Pelantikan Lembaga-lembaga NU: Fokus Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi

Kapolda Banten Brigjen Pol Tomsi Tohir, sesepuh NU KH Ariman Anwar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, dan Ketua PWNU Banten KH Bunyamin menghadiri pelantikan lembaga NU, Sabtu (1/12).

SERANG – Pimpinan dan pengurus lembaga-lembaga Nahdlatul Ulama harus mampu bersinergi dalam rangka merealisasikan visi utama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). Ada tiga visi utama PBNU saat ini, yakni pendidikan, kesehatan, dan perekonomian.

Demikian diungkapkan Ketua PW Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Banten KH Bunyamin pada pelantikan lembaga-lembaga NU bersamaan dengan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Rapat Koordinator Wilayah (Rakorwil) PWNU Banten di gedung PW NU Banten, Kota Serang, Sabtu (1/12).

Acara tersebut dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Gubernur Wahidin Halim, Kapolda Banten Brigjen Pol Tomsi Tohir, Rois Syuriah PWNU Banten Tb Abdul Hakim, Ketua MUI Provinsi Banten Dr AM Romli, pengurus cabang NU se-Provinsi Banten, badan otonom dan tamu undangan lainnya.

Keberadaan lembaga-lembaga NU yang secara struktur langsung berkoordinasi dengan PWNU diisi oleh berbagai latar belakang seperti kiai, akademisi, dan profesional. “Harapan sangat besar NU di Banten terus bergerak. Mari kita sama-sama bersinergi bersama menggerakkan NU di Banten,” ujarnya.

PWNU Banten, kata dia, ingin mengajak semua pimpinan dan jajaran pengurus wilayah, PCNU, dan pengurus lembaga untuk bergerak dengan apa yang menjadi fokus PBNU. Ketiga fokus tersebut, yakni bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. “Saya yakin-seyakinnya Banten akan maju. Kalau lembaga-lembaga NU ini bergerak,” katanya.

Untuk itu, kata dia, pengurus yang dilantik jangan hanya sampai dilantik, tapi bisa bekerja sama dan bersinergi melaksanakan tugasnya masing-masing lembaga. “Semua bisa melaksanakan tugasnya masing-masing. Insya Allah, dengan melaksanakan tugas masing-masing PWNU Banten bisa gerak dan akan maju,” terangnya.

Lebih lanjut, Bunyamin mengatakan, keberadaan lembaga-lembaga NU dalam merealisasikan program kerjanya bisa bersinergi dengan pemerintah, baik di pusat maupun daerah. “Kalau punya niatan lembaga maju maka sekaranglah saatnya,” katanya.

Adapun lembaga-lembaga NU yang dilantik, yakni Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LP-NU), Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LD-NU), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam-NU), Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU), Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZIS-NU), Lembaga Batsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU), Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU), dan Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU).

Selain itu, Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP-NU), Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU), Lembaga Pengembangan Tenaga Kerja Nahdlatul Ulama (LPTK-NU), Lembaga Falaqiyah Nahdlatul Ulama, Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT-NU), Lembaga Seni Budaya Muslim Nahdlatul Ulama (LESBUMI-NU) dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBPI-NU).

Gubernur Wahidin Halim dalam sambutannya mengatakan, saat ini Pemprov Banten sedang berjuang mewujudkan harapan-harapan masyarakat. Di antaranya, membangun infrastruktur, pemerintah bersih, moralitas masyarakat dengan iman dan takwa, akhlakul karimah. “Bantuan ponpes kita gelontorkan, tahun ini Rp20 juta. Tahun 2019 Rp30 juta, sebanyak 4.000 ponpes sudah saya anggarkan, dan saya akan tingkatkan dari tahun ke tahun,” ungkapnya.

Ia juga mencontohkan, pembangunan yang dilaksanakan Pemprov Banten salah satunya revitalisasi Kawasan Banten Lama. Ia berencana untuk melakukan hal yang sama pada tempat-tempat ziarah lainnya yang menjadi tempat-tempat peziarahan warga NU seperti Caringin, Cibuntu, dan yang lainnya akan dilakukan penataan. “Soal dukungan saya ke NU jangan diragukan, bapak saya, engkong saya NU, di Kampung saya enggak ada yang lain selain NU,” katanya.

Dalam sambutannya, Kapolda Banten Brigjen Pol Tomsi Tohir mengatakan, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Banten sangat erat keberadaannya dengan para alim ulama. “Saya meyakini kamtibmas akan berlangsung kondusif. Akan lebih sejuk. Mari bersama-sama menjaga kerukunan umat beragama dan menjaga kamtibmas,” katanya.

Pria yang belum sepekan menjabat sebagai kapolda Banten itu menjelaskan, pernah bertugas di pusat NU wilayah Jawa Timur. Saat ini ia amanatkan tugas di Provinsi Banten yang terkenal memiliki banyak pondok pesantren mencetak santri-santri. “Pusatnya Nahdlatul Ulama di Jawa Timur, dahulu saya pernah bertugas di Pamekasan dan Jombang,” katanya.

Rais Aam PB NU KH Miftachul Akhyar dalam memberikan nasihatnya mengatakan, aktif di NU memiliki tugas yang jelas, tapi tidak mendapatkan honor yang jelas. Meski demikian, hal tersebut menjadi spirit bagi pengurus lembaga-lembaga NU. “Tugasnya jelas, tapi gajinya tidak jelas. Itulah yang menguat pada pengurus yang dilantik,” katanya.

Ia menjelaskan, beberapa tahun lagi NU mendekati usia satu abad. Kata dia, usia 100 tahun merupakan usia yang mapan. Namun, sikap merasa mapan merupakan sebuah penyakit. “Jangan sekali-kali merasa mapan. Mapan itu penyakit. Maka, teruslah berjuang,” terangnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Kedung Tarukan, Surabaya, itu mengatakan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw menjadi spirit bagi kader dan pengurus NU karena nilai-nilai ajarannya tertanam melalui ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). “Kita tidak pernah bertemu Rasulullah tapi tugas kita mewujudkan perintah rasul, Aswaja miniatur Islam yang dibawa Rasulullah Saw,” katanya.

Ketua Umum PBNU Prof KH Said Agil Siradj mengajak untuk tetap menanamkan sikap toleran. Merawat dan menanamkan toleransi di NU, yakni ukhuwah islamiyah atau merawat sikap toleran sesama umat Islam, ukhuwah wathoniyah atau persaudaraan kebangsaan, dan ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama umat manusia. “Prinsip NU itu toleran. Itu bisa dilakukan kalau kita memiliki sikap akhlakul karimah,” katanya.

Menurutnya, NU hadir sejak 1926 fokus melakukan pembinaan di berbagai bidang seperti pendidikan, sosial, dan ekonomi. Ini menutut NU untuk berusaha memperkecil gap atau ketimpangan yang terjadi saat ini. Bagaimana NU meningkatkan jumlah masyarakat kelas menengah atau middle class. “Kalau middle class terbangun maka tidak akan terpengaruh informasi bohong,” terangnya.

Ia juga menegaskan, NU memberikan ruang dan mendukung kepada kader dan pengurusnya untuk berkiprah di berbagai profesi. Misalnya, pengusaha, politisi, akademisi, dan santri. “Tugas kita mengingatkan, misalnya ada kader yang fokus berbisnis, kita ingatkan agar berbisnis yang baik,” katanya.

Pada awal ceramahnya, kiai kelahiran Cirebon, 1953 itu menceritakan sejarah politik Timur Tengah terkait dengan sistem khilafah. Ia juga menyinggung konflik berkepanjangan di negara-negara yang mayoritas beragama Islam. “Fatwa hubbol wathan minal iman yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asyari sangat hebat dan keren, yakni menghormati perbedaan,” katanya. “Kalau di Timur Tengah tidak harmonis antara aktivis Islam dan nasional maka itu tidak terjadi di Indonesia,” sambungnya. (ADVERTORIAL)