PT MMS dan PJR Serang memusnahkan ribuan barang bukti pelanggaran natupang dan asongan di ruas Tol Tangerang-Merak. Pemusnahan dilakukan di KM 57, ruas Tol Tangerang-Merak, Kamis (15/3).

SERANG – Sejak 2016 sampai saat ini, pelanggaran naik turun penumpang (natupang) di ruas Tol Tangerang-Merak mencapai 9.939 perkara. Berdasarkan data PJR Serang, pada 2016 terjadi pelanggaran 5.679 perkara, 2017 sebanyak 3.549 perkara, dan sejak Januari 2018 sampai saat ini sudah mencapai 711 perkara.

Kepala Divisi Operasi PT Marga Mandalasakti (MMS) Ega N Boga mengaku, kerap melakukan penertiban narik turun penumpang itu. “Namun, kami tidak mempunyai kewenangan menindak. Selama ini, kami hanya preventif,” ujar Ega usai pemusnahan barang bukti pelanggaran natupang, Kamis (15/3).

Kemarin, MMS bersama PJR melakukan pemusnahan barang bukti pelanggaran yang ditemukan selama Februari-Maret sebanyak 50 tangga dan 20 termos pedagang asongan yang melakukan aktivitas di ruas tol. Tangga-tangga itu selama ini dimanfaatkan oleh warga untuk menerobos pagar pembatas kawasan di sekitar tol.

Ega mengungkapkan, ada 17 lokasi yang kerap dijadikan tempat pelanggaran natupang. “Namun, hanya empat lokasi yang paling sering dan biasanya dekat dengan industri,” ujarnya.

Kata dia, pemusnahan tangga itu merupakan bagian dari operasi keselamatan dan juga aksi lanjutan dari komitmen bersama yang ditandatangani oleh Astra Tol Tangerang-Merak bersama dengan Dirlantas Polda Banten, Kepala Induk PJR Korlantas Polri, Organda Provinsi Banten, serta berbagai perwakilan baik pengusaha bus, pengusaha pabrik, dan tokoh masyarakat yang ditandatangani pada 16 Oktober 2015 lalu. Komitmen itu untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di sepanjang ruas Tol Tangerang-Merak.

Ega mengatakan, keterbatasan moda transportasi dan juga pemahaman masyarakat terhadap fungsi tol masih kurang. “Berkembangnya industri di sekitar tol saat ini tidak semuanya dilengkapi dengan ketersediaan transportasi yang menjadikan alasan mereka memilih jalan pintas dengan naik dan turun di tol,” ujarnya.

Kepala Divisi Hukum dan Humas PT MMS Indah Permanasari mengatakan, selain pemusnahan barang bukti, ada beberapa upaya yang dilakukan MMS untuk meminimalisasi pelanggaran natupang seperti pembangunan pagar batu kali, village visit ke sejumlah desa yang berada di sekitar wilayah tol, sosialisasi langsung kepada para pelaku pelanggaran natupang dan pedagang asongan, serta penertiban dan penilangan yang dilakukan oleh PJR kepada sejumlah bus.

Kanit III PJR Serang Ipda Herdyanto mengatakan, sudah menyurati perusahaan-perusahaan bus yang kerap melakukan pelanggaran natupang. Bahkan, para pengusaha juga sudah dipanggil.

Ia mengaku, bus-bus yang kena tilang tak pernah jera. “Mereka kerap kembali melakukan pelanggaran,” ungkapnya.

Tak hanya SIM yang sudah ditahan, STNK, surat KIR, hingga pengandangan bus juga sudah dilakukan. Namun, pelanggaran itu tetap terjadi.

Kata dia, tak hanya bus, kendaraan lain juga kerap melakukan pelanggaran. Makanya, jumlah pelanggaran per tahun mencapai ribuan. “Berbagai upaya penindakan sudah dilakukan, tapi tetap saja membandel,” tandasnya.

Meskipun penumpang juga kerap naik dan turun di tol, Hendry mengaku selama ini belum melakukan penindakan kepada mereka. Namun, ia berharap ada kesadaran untuk keamanan bersama agar tidak naik dan turun di tol. (Ina)

BAGIKAN