Pasien BPJS: Jangan Batasi Fisioterapi

0
88

SERANG – Pasien fisioterapi berharap tidak ada pembatasan terhadap pelayanan yang akan diterima di rumah sakit dengan menggunakan BPJS Kesehatan. Apalagi, semangat awal BPJS Kesehatan adalah menggunakan asas gotong royong.

“Dulu kan katanya gotong royong, yang sehat membantu yang sakit. Tapi harapan yang dulu kurang dipenuhi sekarang,” ujar salah seorang perempuan yang enggan disebutkan namanya saat akan melakukan fisioterapi di RSUD dr Dradjat Prawiranegara, Kota Serang, Rabu (1/8).

Lantaran terjadi pengapuran di tumitnya, ia mengaku membutuhkan fisioterapi. Selama ini, setelah melakukan fisioterapi, kondisi tubuhnya juga semakin membaik.

“Seminggu saya dua kali melakukan fisioterapi. Tentu apabila ditanggung BPJS, kami sebagai pasien merasa terbantu,” ujarnya. Meskipun ia tak terdampak pembatasan pelayanan, tetapi ia memikirkan pasien lain yang harus menjalani fisioterapi lebih dari dua kali dalam sepekan.

Sejak pukul 07.30 WIB, pasien fisioterapi sudah mengantre di depan ruang Rehabilitasi Medik di RSUD dr Dradjat Prawiranegara. Semakin siang, jumlah pasien juga semakin bertambah. Kondisi pasien juga bermacam-macam, ada yang hanya dipijat, ada yang diterapi dengan menggunakan alat-alat medis hingga ada yang diajarkan bicara dan berlatih berjalan. Usia pasien juga beragam, mulai dari balita hingga lanjut usia.

Novan, warga Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengaku selama ini terbantu dengan BPJS Kesehatan untuk mendapatkan pelayanan fisioterapi tanpa biaya. “Kalau memang dibatasi, tentu ada pasien yang membutuhkan penanganan yang lebih dari dua kali seminggu. Kasihan juga,” ujarnya. Ia berharap, lantaran fisioterapi itu sangat penting manfaatnya bagi pasien maka pelayanan tidak dibatasi.

Selama ini, Novan mengalami sakit di kaki apabila terlalu lama berdiri. Setelah mengikuti fisioterapi selama beberapa kali, kondisinya semakin membaik.

Seorang ibu paruh baya yang enggan disebutkan namanya juga berharap pelayanan fisioterapi tetap ditanggung BPJS. Selama ini, ia mengaku sakit di bagian lehernya sehingga memerlukan pelayanan fisioterapi.  Sebelum menjalani fisioterapi, ia mengaku konsultasi terlebih dahulu ke dokter saraf dan dirujuk untuk menjalankan fisioterapi.

Sementara itu, salah seorang ibu yang anaknya belum dapat berbicara mengaku akan menjalani terapi wicara agar buah hatinya dapat berkomunikasi dengan baik. “Saya mau coba terapi wicara karena anak saya belum bisa bicara,” ujarnya.

Ia mengaku melakukan terapi wicara lantaran mendapatkan rekomendasi dari beberapa orang. Ia juga berharap, pelayanan fisioterapi tidak dibatasi BPJS. “Apalagi kan anak saya lagi belajar bicara, butuh waktu,” tuturnya.

Sementara itu, pihak RSUD Kota Cilegon enggan memberikan keterangan terkait peraturan BPJS Kesehatan yang membatasi layanan fisioterapi. Humas RSUD Kota Cilegon Tursini mengaku belum bisa memberikan keterangan karena Direktur RSUD Kota Cilegon Zainoel Arifin sedang tugas dinas ke Aceh. “Kita tidak bisa memberikan keterangan apa pun untuk sementara ini,” ujarnya. Menurutnya, Zainoel Arifin diagendakan kembali ke Kota Cilegon hari ini.

Pantauan Radar Banten, kegiatan pelayanan medis di RSUD Kota Cilegon masih berjalan seperti biasa. Semua pelayanan medis menggunakan BPJS Kesehatan berjalan seperti sebelum-sebelumnya. (Rostinah-Bayu M/RBG)