Pelatihan Sablon untuk Wujudkan Sukaharja Mandiri

Ibu-ibu mem-packing kacang kupas asin di rumah Saepuloh, Kampung Tereup, Desa Sukaharja.

        TANGERANG Program pemberdayaan masyarakat oleh Pemerintah Desa Sukaharja, Kecamatan Sindangjaya, tahun ini, diisi dengan pelatihan sablon. Sasarannya, kalangan pemuda desa. Ya, program pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu fokus kegiatan yang diprioritaskan Pemerintah Desa Sukaharja.

        Kepala Desa Sukaharja Umi Kasanah mengatakan, pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat itu untuk membuka peluang usaha bagi pemuda desa. Melalui pelatihan sablon, ia berharap, bisa menjadi solusi menekan angka pengangguran di Sukaharja. Di desa ini, banyak lulusan sekolah menengah atas (SMA) yang tidak mendapatkan kesempatan kerja di pabrik-pabrik di Kabupaten Tangerang. Namun, paling banyak pengangguran adalah lulusan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

        ”Program itu bisa membantu untuk peluang usaha,” kata Umi saat ditemui Tim Saba Desa Radar Banten di kediamannya, Kampung Pasirgadung, Jumat (12/4).

Kepala Desa Sukaharja Umi
Kasanah

        Umi yang Kepala Desa Sukaharja hasil pergantian antar waktu (PAW) pada 2018 menerangkan, untuk melaksanakan program pelatihan sablon tersebut, Pemerintah Desa Sukaharja menyiapkan anggaran senilai Rp40 juta.

        ”Untuk awal, program akan menyasar sepuluh pemuda. Mereka yang terpilih kami rekrut, tidak sembarangan. Harus yang sudah punya pasarnya sendiri untuk nanti mendistribusikan hasil sablon atau konveksi. Sehingga, program ini tetap berjalan,” terang ibu 45 tahun penghobi renang itu.

        Umi berharap, pelatihan sablon itu juga bisa mewujudkan masyarakat Sukaharja yang mandiri. ”Semoga, masyarakat semakin maju. Bisa mandiri. Saya ingin bentuk usaha-usaha kecil. Diharapkan, perekonomian di Desa Sukaharja semakin maju dan meningkat,” ujarnya.

        Di desa seluas 571 hektare ini, ada pengusaha kacang kupas asin. Produk rumahan ini dijalankan oleh Saepuloh di Kampung Tereup sejak tahun 2000.

        Saepuloh saat dikonfirmasi soal usahanya menjelaskan, dalam sehari, ia bisa memproduksi kacang kupas asin 30 kilogram. Jumlah ini, diakuinya, lebih kecil dibandingkan saat ia mengawali usahanya. Sehari, bisa mencapai 0,5 sampai satu kuwintal.      

        ”Jumlah produksinya berkurang karena para pekerja yang mayoritas ibu-ibu berhenti dan memilih kerja di pabrik. Sekarang, ada sekitar sembilan ibu-ibu yang kerja. Lima orang yang kupas kacang, satu orang goreng kacang, dan tiga orang untuk packing,” terangnya.

        Saepuloh menuturkan, kacang kupas asinnya masih diproduksi secara manual, dari proses pengupasan hingga pengepakan. Meski begitu, produk rumahan ini mampu menyasar berbagai pasar tradisional di Kabupaten Tangerang. Yakni, Pasar Cikupa, Curug, Legok, Pasarkemis, dan Pasar Malabar di Kecamatan Balaraja. ”Harga jualnya ada yang seribu dan tiga puluh ribu (rupiah-red) untuk yang beratnya setengah kilo,terang Saepuloh.

        Rencana Pemerintah Desa Sukaharja, kacang kupas asin milik Saepuloh ini akan disasar menjadi salah satu usaha unit desa. Terlebih, Saepuloh membutuhkan mesin kupas kacang untuk mengembangkan usahanya. ”Kalau ada mesin, bisa membantu meningkatkan produksi kacang kupas asin ini,” tutup Saepuloh. (pem/rb/sub)