Pasrah, Punya Suami Doyan Bikin Masalah

0
176 views

Tini (39) nama samaran, tak pernah merasa nyaman selama menjalani rumah tangga. Suaminya, sebut saja Tono (40), tak pernah bisa beradaptasi dengan siapa pun, termasuk tetangga. Persoalan sekecil apa pun selalu dibikin besar oleh suami yang emosian sehingga tak jarang menimbulkan keributan dan keresahan orang. Situasi itu membuat Tini tinggal di mana pun selalu dimusuhi orang. Lantaran itu, Tini akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Tini tinggal di Bayangkara, Kota Serang. Saat ditemui Radar Banten, Minggu (28/7) pagi itu bersama anak lelakinya sedang sarapan bubur. Tak lama, Tini menerima telepon dan berbicara di ponselnya dengan nada emosi. Ketika ditegur, Tini mengaku sedang mempunyai masalah dengan mantan suaminya. Saat itu Tini langsung menceritakan kisah masa lalunya bersama mantan suami. Simak yuk ceritanya.

Diakui Tini, mantan suaminya mempunyai sikap tak ramah dan konyol terhadap siapa saja, terutama tetangga. Kondisi itu pun cukup menyiksa batin Tini karena kerap menjadi pelampiasan emosi orang lain yang tak suka dengan sikap suaminya. Situasi itu memaksa Tini sering pindah rumah karena selalu dimusuhi tetangga. Karena tidak ada solusi dan suami tidak mau mengubah sifatnya, akhirnya Tini memilih cerai. Rumah tangga yang sudah dijalani Tini selama belasan tahun bersama Tono pun harus berakhir. “Mas Tono tuh kekanak-kanakan, mudah tersinggung, terus enggak bisa ngontrol emosi meskipun terlibat masalah sepele,” kesalnya. Siram aja suami gitu mah Mbak.

Selama tinggal di mana pun, Tono tak pernah mau bergaul dengan masyarakat dan tetangga. Maka dari itu, setiap ada perkumpulan atau kegiatan kerja bakti Tono tak pernah diajak warga. Tini sering menasihati suaminya agar berbaur dengan masyarakat, tetapi yang ada Tini dimarahi. Lain dengan sifat Tini yang ramah, lembut, dan murah senyum. Sifat itu pula yang sedikit meredam kemarahan warga ketika mempunyai masalah dengan Tono. Namun, akhirnya Tini tidak tahan setelah masalah Tono berdampak terhadap anak-anaknya. “Orang-orang pada enggak mau anaknya berteman sama anak saya gara-gara tingkah suami yang galak ke orang,” keluhnya. Sabar ya Mbak.

Sejak statusnya masih berteman semasa di perkuliahan, Tini sebenarnya sudah sadar dengan karakter Tono yang emosian dan egois. Di kampus, Tono tak mempunyai banyak teman, apalagi sahabat dekat, ke mana-mana selalu sendiri. Hanya Tini dan beberapa teman lain yang masih mau berteman sejak semester pertama. Hal itu lantaran Tono selalu mau membantu jika Tini dalam kesulitan. “Orangnya keras kepala, terus enggak bisa rendah hati ke orang lain,” ujarnya. Lantas kenapa mau dinikahi Mbak?

Tini dan Tono sebetulnya pasangan serasi. Tini cantik, begitu pun dengan Tono yang lumayan gantenglah. Keduanya juga berasal dari keluarga berada. Tini anak seroang pengusaha, sementara Tono kedua orangtuanya berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN). Kehidupan mereka tercukupi dengan segala fasilitas dari orangtua. Hingga lulus kuliah, Tono menyatakan perasaannya terhadap Tini. Namun, tak segampang itu Tini menerima kehadiran Tono di hatinya. Dua bulan lebih Tono menanti jawaban Tini. Sampai akhirnya, Tini menerima cinta Tono setelah orangtua memintanya segera menikah. “Saya kira kalau sudah menikah mungkin Mas Tono bisa berubah dan jadi lebih dewasa,” ucapnya.

Tak lama, mereka melangsungkan pernikahan dengan pesta cukup meriah. Tini pun bersama suaminya tinggal di rumah pribadi salah satu kompleks di Kota Serang. Tahun pertama rumah tangga, masalah mulai muncul karena rumah mereka terendam banjir pas turun hujan deras, sementara rumah lainnya tidak. Tono mengamuk kepada pengelola perumahan dan ketua RT setempat. Sejak itu, hubungan keluarga mereka dengan tetangga sedikit merenggang. Akhirnya mereka memutuskan pindah dan membeli rumah di perkampungan, berharap bisa hidup lebih nyaman di lingkungan baru. Bukannya mendapat kenyamanan, masalah kembali timbul akibat sikap suaminya yang selalu mempermasalahkan hal sepele. Saat itu, Tono ribut dengan tetangga gara-gara masalah asap pembakaran yang dilakukan tetangga masuk ke rumah. “Suami saya ngamuk-ngamuk. Kebetulan saya waktu itu lagi hamil sampai batuk kena asap sih,” kenangnya.

Keributan antara Tono dan tetangga pun terjadi sampai harus dilerai oleh warga lain. Sejak itu, Tono dimusuhi orang-orang kampung. Karena sudah merasa tak nyaman, keduanya kembali memutuskan pindah dan tinggal bersama keluarga Tini. Namun, lagi-lagi Tono menjadi penyebab masalah dalam biduk rumah tangganya. Tono ribut dengan kakak Tini gara-gara hal sepele. Sejak itu, Tini mulai sadar jika suaminya belum dewasa dan imam yang baik baginya. Sampai akhirnya Tini menegur Tono. Bukannya menyadari kesalahan, Tono malah berbalik emosi dinasihati istrinya hingga terjadi keributan di antara keduanya. “Dia bentak-bentak saya di depan keluarga, makanya saya minta cerai,” kesalnya.

Sejak itu, Tono pun pergi dari rumah. Sebulan kemudian, Tono datang ke rumah untuk mengurus perceraian. Awalnya mereka berpisah baik-baik sampai anak mereka lahir. Setelah buah hati mereka beranjak balita, Tono memaksa Tini menyerahkan anak agar tinggal bersamanya. “Padahal pas cerai dulu sudah sepakat hak asuh anak ada di saya,” jelasnya. Yang sabar ya Mbak. Mudah-mudahan ada jalan terbaik. Amin. (mg06/zai/ags)