SERANG – Transparansi puskesmas di Kota Serang dinilai masih buruk. Penilaian ini berdasarkan penelitian Pusat Telaah Informasi Regional (Pattiro) Banten pada lima puskesmas di Kota Serang, yaitu Puskesmas Taktakan, Sawahluhur, Singandaru, Banten Girang, dan Rau. Kelima puskesmas tersebut berada di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Kasemen, Serang, dan Taktakan.

“Kelima puskesmas sesungguhnya secara fisik sudah sangat baik. Bangunan berdiri kokoh dan keadaannya juga bersih. Selain itu, jadwal dokter juga sudah terpasang, meski jadwal buka dan tutup puskesmas masih belum ada,” ungkap Peneliti Pattiro Banten Muhamad Riva’i kepada wartawan di Pokja Wartawan Kota Serang, Rabu (21/1/2015).

Dari sisi infrastruktur puskesmas di Kota Serang sudah baik tapi dari sisi transparansi dan akuntabilitas masih buruk.
Oleh sebab itu, Pattiro mendesak agar puskesmas sebagai salah satu badan publik wajib membuka informasi publik terkait biaya berobat yang dapat terlihat oleh semua masyarakat. “Masalah transparansi yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah tidak adanya daftar biaya berobat dan daftar harga obat. Padahal dalam standar pelayanan minimum harus ada daftar tarif. Standar minal sudah terpenuhi. Hanya transparansi dan akuntabilitas yang belum,” katanya.

Sementara itu, Divisi Akuntabilitas Pattiro Banten Angga Andrias mengatakan, berdasarkan data tahun 2012 angka kematian ibu dan bayi di Provinsi Banten masih tinggi. Dari 100.000 ibu yang melahirkan 369 diantaranya meninggal dunia padahal seharusnya angka kematian ibu maksimal berada pada angka 359. “Sementara untuk angka kematian bayi dari 1.000 kelahiran 100 diantaranya meninggal dunia padahal seharusnya maksimal angka kematian bayi berada pada angka 59,” kata Angga. (Fauzan Dardiri)