Pasar Kranggot Kembali Semrawut

0
477
Para pedagang kembali membuka lapak di sepanjang akses masuk Pasar Kranggot dan Sub-Terminal Pasar Kranggot. Sebelumnya Disperindag dan Satpol PP telah menertibkan para pedagang tersebut. Foto Bayu/Radar Banten

CILEGON – Kondisi Pasar Kranggot, Kecamatan Jombang, kembali semrawut. Para pedagang lagi-lagi membuka lapak di sepanjang jalan masuk pasar, baik di tepi irigasi maupun di depan ruko-ruko.

Tak hanya itu, sejumlah pedagang pun terlihat kembali membuka lapak di area Sub-Terminal Pasar Kranggot. Padahal, di sepanjang area itu, terbentang spanduk yang bertuliskan dilarang berjualan. Namun, hal itu tak digubris oleh para pedagang.

Sebelumnya, pada 6 dan 16 Agustus lalu Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Satpol PP Kota Cilegon memeringatkan para pedagang dan membongkar lapak menggunakan alat berat. Tetapi hal itu hanya bertahan beberapa hari saja. Belum genap sebulan, pedagang sudah kembali berjualan di area terlarang.

Di sisi lain, hanggar yang telah disiapkan oleh Disperindag untuk para pedagang masih kosong dan kumuh. Hanggar yang berada di samping kiri akses keluar pasar itu terlihat tak terawat dan dijadikan tempat menyimpan barang-barang.

Kepala Disperindag Kota Cilegon Tb Dikrie Maulawardhana menjelaskan, pihaknya bersama Satpol PP sedang membahas persoalan tersebut. Dia memastikan akan kembali menindak para pedagang. “Tim gabungan akan kembali turun menertibkan mereka dan memaksa mereka masuk ke hanggar yang ada,” ujar Dikrie, Rabu (4/9).

Pada prinsipnya, kata Dikrie, Pemkot Cilegon tidak akan membiarkan pelanggaran tersebut tetap dilakukan oleh para pedagang dengan berbagai macam alasan apa pun. Sementara itu, para pedagang mengaku nekat kembali berjualan di sepanjang jalan dan sub-terminal agar barang jualan mereka cepat laku terjual.

Menurut para pedagang, posisi hanggar yang disiapkan oleh pemerintah tidak strategis dan lapak yang disiapkan berukuran kecil. “Apalagi barang-barang seperti cabai, bawang, dan tomat itu kan enggak awet. Cepat busuk. Kalau tak cepat kejual, nanti busuk, rugi kita,” ujar Udin, salah seorang pedagang.

Udin menjajakan barang dagangannya berupa cabai, bawang, tomat, dan sejumlah sayuran di depan ruko. Ia mengaku sudah mendapatkan izin dari pemilik ruko. Dia berdalih, area yang ia tempati bukan bagian dari jalan akses masuk, tapi area milik ruko. “Kita mah pengennya enggak apa-apa diizinin di sini yang penting kan enggak makan jalan,” tuturnya.

Pedagang lain, Suryadi pun menuturkan hal yang sama. Menurutnya, posisi lapak menentukan seberapa banyak barang jualan bisa terjual. Terlebih, menurutnya kecenderungan para pembeli enggan masuk ke dalam area pasar, dan lebih suka membeli di pinggir jalan. “Pembeli juga kan pengennya praktis. Kalau ke dalam kan harus markirin motor, terus jalan lagi, ribet,” ujarnya. (bam/ibm/ags)