Pemalas, tapi Lucu dan Setia

0
287

Ada yang tidak biasa dengan rumah tangga Siti (34), nama samaran. Suami Siti, sebut saja Juki (35), orangnya pemalas dan ogah mencari nafkah. Namun, Siti tetap bertahan dengan alasan Juki mempunyai selera humor tinggi selain bermodalkan kesetiaan. Oalah.

Siti bercerita, hanya suaminya yang bisa bikin dia terpingkal-pingkal. Juki orangnya humoris, suka berguyon, dan pandai mencairkan suasana di rumah. Selain itu, kesetiaan Juki juga teruji. Sayangnya, sifat Juki pemalas dan susah disuruh untuk mencari kerja. Hingga rumah tangga berjalan tujuh tahun, ekonomi keluarga pun hanya bergantung pada usaha warung istri. Meski begitu, Siti tetap bahagia dengan hari-harinya bersama suami.

“Padahal mah sering disindir sama keluarga, saudara, tapi Kang Juki santai saja orangnya,” aku Siti. Bukan santai itu, tapi enggak tahu malu alias dablek.

Siti sepertinya sudah hatam melihat tingkah Juki yang teramat santai menjalani hidup berumah tangga. Saat orang lain sibuk bekerja, berangkat pagi pulang malam, suaminya malah asyik tidur seharian. Namun, setiap Siti hendak memarahi Juki, ada saja tingkah Juki yang bikin Siti tertawa hingga membuatnya lupa pada emosinya.

“Ribut permasalahin sifat malas dia sudah sering pas awal menikah. Sekarang pasrah sajalah,” kesalnya. Sembur saja pakai air, Mbak.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Cikande, Siti terlihat kelelahan saat turun dari angkutan umum. Siti tak menolak diajak mengobrol tentang kisah rumah tangganya. Siti orangnya ramah, baik, dan lincah. Sambil menggendong anaknya, ia habis berbelanja pakaian baru dan bahan makanan. Di warungnya, Siti berjualan emping dan kue-kue khas Lebaran. Terlahir dari keluarga miskin, Siti pun sempat diminta mencari suami kaya agar dapat mengubah nasibnya. Maklum, wajah Siti masuk persyaratan lah untuk berubah menjadi orang kaya. Parasnya cantik, kulitnya putih, dan tubuhnya juga ideal sudah seperti model catwalk. Aura Siti tetap terlihat meski wajahnya tidak tersentuh makeup.

Juki tak jauh berbeda dengan Siti. Juki terlahir dari keluarga petani dan hanya tamatan pendidikan sekolah dasar (SD) karena terbentur biaya. Untungnya, Juki memiliki kelebihan, yaitu mudah bergaul dan pandai melucu. Perjumpaannya dengan Juki karena perjodohan dari orangtua. Siti tak bisa menolak saat ayahnya meminta Juki dan keluarga datang ke rumah untuk melamar Siti. Meski tanpa pacaran dan hanya proses kenalan selama satu bulan, Siti terima Juki apa adanya. Hubungan mereka sempat tak direstui ibunya yang ingin anak perempuannya mendapatkan jodoh yang sempurna, meski pada akhirnya mereka menikah juga.

“Ibu pengin saya cari suami yang mapan,” katanya. Ya namanya orangtua pasti ingin yang terbaik buat anaknya.

Siti dan Juki pun menikah dengan resepsi sederhana. Siti terima Juki yang saat itu masih berstatus menganggur, “Ya berharap rezeki datang setelah resmi jadi suami istri,” harapnya. Ngarep.

Sayangnya, harapan Siti tak sesuai kenyataan. Juki ternyata bukan lelaki yang seperti diidamkan Siti dan ibunya. Sifat malasnya sudah terlihat keesokan harinya. “Masa setelah malam pertama, paginya dia bangun jam dua siang. Kan saya yang malu,” keluh Siti. Mungkin kelelahan kali, Mbak.

Namun, Juki pandai membius hati keluarga Siti. Dengan guyonannya yang lucu, Siti dan keluarganya selalu tertawa lepas setiap berkumpul bersama Juki. Sejak saat itu, status Juki pun sudah tidak dipermasalahkan lagi. Hubungan Siti dengan Juki pun tetap berjalan harmonis. Setahun kemudian Siti melahirkan anak pertama. Kondisi itu berdampak pada kebutuhan ekonomi Siti yang semakin membengkak. Tapi, Juki tak kunjung sadar akan tanggung jawabnya sebagai suami. Tentu saja, situasi itu sempat memicu emosi Siti dan mulai menegur Juki hingga terjadilah keributan rumah tangga.

“Saya marahi, saya diemin, tapi dia diam saja dan enggak membalas,” sesalnya. Ya kali enggak balas, Mbak, namanya juga punya salah.

Termotivasi ucapan istri, Juki akhirnya mulai mencari kerja dan sempat diterima sebagai karyawan toko mainan berkat kenalan ayah Siti. Sayangnya, di toko mainan itu Juki hanya bertahan satu bulan. Alasannya enggak masuk akal, yaitu karena cuaca panas dan debu jalan yang membuatnya malas bekerja.

“Alasannya memang ngeselin. Suami kok kayak enggak punya tanggung jawab gitu,” kesalnya. Akal-akalan tuh, Mbak.

Namun, saat dimarahi Siti, Juki tetap bersikap santai. Perlakuannya terhadap keluarga Siti masih baik meski sering disindir. Sampai suatu hari, Siti mendengar tetangga yang bertengkar hingga memukul istri dan anaknya karena faktor ekonomi. Sejak itu Siti sadar dan bersyukur memiliki Juki yang penyabar. Meski malas, guyonan Juki dan kesetiaannya sedikit membahagiakannya Siti.

Kini, Siti dan Juki dikaruniai dua anak. Sampai saat ini rumah tangga mereka tetap berjalan harmonis. “Makanya, saya enggak mau marahi suami lagi. Biarin dia malas, yang penting setia,” pujinya. Eaaa lebay. Semoga langgeng ya, Mbak. Amin. (mg06/zai/ira)