Pemkot Perlu Bentuk Tim Pencari Fakta Sosok Sultan Maulana Hasanuddin

FOTO: QODRAT/RADAR BANTEN

SERANG – Pemerintah Kota Serang dirasa perlu membentuk tim pencari fakta (TPF) untuk mencari tahu keaslian sosok Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Hal itu dikatakan oleh sastrawan asal Banten Toto St Radik saat ditemui sejumlah wartawan di Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang, Minggu (22/4).

Toto menjelaskan, pencarian itu perlu dilakukan agar tidak mengulang kesalahan penempatan gambar Sultan Hasanuddin Makassar sebagai pahlawan Banten, seperti pada buku paket belajar Bahasa Jawe Banten. Itu juga sebagai bentuk pendidikan sejarah Banten kepada generasi penerus agar tidak terjadi simpang siur.

“Pemerintah harus membentuk tim untuk mengkaji foto itu agar mengetahui mana foto yang paling benar. Tim itu bisa terdiri dari pemerintah, sejarawan, dan sebagainya untuk mencari fakta,” katanya.

Apabila data keaslian foto itu kini sudah berada di luar negeri maka tidak ada pilihan, tim tersebut harus mengejarnya sampai ke sana. “Kalau datanya ada di luar negeri, ya harus dikejar, walau di Belanda. Tapi persoalannya, ada tidak anggaran untuk itu. Tim pencari fakta untuk mencari kajian itu penting,” ucapnya.

Toto mengungkapkan, upaya penelusuran juga bisa dilakukan dengan awal mengumpulkan data-data penting yang ada di kalangan warga Banten, zuriyat kesultanan Banten, dan keturunan langsung dari sultan Banten.

“Siapa tahu mereka punya, atau ada catatan khusus yang menjelaskan profil sultan. Seperti ciri-cirinya, matanya, alisnya, dan itu bisa direka ulang oleh ahlinya. Baru ada kesepakatan dari pemerintah dan keluarga sultan, serta masyarakat, untuk ditetapkan bersama,” ucapnya.

Menanggapi usulan tersebut, Ketua DPRD Kota Serang Namin mengaku, akan mendorong terwujudnya tim pencari faka itu pada program pemerintah selanjutnya. Kata dia, kebenaran sejarah Banten jangan sampai terjadi kesalahan seperti penggunaan gambar Sultan Hasanuddin Makassar pada buku Bahasa Jawe Banten beberapa waktu lalu.

“Ini memang seharusnya segera disikapi dengan mencari data yang sebenarnya, jangan sampai nanti kita bingung. Usulan pembentukan pencari fakta akan coba kami kawal,” ujarnya.

Sebelumnya, Front Aksi Mahasiswa (FAM) UIN SMH Banten menggelar aksi damai di depan Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, Kamis (19/4). Aksi itu menyikapi keteledoran Dindik Serang yang mengedarkan gambar Sultan Hasanuddin Makassar sebagai pahlawan Banten, pada buku paket belajar Bahasa Jawe Banten.

Koordinator Aksi (Korlap) FAM UIN SMH Banten Nahrul Muhilmi menjelaskan, buku tersebut telah disebarluaskan atau didistribusikan ke SD atau madrasah ibtidaiyah (MI) yang ada di Kota Serang oleh Dindik Serang pada tahun 2014 lalu. Nahrul menegaskan, seharusnya gambar yang terpasang pada buku tersebut adalah Sultan Maulana Hasanuddin Banten. “Dalam sejarah, antara Sultan Hasanuddin Makassar dan Sultana Maulana Hasanuddin Banten jauh berbeda. Kemudian bicara sejarah, gambar adalah salah satu yang berperan penting dalam mengungkap sosok tokoh. Seperti halnya Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi tokoh sejarah di Banten,” ujarnya. (Riko Budi S/RBG)