Pemkab Serang Alokasikan Rp3 Miliar untuk Insentif Tenaga Medis

0
901 views

SERANG – Pemkab Serang sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp3 miliar untuk pemberian insentif tenaga medis di Kabupaten Serang yang bertugas selama pandemi Covid-19. Insentif akan disalurkan secara bertahap.

Hal itu diungkapkan Wakil Bupati Pandji Tirtayasa kepada Radar Banten saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (12/6). Pandji menyatakan, selain upaya penanganan Covid-19 di masyarakat, pihaknya juga memberi perhatian kepada tenaga medis. Menurutnya, tenaga medis menjadi garda terdepan dalam upaya penanganan Covid-19. “Mereka mendapatkan dukungan moral dari kita,” ujarnya.

Pihaknya juga, kata Pandji, menyiapkan anggaran untuk insentif tenaga medis yang akan diberikan secara bertahap. “Anggaran Rp3 miliar,” ungkap mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) itu.

Pandji menyebutkan, insentif akan diberikan untuk dokter spesialis, dokter umum, dan perawat. “Kalau enggak salah dokter spesialis Rp15 juta, dokter umum Rp10 juta, itu (insentif-red) selama tiga bulan,” sebut Ketua Organisasi Radio Amatir Indonesia (Orari) Banten itu.

Selain itu, lanjut Pandji, pihaknya juga memberikan insentif kepada pegawai lainnya yang bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19. Seperti tenaga kebersihan rumah sakit, penjaga mayat, supir ambulans, hingga pegawai di Puskesmas. “Kita berikan juga (insentif untuk tenaga medis lainnya-red), tentunya dengan proporsional,” terang Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Serang itu.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Serang, Suja’i A Sayuti mengaku, pihaknya sudah melakukan monitoring kepada Dinas Kesehatan dan menanyakan terkait insentif tenaga medis. Informasi yang diterimanya dari Dinkes, insentif sebagian sudah dicairkan. “Penyalurannya memang bertahap, ada yang sudah ada yang belum,” katanya.

Politikus Partai Gerindra ini menilai, insentif wajar diberikan untuk tenaga medis. Terutama, tenaga medis yang setiap harinya bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19. “Karena mereka beresiko, tapi harus proporsional juga, jangan disamaratakan, mana yang beresiko mana yang tidak,” sarannya. (jek/zai)