Pemain Organ Tunggal Nyambi Jualan Narkoba

Kapolres Lebak AKBP Dani Arianto (berpeci) didampingi Kasatresnarkoba AKP Endang Sugiarto (kanan) melakukan konferensi pers di depan Mapolres Lebak, kemarin.

RANGKASBITUNG – Kelakuan pria satu ini jangan dicontoh. Tidak puas dengan penghasilannya dari bermain organ tunggal, HN nyambi jualan narkoba. Akibat perbuatannya, HN ditangkap Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Lebak di Kampung Cibahbul, Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, pada Kamis (5/7) sekira pukul 23.30 WIB.

Dari tangan tersangka polisi berhasil mengamankan tujuh paket sabu-sabu dan dua paket tembakau gorila siap edar.

Informasi yang dihimpun Radar Banten, Satresnarkoba menerima informasi terkait peredaran narkoba di wilayah Rangkasbitung. Kapolres Lebak AKBP Dani Arianto kemudian memerintahkan jajarannya untuk melakukan penyelidikan terkait persoalan tersebut. Hasilnya, polisi menerima informasi tentang gerak-gerik HN yang mencurigakan. Ketika tersangka di Cibahbul, polisi menangkap tersangka dan menggeledah pakaiannya. Dari kantung celana tersangka, polisi menemukan bungkus rokok yang di dalamnya berisi dua paket sabu-sabu dan dua paket tembakau gorila.

Dari TKP, polisi menuju rumah tersangka di Kelurahan Rangkasbitung Barat. Di sana, penyidik berhasil mengamankan lima paket sabu-sabu siap edar yang disimpan di dalam salon, timbangan digital, seperangkat alat hisap sabu-sabu, dan uang tunai Rp1,2 juta.

Kapolres Lebak AKBP Dani Arianto menyatakan, tersangka sehari-hari berprofesi sebagai pemain organ tunggal di wilayah Rangkasbitung. Dia merupakan bandar kecil dan telah beberapa kali mengedarkan narkoba kepada masyarakat. Untuk itu, polisi langsung melakukan penyelidikan ketika menerima informasi tentang peredaran narkoba.

“Dia ini (HN-red) bandar kecil di Lebak. Kita bisa endus dan tangkap tersangka kemarin malam tanpa melakukan perlawanan,” kata Dani saat menggelar konferensi pers di Mapolres Lebak, kemarin.

Dari keterangan tersangka, narkoba jenis sabu-sabu dan tembakau gorila diperoleh dari wilayah Serang. Satu paket sabu dijual dengan harga Rp600 ribu. Dari hasil penjualan tersebut tersangka mengaku mendapatkan keuntungan sebesar Rp200 ribu.

“Kami menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat yang telah membantu kepolisian mengungkap kasus peredaran narkoba di Lebak. Saya harap kerja sama ini dapat terus ditingkatkan sehingga keamanan dan ketertiban di daerah dapat tetap terjaga. Terpenting, peredaran narkotika di masyarakat dapat diminimalisasi,” harapnya.

Kepala Satresnarkoba Polres Lebak AKP Endang Sugiarto menyatakan, polisi beberapa hari memantau gerak-gerik HN. Setelah dipastikan bahwa yang bersangkutan pengedar narkotika jenis sabu-sabu, polisi langsung menangkap HN di Kampung Cibahbul. Dari tangan tersangka diamankan narkoba jenis sabu-sabu dan tembakau gorila.

“Tersangka ini pemain organ tunggal. Dia telah melanggar Pasal 112 ayat (1) Juncto Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. HN terancam lima tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara,” tegasnya.

Endang mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengedarkan atau menggunakan narkoba jenis apa pun. Penyalahgunaan narkoba hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Apalagi, ancaman hukuman bagi pengedar narkoba cukup berat.

“Polres Lebak memiliki komitmen dalam memberantas peredaran narkoba di Lebak. Tidak ada toleransi bagi pengedar narkoba. Karena itu, polisi masih mengembangkan kasus HN,” katanya.

Sementara itu, HN mengaku mendapatkan narkoba jenis sabu-sabu dan tembakau gorila dari Serang. Dia mengklaim baru mengedarkan narkoba di wilayah Rangkasbitung. Barang tersebut dijual kepada kerabatnya dengan harga Rp600 ribu untuk satu paket sabu-sabu ukuran kecil. “Untungnya Rp200 ribu per paket,” ujarnya singkat. (Mastur/RBG)