Pasangan Suami Istri Ini Sering Diejek Tapi Tetap Sabar

Tuhan menciptakan mahluk-Nya berpasang-pasangan, meski terkadang dibumbui ketidaksempurnaan, namun itu bukan alasan untuk menyesali keadaan. Kisah kali ini datang dari sebuah kampung di Kabupaten Serang. Seorang penggembala kambing yang hidup sebatang kara, menikmati hari-hari dengan bahagia.

Lelaki yang bisa kita sapa Tajul (35) bukan nama sebenarnya, menggantungkan nasib pada lima kambing warisan orangtua. Ia yang sejak kecil tak pernah mengenyam pendidikan lantaran memiliki kelainan yang membuatnya tak bisa berpikir tajam dan berkomuikasi dengan baik, membuat Tajul sering diledeki orang.

“Jul, Jul, kambing loe hilang satu, Jul, dibawa orang,” kata seorang pemuda. Mendengar hal itu, ia langsung berlari ke tempat kambing-kambingnya makan rumput, saat dilihat ternyata masih lengkap. Ketika kembali dan mengatakan tentang kambingnya ke para pemuda, mereka malah tertawa terpingkal-pingkal.

Parahnya, hal itu terjadi berulang kali. Menganggap Tajul lelaki rendahan dan bisa jadi bahan tertawaan, orang-orang sudah biasa mengerjainya bahkan menular pada anak-anak kecil. Seolah bukan hal tabu ketika anak-anak menganggap Tajul layaknya teman seusia mereka yang bisa dihina. Tak satu pun orang yang melarang.

Meski begitu, Tajul tak pernah marah. Ia yang tinggal di gubuk kecil seorang diri, selalu menebar senyum dan paling sigap jika ada kegiatan kemasyarakatan. Lantaran sikap baiknya itulah, terkadang Tajul mendapat bantuan berupa sepiring nasi dari warga. Subhanallah.

Hingga usia beranjak dewasa, Tajul masih asyik menikmati kesendirian. Ketika orang lain memiliki pasangan hidup, ia masih setia menjalani hari dengan kambing-kambingnya. Bukan karena tak ingin mengakhiri masa lajang, ada hal lain. Beberapa kali, Tajul sempat meminta dicarikan jodoh oleh ketua RT dan tokoh masyarakat.

Apesnya memang, tak ada wanita yang mau dengan lelaki sepertinya. Meski sudah ditawarkan ke sepuluh wanita mulai dari yang biasa sampai janda sekalipun, mereka tetap mengelak saat tahu nama Tajul yang mencari belahan jiwa. Ya ampun, tega banget sih tuh para wanita.

Sampai pada suatu hari, seolah Tuhan menjawab keinginan Tajul, dipertemukanlah lelaki penggembala itu dengan seorang wanita tetangga desa, sebut saja namanya Munah (33). Memiliki nasib sama, dikucilkan masyarakat dan mempunyai kekurangan fisik, keduanya setuju mengikat tali pernikahan.

“Ya kaki saya sejak kecil sudah begini, jadi enggak bisa berjalan normal. Pas ketemu sama Kang Tajul, ya merasa nyaman saja gitu,” ungkap Munah pada Radar Banten.

Singkat cerita, menikahlah Munah dan Tajul. Meski dengan pesta sederhana dan apa adanya, mereka tampak bahagia. Tajul yang mengenakan kemeja putih celana bahan dan peci hitam, berulang-kali melampar senyum pada tamu undangan. Setelah sekian lama, akhirnya menikah juga. Ciyeee.

Tak jauh berbeda dengan Tajul, Munah pun merasakan hal sama. Ia yang bisa dikatakan menjadi perawan tua, akhirnya menemukan belahan jiwa. Keluarga dan saudara pun turut berbahagia, Munah tak lagi sendiri dan sudah bersuami. Kini, mereka bersiap mengarungi mahligai rumah tangga yang penuh misteri.

Di awal pernikahan, Tajul menjadi suami yang penuh perhatian. Meski terkadang sikapnya membuat Munah kebingungan, lama-kelamaan, mereka sudah bisa saling mengerti keadaan masing-masing. Munah yang tak bisa berjalan jauh kerap digendong atau dipapah oleh Tajul, sang suami yang tak bisa membaca dan berbicara dengan baik sering dibantu Munah, pokoknya, mereka saling melengkapi. Duh, so sweet-nya!

“Ya kita sih dijalanin saja, Kang. Mau bagaimana kondisi fisik kita, kan yang namanya rezeki mah sudah ada yang mengatur,” katanya.

Munah anak kedua dari enam bersaudara, ayah-ibunya sudah tua renta dan tak lagi bekerja. Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia membantu saudara mengerjakan apa saja yang ia bisa. Kalau sedang musim panen, Munah membantu menjemur padi. Kalau sedang ada kerjaan rumah, ia bisa menjadi kuli cuci atau bersih-bersih. Apa pun dilakukan asalkan halal.

Lantaran Tajul yang tak punya apa-apa belum bisa membelikan rumah, mereka memutuskan tinggal di rumah keluarga Munah. Hebatnya, semua menerima Tajul apa adanya. Mungkin inilah yang dinamakan berkah, meski hidup kekurangan, tapi semua dimudahkan.

Enam bulan usia pernikahan, baik Munah atau pun Tajul semakin menunjukkan kemesraan. Tak peduli pada omongan orang, mereka menikmati kebersamaan dengan jalan berdua menyusuri perkampungan menuju rumah saudara yang mengundang untuk datang.

Hingga sampailah keduanya di kampung Tajul yang penuh kenangan. Saat langkahnya memasuki perkampungan, beberapa warga menyapa dengan senyum penuh tanda tanya. Ada juga yang hanya ketawa-ketiwi melihat mereka berdua. Tajul sih biasa saja, tetapi Munah tampak tak nyaman dan cenderung ingin melawan.

“Orang-orang tuh pada aneh, kayak baru pertama kali lihat orang jalan berdua saja,” tukasnya.

Saat melewati persimpangan jalan dan tampak segerombolan pemuda yang duduk berkumpul, Tajul menghentikan langkah. Munah pun heran dan bertanya, namun bukannya menjawab, Tajul malah menarik napas panjang dan lekas melanjutkan langkah.

Seolah sudah memberi pertanda, apa yang ditakutkan Tajul terjadi juga. Saat tepat di depan para pemuda kampung, mereka meneriaki Tajul sambil tertawa terbahak-bahak. Parahnya, bukannya hanya Tajul yang diolok-oloki, Munah juga kena jadi bahan ledekan.

Apa mau dikata, meski Tajul terlihat tenang seolah tak ada masalah, Munah tak bisa mengontrol diri dan cepat terbakar emosi. Dibalasnya teriakan para pemuda sampai Munah hampir terjatuh. Namun, bukannya mengerti, mereka malah semakin menjadi-jadi. Aih-aih, memang mereka ngomong apa sih Teh?

“Masa Kang Tajul dibilang Tajul Bego kawin juga, terus saya diteriakin perempuan pengkor istri Tajul. Kan kesal,” tuturnya.

Di tengah kemarahannya, Munah mengambil sebongkah batu jalan dan hendak melemparkan ke para pemuda. Namun dengan sigap, Tajul mencegahnya dan merebut batu di tangan sang istri. Sontak Munah semakin emosi. Hingga akhirnya mereka pergi dengan wajah penuh emosi.

Sepanjang perjalanan, Munah tak henti-hentinya memarahi Tajul yang tak berdaya. Namun dengan lembut, sang suami menyabarkan sang istri. Munah pun tak lagi mengoceh dan bersikap seperti semula. Wih, memang Kang Tajul ngomongnya gimana, Teh?

“Katanya, biarin orang ledekin kita, yang penting kita enggak menyakiti hati mereka,” katanya meniru ucapan sang suami.

Hingga hari ini, Tajul dan Muna hidup bersahaja dengan penuh kesederhanaan. Subhanallah.

Semangat ya Kang Tajul dan Teh Munah, semoga sehat selalu dan hisup sejahtera. Amin. (daru-zetizen/zee/ags/RBG)