Pasokan Air Terhenti, Pelanggan PDAM Resah

SERANG – Pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Albantani, Kabupaten Serang, mengungkapkan keresahan karena tidak lagi mendapatkan pasokan air bersih selama tiga bulan. PDAM milik Pemkab Serang itu terpaksa menghentikan pasokan air bersih ke rumah-rumah pelanggan karena tidak dapat beroperasi sebagai dampak proyek normalisasi saluran irigasi Pamarayan Barat.

Penghentian pasokan air dilakukan sejak 17 Juli hingga 31 Oktober 2019. PDAM sudah mengumumkan secara beruntun agar diketahui warga.

Para pelanggan PDAM Serang di Desa Tonjong, Kecamatan Kramatwatu, mengatakan, resah terkait informasi penutupan pasokan air bersih. Sebab, warga sangat tergantung dengan pasokan air bersih dari PDAM.

Salah satu pelanggan bernama Buhari mengatakan, ia dan keluarga memanfaatkan air bersih PDAM untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena di wilayah ini (Tonjong-red) kandungan air bawah tanahnya tidak layak konsumsi. “Di sini airnya asin karena dekat dengan laut,” katanya ditemui Radar Banten di kediamannya, Kamis (18/7).

Kata dia, dirinya tidak memiliki sumber air lain yang bisa dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan air bersih sehari-hari. “Kalau selama tiga bulan (pasokan air-red) ditutup, bisa enggak mandi kita,” ujarnya.

Warga lainnya, Sanwani, mengeluhkan hal yang sama. Sejak musim kemarau, ia berinisiatif mengebor air bawah tanah. Namun, airnya berasa asin dan lengket. “Ini saya ngebor 12 meter, airnya keluar deras, tapi rasanya asin, kalau mandi pakai sabun juga enggak kerasa makanya kita sangat bergantung sama air PDAM,” katanya.

Staf Desa Tonjong Mukromin saat dikonfirmasi mengatakan, di desanya ada 900 rumah yang menggunakan air PDAM. Ia mengaku mendapatkan banyak keluhan dari warga terkait informasi penutupan layanan dari PDAM Serang.

“Tapi, kita dari desa belum ada surat pemberitahuan dari PDAM, hari ini (Kamis, 18/7) masih jalan sih airnya,” katanya.

Ia mengatakan, informasi penutupan pasokan air dari PDAM baru kali ini dilakukan yang  membuat warga waswas.

“Kalau sebelumnya ada penutupan paling hanya satu hari karena ada perbaikan saluran, kalau sampai tiga bulan baru kali ini,” ujarnya.

Mukromin berharap, informasi penutupan pasokan air PDAM tidak benar-benar terjadi. Karena, warga akan kesulitan air bersih lantaran tidak ada sumber air lain. “Kalaupun benar-benar harus ditutup, paling tidak jangan sampai tiga bulan lah,” ucapnya.

Keluhan senada disampaikan warga Perumahan Taman Ciruas Permai (TCP), Kecamatan Ciruas, Ernawati. Kata dia, air layanan PDAM di rumahnya sudah terhenti sejak 18 Juli 2019. Sejak air layanan PDAM terhenti, Ernawati mengaku memanfaatkan air bawah tanah yang disedot menggunakan mesin penyedot air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Pakai Sanyo (menyebut mesin penyedot air-red), tapi keluarnya kecil banget,” keluhnya.

Ia berharap, kondisi tersendatnya layanan air bersih tidak berlarut-larut. Apalagi sampai pasokan air dihentikan selama tiga bulan. “Jangan sampailah. Kalau airnya sedikit, mau ngapa-ngapain juga susah,” tukasnya.   

Agus Salam, warga Kasemen, Kota Serang,  yang juga berlangganan PDAM Tirta Albantani mengaku, belum mengetahui rencana penghentian pasokan air bersih dari PDAM Serang. Terlebih, pasokan air yang ada di rumahnya masih normal.

“Sejauh ini belum ada pemberitahuan dan untuk sementara air masih lancar,” katanya kepada Radar Banten, Kamis (18/7).

Kata dia, jika ada penghentian pasokan air, dirinya masih memiliki cadangan sumber dari air sumur. Hanya saja, air dari sumur kualitasnya tidak baik.

“Di rumah saya ada sumur walaupun kualitasnya tidak sebaik air PDAM,” ucap Agus.

Bagi Agus dan warga sekitarnya, penghentian pasokan air bukan hal baru. Setiap musim kemarau sering kali tersendatnya pasokan air. Bahkan, tiga bulan yang lalu sempat ada penghentian pasokan air karena ada perbaikan sarana PDAM.

“Sekarang belum ada penghentian, hanya pada saat kemarau atau perbaikan unit utility-nya saja terkadang tidak lancar, dan ini tiga bulan lalu,” ungkapnya.

Ditemui terpisah, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengatakan, tidak bisa intervensi terkait penutupan saluran irigasi Pamarayan Barat yang membuat PDAM tidak lagi dapat memproduksi air bersih. Sebab, sumber air baku berasal dari saluran irigasi Pamarayan Barat. Bila saluran irigasi Pamarayan ditutup karena ada proyek normalisasi saluran irigasi, otomatis PDAM tidak dapat memproduksi air bersih. Kebijakan tersebut diambil oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3).

“Dengan berat hati (menghentikan pasokan air PDAM selama tiga bulan-red) kalau air bakunya tidak ada,” katanya.

Meski demikian, politikus Partai Golkar itu meminta PDAM untuk mencarikan solusi supaya tidak terjadi krisis air bersih di masyarakat. “Misalkan dengan memanfaatkan air baku lain, atau pengiriman tangki air bersih ke masyarakat,” ujarnya.

SISA AIR

Sementara itu, Humas PDAM Tirta Albantani Kabupaten Serang Halili mengatakan, informasi yang ia terima dari pelaksana proyek normalisasi saluran irigasi Pamarayan Barat sudah ditutup sejak 17 Juli 2019. Namun, saat ini masih ada sisa air yang bisa diolah dan disalurkan ke rumah warga. “Biasanya setelah ditutup itu satu dua hari masih bisa diolah,” katanya.

Halili memastikan, untuk wilayah Kecamatan Kramatwatu dan Bojonegara tidak akan mengalami krisis air bersih. Karena di-backup dengan sumber air dari Cibanten dan pasokan air dari royalti PT Sauh Bahtera Samudera (SBS).

“Jadi, PT SBS mengolah air juga dari Cibanten, nah PDAM mendapat royalti sekian persen dari yang diolah PT SBS, royalti itu bisa disalurkan ke masyarakat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, wilayah yang rawan krisis air bersih, yakni Kragilan dan Ciruas. Dua wilayah itu tidak bisa di-backup oleh air baku dari Cibanten. “Hari ini (kemarin-red) kita sudah mengirim enam tangki air bersih ke Kragilan dan Ciruas, tapi masyarakat belum ada yang merasa krisis air bersih,” ucapnya. (Rozak/Supriyono/RBG)