Pelaku UMKM Tolak Kenaikan Elpiji

0
679 views
Penjual merapikan tumpukan tabung gas elpiji tiga kilogram di agen, Ciwaktu, Kota Serang, Jumat (17/1).

CILEGON – Rencana pemerintah menghapus subsidi elpiji tiga kilogram (kg) atau gas melon medapatkan penolakan dari sejumlah pelaku UMKM.  Mereka menilai, pencabutan subsidi dan naiknya harga elpiji tiga kilogram bisa mematikan perekonomiannya.

Sardi, salah seorang penjual gorengan di Kota Cilegon misalnya, ia menolak rencana pemerintah tersebut karena dianggap akan menyengsarakan masyarakat. Dengan dihapusnya subsidi maka harga elpiji tiga kilogram akan naik. “Sekarang serba mahal, harga gorengan segini saja udah dikeluhi, apalagi nanti kalau gas naik saya naikin lagi harga gorengannya,” ujar Sardi, Senin (20/1).

Kata Sardi, masyarakat yang usaha kecil-kecilan seperti dirinya akan merasakan dampak secara langsung bagi perekonomiannya. Ia khawatir akan gulung tikar jika semua harga kebutuhan naik. “Mau makan dari mana lagi saya Pak, kerja ke pabrik enggak bisa, jual gorengan semuanya pada mahal, ampun Pak beneran,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Marnimah, perempuan yang membuka warteg itu mengaku khawatir dengan rencana tersebut. “Biar jualan murah makanya kita pakai gas melon, kalau yang biasa mahal,” ujarnya.

Kata Marni, mayoritas pelanggan yang datang ke wartegnya karena harga makanan di tempatnya cukup murah. Jika harga gas melon naik, ia pun terpaksa harus menaikkan harga makanan atau mengurangi porsi. “Kalau dikurangi porsi makan nanti pada ngeluh, wong sing mangan nyari yang banyak tapi murah,” tuturnya.

Sardi dan Marni berharap pemerintah membatalkan rencana tersebut agar masyarakat tidak semakin merasa sulit. Pantauan Radar Banten di sejumlah toko dan agen, saat ini pasokan elpiji tiga kilogram masih terpantau lancar. Masyarakat belum alami kesulitan untuk memeroleh tabung gas.

Pun sama dikeluhkan para pelaku UMKM di Kabupaten Serang dan Kota Serang. Seorang pelaku usaha warteg di Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang Murniati mengaku sudah mendengar rencana pencabutan subsidi elpiji tiga kilogram. Ia mengatakan, gas elpiji menjadi bahan bakar usahanya setiap hari. Tingginya harga gas elpiji akan menambah pengeluaran usaha. “Sekarang apa-apa sudah mahal, ini juga gas elpiji katanya mau mahal lagi,” ujarnya.

Sunarya (40) salah satu pedagang gorengan di Pakupatan, Cipocokjaya mengaku kaget mendengar rencana pencabutan subsidi oleh pemerintah. Menurutnya, pencabutan subsidi akan berdampak pada kenaikan harga. “Astagfirullah, masa dicabut. Sekarang saja harga eceran Rp24.000. Kalau dicabut (subsidi-red) bisa naik lagi,” ujarnya saat berbincang dengan Radar Banten.

Kata pria yang telah berjualan sekira tujuh tahun itu mengaku, dalam seminggu biasa membeli dua sampai tiga tabung elpiji. Jika, harganya naik ia mengaku keberatan. “Sekarang saja harganya gak stabil. Apalagi nanti kalau sudah dicabut Subsidi. Bisa Rp40 ribuan berarti. Waduh makin mahal,” terangnya. “Paling menaikkan harga gorengan. Tapi nanti siapa yang mau beli. Kalau bisa mah enggak naik,” sambung Sunarya. (bam-jek-fdr-skn/air/ags)