Pelajar Ujung Kulon Tiap Hari Harus Melewati Jalan Rusak

Kondisi ruas jalan di Sumur terlihat becek. DOK. WARGA

SERANG – Koordinator aksi Andi Suhardi mengungkapkan, alasan warga melakukan unjuk rasa ke Pemprov Banten karena masyarakat Ujung Kulon setiap hari merasa khawatir terhadap nasib anak-anaknya yang pergi ke sekolah.

“Kami sudah berulang kali meminta Bupati Pandeglang segera membangun jalan, tapi janji tinggal janji, ujung-ujungnya itu jalan bukan kewenangan Pemkab Pandeglang. Padahal, anak-anak sekolah di Ujung Kulon, setiap hari harus mempertaruhkan nyawa untuk belajar ke sekolah. Berangkat subuh dengan naik truk terbuka, sementara jalan rusak parah,” ungkapnya.

Sejak 2011, Jalan Cibaliung-Sumur diusulkan Pemkab Pandeglang menjadi jalan provinsi. Harapannya agar pembangunan lebih baik. Namun, sejak 2012 menjadi jalan provinsi, tetap tidak ada pembangunan. “Sekarang statusnya sudah berubah lagi jadi jalan nasional. Kondisi jalannya tetap rusak parah,” tegas Andi.

Ia berharap, Pemprov dan DPRD Banten melakukan berbagai upaya agar nasib warga berubah dengan membangun jalan yang baik. “Sepanjang Jalan Cibaliung-Sumur, banyak SMA/SMK yang menjadi tanggung jawab provinsi. Jangan sampai menunggu anak sekolah meninggal dunia karena jalan rusak, baru Gubernur turun tangan,” katanya.

Tokoh masyarakat Cimanggu Kusroni berharap, Gubernur hadir di tengah masyarakat, jangan hanya menunggu laporan dari bawahan. “Lihat kami Pak, warga Ujung Kulon yang puluhan tahun menginginkan perbaikan jalan rusak. Kami tidak perlu diberikan bantuan uang, cukup dibangunkan jalan yang bagus saja agar anak kami bisa aman pergi ke sekolah,” tambahnya. (Deni S/RBG)