Pemda Diminta Proaktif Respons Info BMKG

0
354 views
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (MKG) Wilayah II Tangsel Hendro Nugroho (kanan) ditemani Kabid Data dan Informasi Balai Besar MKG Sutiyono (kedua dari kanan) dan Kasubid Pelayanan Jasa MKG Wilayah II Darman Mardanis (ketiga dari kanan) saat berdialog dengan Pemred Radar Banten Delfion Saputra (kiri) di Graha Pena Radar Banten, Rabu (30/9).

SERANG – Pemerintah daerah baik Pemprov Banten dan Kabupaten Kota di Provinsi Banten agar proaktif merespons informasi yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagai upaya untuk mengurangi risiko bencana. Respons ini sangat penting agar dapat meminimalisasi korban bila bencana terjadi.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (MKG) Wilayah II-Tangerang Selatan, Hendro Nugroho mengatakan, sebagian besar wilayah Banten berpotensi terjadi bencana alam. “Kami berharap stakeholder (Gubernur, Bupati, Walikota dan lainnya-red) lebih proaktif merespons kondisi perkembangan,” ujar Hendro saat berdialog dengan jajaran redaksi Radar Banten di Graha Pena Radar Banten, Rabu (30/9).

Kata Hendro, yang perlu dilakukan dalam menangani bencana dimulai dengan pemetaan dan perencanaan mitigasi bencana. Karena mitigasi perlu dirumuskan dan dilaksanakan secara bersama-sama. “Respons Pemda Banten belum ada, terkait kajian ini belum ada. Walaupun ada yang telah mengeksposnya,” katanya.

Saat ini, kata Hendro, BMKG mengeluarkan informasi ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah daerah melalui group WhatsApp. Tujuannya agar penerima informasi merupakan pengambil kebijakan di tiap daerah. “Kami punya group WA (WhatsApp-red) apa pun informasi berkaitan dengan BMKG kami share di sana (group-red),” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Data dan Informasi pada Balai Besar MKG Wilayah II-Tengerang Selatan, Sutiyono, mengungkapkan, berdasarkan data BMKG, ada dua potensi bencana di wilayah Banten. Pertama, keberadaan megathrust di sepanjang pesisir laut selatan merupakan zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. “Kalau itu tidak bergerak seperti biasanya, maka akan mengakibatkan gempa bumi dan tsunami,” katanya.

Kedua, kata Sutiyono, hidrometeorologi di mana bencana alam terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi seperti angin kencang, hujan lebat, dan gelombang tinggi. “Dampaknya  banjir, longsor, puting beliung, dan kekeringan,” terangnya.

Hal senada disampaikan  Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa Balai Besar Meteorogi dan Geofisika Balai Besar MKG Wilayah II – Tangerang Selatan, Darman Mardanis. Kata Darman, saat ini yang peru diwaspadai adalah kondisi peralihan musim kemarau ke musim penghujan. “Di wilayah selatan Banten perlu juga mewaspadai potensi hujan dengan intensitas tinggi, ini berpotensi terjadinya  banjir dan longsor,” katanya.

Pada bagian akhir, Pempred Radar Banten Delfion Saputra mengatakan, Radar Banten sebagai media berupaya memberikan informasi terkait peringatan kebencanaan. Ini sebagai komitmen media terlibat dalam meminimalisasi risiko bencana. “Mitigasi bencana penting dilakukan karena memang Banten daerah masuk kategori rawan bencana. Peran media menginformasikan untuk meminimalisasi risiko bencana,” katanya. (fdr/alt)