Saebudin tertawa kecil.

Kini masa lalu hanya bisa disyukuri dan dikenang, sekadar nostalgia membuat Saebudin lega dan senang karena banyak hal-hal yang ia alami sewaktu masa kecil. “Kalau dibilang kangen, ya pasti. Suasana dan kondusivitas era 90-an itu asyik seperti itu. Walaupun setiap era ada kelebihan pasti ada kurangnya,” kata dia.

Untuk urusan musik, di era 90-an banyak banget lagu yang long lasting alias evergreen atau bisa dikenang sampai hari ini. Salah satunya lagu Inikah Cinta. Lagu ini juga yang pertama kali terngiang di benak Farida Agustina, saat diajak kembali bernostalgia ke era 90-an. Wanita kelahiran Surabaya, 7 Agustus 1980 ini mengaku, memiliki banyak memori indah pada masa itu.

“Bicarain masa lalu, tepatnya saat era 90-an rasanya enggak cukup sebentar. Ada banyak kenangan yang enggak akan habis untuk diceritakan. Dulu, di era itu belum ada gadget, internet juga kayaknya hanya perusahaan-perusahaan besar yang punya. Kita komunikasi lewat telepon rumah, warung telepon (wartel), atau telepon koin. Saat itu, keluarga saya bisa dibilang sederhana tapi cukup mampu, jadi telepon di rumah tidak hanya satu, kalau pacar saya nelepon nanti buru-buru ngangkat, soalnya takut keburu diangkat bapak dari kamar,” jelasnya

Wanita yang sempat berpindah-pindah ke beberapa kota ini juga mengaku, dirinya cukup gaul pada masanya. “Zaman itu belum ada portal musik seperti sekarang. Kita dengar musik dari radio, kaset atau CD. Biasanya orang tertentu saja yang punya. Saya sering dapat mixtape dari kakak kelas dan pacar, isinya lagu-lagu cinta. Kita juga sering membuat kliping majalah, jadi majalah Hai, Aneka, Gadis itu kita gunting dibikin kayak buku jurnal, poster-poster dipasang di tembok rumah, pokoknya saat itu merasa paling gaul deh,” paparnya.

Farida mengatakan, pada era yang serbasulit saat itu remaja, dituntut untuk mandiri dan menjalani proses dengan sabar. Tidak ada hal-hal yang instan seperti masa ini. Meski demikian, Farida tidak pernah membandingkan kehidupannya dengan anak-anaknya. Alumnus Jurusan Hukum Trisakti ini menambahkan, anak-anak kita, tidak hidup di era kita jadi tidak bisa kita bandingkan, kita yang harus bergerak mengikuti zaman.

Untuk mengobati rasa rindunya, Farida sering mendengarkan lagu-lagu atau kembali memutar film lama dengan suami. Beruntung sempat hadir beberapa film yang kembali mengulas era 90-an, seperti film berjudul Bebas, rasa rindu Farida dan suami sedikit terobati.

Selain Farida, Rizka Febrianti juga mengaku, rindu saat mengulas masa lalu. Wanita yang berprofesi sebagai penjahit ini mengaku, banyak hal-hal di era 90an yang mulai menghilang. “Sejujurnya saat saya dulu lulus SMA pada 1996, saya bingung mau ke mana dan ngapain. Beruntung pada masa itu masih banyak tempat kursus di mana-mana. Akhirnya saya mengikuti nasihat bulek (panggilan bahasa jawa untuk bibi-red) saya untuk ikut kursus menjahit. Setelah menikah, saya ikut suami ke Banten dan akhirnya membuka tempat jahit sendiri,” terang warga Kramatwatu ini.

Memang benar pada era 90-an tempat kursus menjamur di mana-mana. Sekarang, hanya ada beberapa tempat kursus yang dapat bertahan, karena masyarakat lebih memilih belajar apa pun melalun media online.

Kini, meski hampir dua dekade berlalu, musik, fashion style, kuliner dan lainnya masih tetap digandrungi, tak terkecuali oleh generasi milenial dan generasi Z. Era di mana kuliner memiliki keunikan tersendiri pada rasa makanan dan minumannya yang selalu terkenang hingga saat ini. Era di mana buku bacaan dan film menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan untuk mengisi waktu. Era 90-an, era yang  dirindukan oleh kebanyakan orang dari berbagai keunikan yang dimilikinya.

Hal ini yang menjadikan tema 90-an masih relevan untuk dijadikan event di kota-kota besar. Salah satu event besar yang sempat menjadi sorotan adalah the 90’s festival. Event ini hadir dengan nuansa musik yang akan menjawab kerinduan para pelintas masa 90-an. Musisi-musisi terbaik dari masa 90-an yang kini sulit ditemukan akan reuni kembali dan bermain kembali di acara the 90’s festival. Selain event tadi, banyak juga event seputar kuliner, musik hingga fashion yang mengadopsi tema 90-an yang siap membawa pengunjung terbang ke masa lalu. (fikar-dyah zetizen/zee/air/ags)