Pembebasan Lahan Tol Serang-Panimbang, Per Meter Dihargai Rp150 Ribu

Ilustrasi

SERANG – Proses pembebasan lahan untuk pembangunan Tol Serang-Panimbang ditargetkan selesai tahun ini dengan harga tanah di angka rata-rata Rp150 ribu per meter. Pihaknya juga menargetkan pelaksanaan groundbreaking (peletakan batu pertama) dilakukan awal 2017.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banten Hudaya Latuconsina mengatakan, pembebasan lahan untuk pembangunan Tol Serang-Panimbang ditargetkan selesai tahun ini. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti progres pembebasannya. Ia mengaku belum mendapatkan laporan secara detail dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Progresnya belum kita terima secara pasti karena masih terus berjalan. Mudah-mudahan report per bulan bisa kita peroleh dari tanggal 29 Juni ke 29 Juli. Tapi, targetnya tahun ini harus selesai, bahkan diharapkan tahun ini groundbeaking,” kata Hudaya usai salat Jumat di Masjid Raya Albantani Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Jumat (15/7).

Menurutnya, dari semua lahan yang ada, pembebasan pada wilayah Walantakan Kota Serang agak sulit. Sebab, harga di lokasi tersebut cukup tinggi dibandingkan daerah lainnya. “Itu karena persoalannya di harga. Kalau kita cermati untuk alokasi yang disediakan antara Rp700 miliar sampai Rp900 miliar sehingga hasil identifikasi tim dengan melihat luas area, jatuhnya harga di angka rata-rata Rp150 ribu per meter dengan luas area 784 hektare,” jelas Hudaya.

Selain pembebasan lahan Tol Serang-Panimbang, termasuk juga pembebasan lahan Waduk Sindangheula, dan Waduk Karian. “Terlebih, di beberapa titik tanah untuk Tol Serang-Panimbang banyak tanah negara yang akan dilewati. Tapi, itu nanti koordinasi antara Kementerian BUMN, Kehutanan, dan BPN,” ujarnya.

Sementara, kata Hudaya, untuk lahan yang di daerah perbukitan sekira Kabupaten Pandeglang akan dilakukan pemangkasan secara khusus. “Cut and fill akan dilakukan. Kalau kita cermati kecuramannya tidak terlalu khawatir dan dari empat sesi itu adanya di sesi akhir antara Bojong-Panimbang,” jelasnya.

Sebelumnya, Gubernur Banten Rano Karno optimistis, groundbreaking pembangunan Tol Serang-Panimbang dapat dilakukan pada akhir tahun ini. Sebab, pembebasan lahan yang dilakukan berjalan berbarengan dengan pembangunan fisik tol. “Saya yakin tahun ini tol akan groundbreaking. Informasi pembebasan lahan tidak semua, jadi simultan,” katanya.

Selain itu, orang nomor satu di Banten ini juga telah memerintahkan Bappeda Banten untuk membuat perencanaan pembangunan yang sesuai dengan rencana desain Tol Serang-Panimbang. Termasuk pembangunan terminal agrobisnis dan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) di sekira area lahan yang dilalui Tol Serang-Panimbang.

Seperti diketahui, Pemprov Banten telah menetapkan lokasi (penlok) pembangunan Tol Serang-Panimbang sepanjang 84 kilometer. Pembangunan tersebut dilakukan dalam tiga seksi, yaitu Seksi I (Serang-Rangkasbitung), Seksi II (Rangkasbitung-Bojong) dan Seksi III (Bojong-Panimbang). Kepastian ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Penetapan lokasi Tol Serang-Panimbang oleh Gubernur Rano Karno di Pendopo Gubernur, KP3B, Kota Serang, Rabu (29/6).

Penandatanganan ini disaksikan oleh perwakilan dari Kementerian PUPR, Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian, Kementerian Pariwisata, Badan Pertanahan Naisonal RI, Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas, serta kepala daerah dari Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang.

Tol Serang-Panimbang akan dibangun lebih panjang daripada Tol Tangerang-Merak yang panjangnya hanya 72,45 kilometer.

Penetapan lokasi Tol Serang-Panimbang dilakukan setelah Pemprov Banten pada Mei lalu melengkapi seluruh dokumen persyaratan pembangunan tol sejak Presiden Jokowi meresmikan operasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung pada 23 Februari 2015. (mg04/air/dwi)