Atlet biliar PON Banten Adhi Baraja Falachi menjalani pelatda di Biliar Ramayana, Kota Serang, beberapa waktu lalu.

SERANG – Delapan atlet biliar PON Banten menjalani pemusatan pelatihan daerah (Pelatda) yang dipusatkan di Hokkiyo Biliar, Pasar Baru, Kota Tangerang. Konsentrasi pelatda tim asuhan Susanto saat ini adalah mempertajam akurasi bidikan. Tidak hanya membidik, efek pantulan bola juga diperhitungkan dengan matang.

Kepala Pelatih Biliar PON Banten Susanto mengatakan, pelatda tim asuhannya telah memasuki masa persiapan khusus yang mengutamakan pengolahan teknik dan taktik. Evaluasi terus dilakukan untuk menuju performa terbaik masing-masing atlet. “Kami harus kerja ekstra keras karena mimpi anak-anak adalah mempersembahkan yang terbaik bagi kontingen Banten di PON XIX Jawa Barat, September 2016. Kelemahan demi kelemahan terus kami benahi dan keunggulan terus kami pertajamkan. Secara global atlet kami masih lemah di mindset. Kalau mindsetnya lemah, maka taktik dan strategi tidak akan berjalan sesuai yang direncanakan. Namun berlahan tapi pasti kekuranagan tersebut terus terkikis,” kata pria yang akrab disapa Anto kepada Radar Banten, Rabu (13/7) siang.

Anto menambahkan, fokus pelatda adalah mempertajam akurasi bidikan. Masing-masing atlet memiliki gaya atau cara membidik bola, namun tetap harus memperhitungkan letak bola putih. “Mereka kan sudah atlet profesional, kalau urusan membidik tidak perlu diajarkan lagi. Yang perlu ditambah adalah tingkat akurasinya. Ada hitung-hitungannya sendai bola dibidik dari beberapa sisi. Kalau dalam olahraga biliar lebih dikenal dengan istilah ngefek (pantulan bola putih). Atlet bisa saja menembak dari sisi mana sesuai nalurinya, tapi yang perlu dipertimbangkan adalah pantulan bola putih setelah dibidik. Jangan sampai target bidikan berikutnya jauh dari bola putih. Ini yang tengah kami pertajamkan,” imbuhnya.

Selain mempertajam akurasi bidikan, lanjut Anto, ayunan tangan atlet saat memukul bola juga menjadi fokus penyempurnaan. Ia menilai, terkadang atlet masih memaksakan untuk memukul bola dengan tidak memperhitungkan gerakan atau ayunan tangan. “Olahraga biliar tidak bisa dipaksakan dan atlet harus mengikuti alur bola. Kalau dipaksakan sama saja bunuh diri. Ini yang harus kami benahi disisa pelatda ini,” tuturnya.

Manajer Biliar PON Banten Taufik Hidayat menyatakan, pihaknya akan mencari informasi kejuaraan untuk menerjunkan atlet sebagai ajang tryout guna sebagai evaluasi capaian hasil pelatda. “Kami sengaja mengambil momen kejuaraan untuk tryout karena ada atmosfer persaingan yang membuat atlet akan tampil lebih baik. Bukan hasil yang kami cari, tapi evaluasi atas kekurangan atlet yang akan kami petik,” ucapnya. (Andre)