Pembunuh Siswi SMAN Cikeusal Divonis 10 Tahun

0
1.424 views

SERANG – Kasus pembunuhan dan pemerkosaan siswi SMAN Cikeusal, Kabupaten Serang, mencapai klimaksnya. Salah satu terdakwa yang juga otak pelaku, Er, divonis bersalah. Pelaku yang juga siswa SMAN Cikeusal itu divonis 10 tahun penjara.

Er (17) akhirnya dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Serang, Kamis (18/1). Pelajar SMA kelas XI itu terbukti bersalah menjadi otak pembunuhan dan pemerkosaan Siti Marhatusolihat (18), siswi SMAN Cikeusal kelas XII.

Perbuatan Er telah memenuhi dakwaan pertama Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlidungan Anak dan kedua, Pasal 80 ayat (3) undang-undang yang sama. “Dan, pelatihan kerja sebagai pengganti denda selama enam bulan,” tegas Ketua Majelis Hakim Emanuel Ari Budiharjo.

Pidana maksimal itu dijatuhkan kepada terdakwa lantaran majelis hakim tidak melihat ada hal meringankan atas kejahatan yang dilakukan. Sebaliknya, ada tiga hal yang memberatkan sebagai pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan. Yakni, alasan terdakwa melakukan kejahatan tersebut tidak sebanding dengan akibat yang ditimbulkan, terdakwa tidak menyesali perbuatannya karena setelah melakukan kejahatan terdakwa tidak merasa bersalah, dan terdakwa intelectual dader atau otak kejahatan.

“Sepeda motor dan ponsel merek Xiaomi milik korban dikembalikan kepada penuntut umum untuk digunakan dalam perkara lain,” kata Emanuel pada sidang yang dihadiri tim penuntut umum Kejari Serang yang diketuai Ani Indriyani.

Diuraikan majelis hakim, berdasarkan alat bukti di persidangan, diperoleh fakta bahwa kejahatan itu berawal dari pernyataan cinta terdakwa Er yang ditolak korban Siti pada 25 November 2017. Tapi, terdakwa belum menyerah.

Pada 28 November 2017, terdakwa kembali menyatakan cinta kepada korban. Cinta terdakwa kembali ditolak oleh korban. Merasa sakit hati, terdakwa pergi ke kediaman Rahmat (berkas terpisah). “Pelaku kemudian pergi ke rumah saksi Rahmat dan menceritakan kepada saksi bahwa cintanya ditolak,” kata anggota majelis hakim Slamet Widodo.

Rahmat menyarankan agar terdakwa menghabisi nyawa korban. Lalu, pada 30 November 2017, sekira pukul 16.00 WIB, terdakwa menghubungi korban. Dia mengajak korban bertemu. “Dijawab korban, ‘sebentar mau nganterin cireng dulu’,” kata Slamet Widodo.

Seusai mengantarkan pesanan ibu kandungnya, korban berhenti di depan sebuah konter ponsel, tempat terdakwa menunggu korban. Terdakwa berdalih meminta korban mengantarnya mengambil uang di daerah Kakupang, Cikeusal, Kabupaten Serang. “Kemudian korban dan pelaku pergi,” kata Slamet Widodo.

Namun, korban dibawa oleh terdakwa ke daerah Ciakar. Lagi-lagi, terdakwa menyatakan cinta kepada korban. “Udah geh, kalau enggak mau, jangan dipaksa,” kata Slamet Widodo menirukan penolakan korban.

Penolakan korban itu membuat terdakwa sakit hati. Setelah ditolak, terdakwa membekap mulut korban dan memanggil Rahmat dan Dodi (berkas terpisah) yang berada tak jauh dari lokasi. “Saksi Rahmat memegang tangan dan saksi Dodi memegang kaki sehingga membuat korban jatuh tertelungkup,” ucap Slamet Widodo.

Saat terjatuh, oleh terdakwa kepala korban dibenturkan ke batu sebanyak tiga kali. Benturan itu membuat korban tidak berdaya. Tubuh korban dibalikkan hingga telentang oleh terdakwa, Rahmat, dan Dodi.

Atas perintah terdakwa, Dodi menyetubuhi korban. Setelah korban disetubuhi Dodi, terdakwa ganti menyetubuhi korban. Tak lama, Rudi (berkas terpisah) datang ke lokasi. Rudi yang baru mengetahui peristiwa tersebut diminta membantu menyembunyikan mayat korban. “Korban dibawa ke atas sepeda motor korban dan disembunyikan ke semak-semak tak jauh dari kepala korban dijedotin (benturkan-red),” kata Slamet Widodo.

Seusai menyembunyikan mayat korban, terdakwa bersama tiga orang rekannya pulang ke rumah masing-masing. Pada pukul 20.00 WIB, terdakwa bersama tiga orang rekannya kembali ke lokasi penyembunyian mayat korban. Terdakwa bersama tiga orang rekannya membawa mayat korban ke pinggiran Sungai Cibongor.

Sesampainya di lokasi, terdakwa menggali tanah di pinggir kali menggunakan cangkul yang dibawa Dodi. Sementara, Rahmat membantu penerangan saat terdakwa menggali. “Saksi Dodi menjaga korban dan saksi Rudi menunggu di pinggir jalan,” kata Yusriansyah, anggota majelis hakim.

Mayat korban kemudian ditutup menggunakan sampah dan diapit menggunakan bilah bambu. Tujuannya, agar mayat korban tidak timbul ke permukaaan sungai.

Seusai pembacaan putusan, terdakwa dan penuntut umum menerima putusan tersebut. “Terima,” singkat Ani Indriyani.

KECEWA

Ayah kandung korban, Rofiedi, mengaku kecewa atas putusan majelis hakim. Dia berencana akan mengajukan judicial review atas Undang-Undang Perlindungan Anak dan sistem peradilan anak. “Pribadi kecewa. Tetapi, harus kita terima. Sesuai rencana, kita akan lanjutkan ke MK (Mahkamah Konstitusi-red),” kata Rofiedi seusai sidang.

Rofiedi menganggap hukuman yang setimpal atas perbuatan Er adalah hukuman mati. Sebab, perbuatan Er terhadap anak gadisnya itu tergolong biadab. “Justru di sini perlindungan anak yang mana. Pelaku atau si korban yang harus dilindungi. Saya bertanya kepada pemerintah, pembuat kebijakan, pembuat undang-undang. Kalau terjadi pada keluarganya bagaimana. Untung kami masih sabar,” beber Rofiedi.

Sementara, sidang pembacaan putusan yang dilaksanakan terbuka untuk umum itu dijaga ketat aparat kepolisian. Polisi berpakaian preman dan berseragam berjaga di pintu depan dan belakang ruang sidang. Beberapa personel polisi juga terlihat berjaga di dalam ruang sidang sebagai antisipasi peristiwa yang tidak diinginkan.

Hingga sidang selesai digelar, situasi berjalan kondusif. Keluarga korban terlihat lebih tenang saat meninggalkan ruangan sidang. (Merwanda/RBG)