Pembunuh Santri Terancam 18 Tahun Kurungan Penjara

SERANG – AH (18) bakal cukup lama menghabiskan waktu di balik jeruji besi. Tukang bubur yang disangka telah membunuh Ar (18) ini terancam pidana selama 18 tahun penjara. “Kita jerat Pasal 338 KUH Pidana dan 351 ayat (3) KUH Pidana,” kata Kapolsek Cipocokjaya Komisaris Polisi (Kompol) Ucu Syarifullah ditemui di ruang kerjanya, Senin (19/3).

Duel maut itu terjadi pada Sabtu (17/3) malam. Peristiwa itu bermula saat AH mendengar keluhan sang pacar berinisial PP. Santriwati Yayasan Insan Madani itu mengeluhkan kerap menjadi bahan ejekan Ar. “Tiga hari sebelum kejadian, pacarnya ini mengadu kepada tersangka. Sering diejek. Dibilang tahfidz palsu karena enggak sesuai dengan perilaku,” kata Ucu.

Tak terima kekasihnya diledek, emosi AH tersulut. Warga Desa Margajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, itu menelepon seorang santri Ponpes Al Qomar. Melalui sambungan telepon, AH meminta agar dapat berbicara dengan Ar.

Namun, kedua pemuda itu justru semakin emosi. Keduanya sepakat persoalan tersebut diselesaikan dengan cara berkelahi. Keduanya sepakat bertemu di Kampung Cibebek, Jalan Mayabon, Banjarsari, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang. “Korban menantang, kalau berani datang (ke Ponpes Al Qomar-red),” kata Ucu.

Sebelum berangkat menuju Ponpes Al Qomar, AH menyelipkan sebilah pisau dapur di pinggangnya. AH menemui Ar tak jauh dari ponpes. Saat bertemu, kedua pemuda itu langsung terlibat duel. AH mengeluarkan pisau dapur dan ditusukkan ke dada kiri korban. “Luka tusukan mengenai jantung,” kata Ucu.

Tusukan itu membuat santri Ponpes Al Qomar jatuh tersungkur. Kucuran darah keluar dari dada korban. Peristiwa tersebut membuat rekan-rekan korban yang melihat duel tersebut kaget. AH dibantu rekan korban berusaha menolong Ar. “Korban sempat dibawa ke bidan setempat. Karena sudah tutup, dibawa ke RSUD Banten,” jelas Ucu.

Lantaran pendarahan cukup parah, nyawa korban tak terselamatkan. Polisi mengamankan pelaku saat berada di RSUD Banten. Jenazah korban sempat dibawa ke RS dr Drajat Prawiranegara untuk kepentingan autopsi. “Total ada empat orang saksi yang sudah kita periksa,” kata Ucu.

Dikatakan Ucu, berdasarkan pemeriksaan sementara, penyidik tidak menemukan adanya unsur perencanan dalam kasus tewasnya korban. “Pisau itu dibawa untuk menakut-nakuti korban saja,” kata Ucu. (Merwanda/RBG)