Pembangunan Konstruksi Tol Serang-Panimbang Awal Tahun Depan

Serang Panimbang
Dok: bappeda.bantenprov.go.id

SERANG – Pembangunan konstruksi Tol Serang-Panimbang akan dilaksanakan awal 2019. Saat ini kontraktor PT Wika Serang-Panimbang sedang melakukan pengerasan lahan dan pembebasan lahan.

Manajer Operasional PT Wika Serang-Panimbang Muhamad Ali mengatakan, pengerjaan konstruksi tol dibagi dalam tiga seksi. Seksi 1 dari Serang hingga Rangkasbitung, seksi 2 Rangkasbitung hingga Cileles, dan seksi 3 dari Bojong hingga Panimbang. “Saat ini progresnya untuk seksi 1 sudah 9,69 persen dan ditarget selesai pada November 2019,” ujarnya kepada wartawan di ruang rapat PT Wika Serang-Panimbang, Kelurahan Kalodran, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Kamis (27/9).

Untuk seksi 3, lanjut dia, menjadi porsi pemerintah yang direncanakan mulai konstruksi pada Januari 2019 dan selesai pada Agustus 2020 bersamaan dengan penyelesaikan seksi 2. “Porsi BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) Serang hingga Cileles atau seksi 1 dan 2, dengan panjang 50,67 kilometer,” terangnya.

Selain pengerasan jalan, Ali mengatakan, pihaknya terus melakukan pembukaan jalan bagi lahan yang telah dibebaskan. Selain itu, PT Wika Serang-Panimbang juga membangun tembok pemisah antara kawasan proyek dan permukiman warga. “Ada 226 alat berat yang kami turunkan agar pengerjaan konstruksi bisa selesai tepat waktu,” katanya.

Direktur Utama PT Wika Serang-Panimbang Mulyana mengatakan, selain untuk penunjang akses transportasi, keberadaan Tol Serang-Panimbang juga memiliki manfaat yang penting khususnya bagi masyarakat sekitar. “Ada manfaat jangka panjang dari Tol Serang-Panimbang ini selain concern pada kepariwisataan. Tol bisa menjadi bagian ekspos pertumbuhan ekonomi,” terangnya.

Salah satu cara pemanfaatan tol bagi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar, kata dia, dengan melakukan pengembangan kawasan sekitar. Kawasan di samping ruas tol perlu ditata sehingga mampu menarik minat pengguna tol untuk singgah. “Disesuaikan mungkin dengan arsitektur kabupaten kotanya. RTRW (rencana tata ruang wilayah) untuk apa, di sini misalnya dijadikan kawasan pertokoan, di sana jadi sentral hasil pertanian, itu ranah pemerintah daerah,” katanya.

“Jadi, petani kelapa bukan lagi menjual kelapa, tapi diolah dulu sehingga nilai ekonominya meningkat. Untuk akses penjualan pun lebih mudah karena ada tol,” sambungnya.

Kata dia, sebagai bentuk dukungan pengembangan kawasan sekitar tol, Tol Serang-Panimbang akan dilengkapi dengan tujuh interkoneksi simpang susun. Ketujuh akses itu terdiri atas simpang susun Petir, Cikeusal, Rangkasbitung, Cikulur, Bojong, Cileles, dan Pagelaran. “Tol Serang-Panimbang dengan panjang 83,67 kilometer berawal dari junction Walantaka dari ruas Tol Jakarta-Merak KM 64+200 hingga keluar di Panimbang. Sepanjang 83,66 kilometer itu ada tujuh simpang susun,” pungkasnya. (Fauzan D/RBG)