Pelaku Teror Pelemparan Batu di Tol Terpengaruh Tayangan di Televisi

Kapolres Serang AKBP Indra Gunawan (tengah) bersama Wakapolres Serang Kompol Agung Cahyono (kanan) menunjukkan barang bukti dan lima tersangka pelemparan batu di Tol Tangerang-Merak saat konferensi pers di Mapolres Serang, Senin (2/7).

SERANG – Polisi sudah menetapkan status tersangka terhadap lima pelaku teror pelemparan batu di Tol Tangerang-Merak di KM 49,50, Cikande, Kabupaten Serang. Teror yang mengakibatkan lima orang luka-luka ini dilakukan pelaku karena terinspirasi tayangan di televisi.

“Jadi, motifnya cuma iseng. Berdasarkan pendalaman yang kita lakukan, mereka ini cuma meniru dan ikut-ikutan setelah melihat tayangan di TV dan tempat lain,” kata Kapolres Serang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Indra Gunawan saat ekspos kasus di Mapolres Serang, Senin (2/7).

Polisi mengamankan kelima tersangka di dua tempat berbeda. Empat tersangka diamankan di Kawasan Modern Cikande dan satu tersangka lagi di Desa Babakan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, Sabtu (30/6).

Identitas kelima tersangka WK, warga Kampung Kamurang, Desa Bakung, Kecamatan Cikande, RN warga Kampung Sanggo, Desa Babakan, Kecamatan Bandung, dan BL warga Kampung Kalong Tegal, Desa Barengkok, Kecamatan Kibin. Lalu, RD warga Kampung Satir, Desa Pringwulung, Kecamatan Bandung, dan SL warga Kampung Satir, Desa Babakan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang.

“Lima orang ini sering nongkrong dan ngopi-ngopi di Modern (menyebut Kawasan Modern Cikande). Tapi, SL saat penangkapan tidak ada di sana. Dia kita amankan saat berada di rumahnya,” ujar Indra.

Berdasarkan penyelidikan polisi, inisiator aksi teror ini adalah WK dan SL. Keduanya mengaku pernah melakukan aksi serupa di atas overpass. Namun, karena meleset keduanya penasaran dan mengajak ketiga temannya untuk mengulang aksi tersebut.

WK dan SL tidak menemui kesulitan mengajak RN, BL, dan RD melakukan aksi pelemparan batu di atas overpass tol, Kampung Songgomjaya, Desa Songgom, Kecamatan Cikande. Karena merupakan teman menongkrong, kelima sekawan ini bersepakat melakukan teror.

Setelah itu, lima sekawan yang merencanakan aksinya di Kawasan Modern Cikande ini kemudian berangkat ke rumah WK. Di kediaman WK, kelima tersangka berangkat ke lokasi menggunakan satu sepeda motor milik saudara SL.

“Dari rumah WK ke TKP itu enggak jauh. Jadi, mereka cuma pakai satu motor saja. Motor lainnya disimpan di rumah WK,” ucap Indra.

Setibanya di lokasi, kelima tersangka mengambil bongkahan batu sebesar buah kelapa. Batu itu diperoleh dari material proyek pembangunan jalan di sekitar lokasi kejadian. Satu persatu tersangka melancarkan aksinya. Melalui celah overpass, mereka melempar batu ke bawah dengan sasaran mobil yang melaju ke arah Serang.

“Mereka pegang batunya satu-satu. Yang pertama melempar itu BL, terus, RN, WK, RD, dan terakhir SL. Selang waktunya cuma satu sampai satu setengah menit,” ungkap Indra.

Usai memastikan aksinya berhasil, kelima tersangka melarikan diri. Mereka kembali ke rumah WK untuk beristirahat, dan kemudian berpencar pulang ke rumah masing-masing.

“Pas kabur, mereka menganggap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal, mereka mendengar dan memastikan benturan batu itu kena mobil di bawahnya,” kata Indra.

Karena menganggap semua biasa saja, Sabtu (28/6), tersangka kembali berkumpul di Kawasan Modern Cikande. Mereka diamankan polisi di lokasi itu sekira pukul 23.00 WIB. Petugas tidak menemukan kendala saat melakukan pengamanan. Mereka, mengakui semua perbuatannya saat didatangi petugas kepolisian.

“Mereka ini pengangguran. Motifnya menurut pengakuan mereka karena iseng. Pas melakukannya, mereka lagi enggak ada kegiatan, terus terlintas begitu saja. Tapi, pencetusnya WK dan BL,” ujar Indra.

Saat ini, polisi terus mendalami motif yang dilakukan tersangka. Polisi mendapatkan keterangan bahwa tersangka di hari sebelumnya sempat mengonsumsi obat-obatan jenis tramadol. “Sebelumnya mereka memakai obat-obatan terlarang. Tapi, hari itu kondisi tersangka normal semua. Sudah kami tes urine, hasilnya juga negatif,” terang Indra.

Kelima tersangka dijerat Pasal 170 jo 406 KUHP tentang Kekerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. “Untuk yang mengakibatkan luka ringan, ancaman maksimalnya tujuh tahun,” jelasnya.

Sementara itu, tersangka WK mengakui perbuatannya bisa menimbulkan korban jiwa. Ia mengaku menyesal dan meminta maaf kepada korban yang terkena aksi pelemparan batu tersebut. “Cuma iseng doang, enggak ada yang nyuruh,” pungkasnya. (Rifat A/RBG)