Pemotongan Hewan Qurban Wajib Perhatikan Protokol Kesehatan

0
1.085 views

PEMOTONGAN hewan kurban di masa pandemi Covid-19 harus menerapkan protokol kesehatan. Langkah ini dilakukan mengantisipasi wabah Covid-19 saat perayaan Idul Adha atau Idul Qurban. Demikian diungkapkan, Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian Kota Serang, Siswati saat berbincang dengan Radar Banten, Kamis (18/6).

Kata Siswati, Pemkot Serang melalui Dinas Pertanian pada bidang peternakan dan pusat kesehatan hewan diberikan tugas untuk melakukan pengawasan pelaksanaan kurban tahun ini. Tugas utamanya untuk mengantisipasi penyebaran wabah Covid-19. “Kita telah memeroleh surat edaran, untuk pemotongan hewan kurban dalam situasi wabah Covid-19. Di mana, pemotongan harus memperhatikan protokol kesehatan,” ujarnya.

Siswati menjelaskan, dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban agar diarahkan di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R), namun bila kapasitas pemotongan di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) tidak mencukupi, dapat dilakukan di fasilitas pemotongan hewan dengan memenuhi persyaratan protokol kesehatan. “Intinya, menerapkan jaga jarak, penerapan hygiene (kebersihan-red) personal, pemeriksaan kesehatan awal, dan menyiapkan sanitasi,” katanya.

Kata Siswati, dalam menerapkan jaga jarak dalam proses pemotongan hewan, jarak minimal di antara pemotong hewan kurban satu meter, termasuk pembatasan jumlah panitia dan pendisitribusian daging kurban dilakukan panitia ke rumah penerima. Kemudian menjaga kebersihan, di mana panitia membedakan lokasi penanganan bagian daging dan dalaman hewan. “Termasuk tiap panitia kurban harus menggunakan APD (alat pelindung diri-red). Jika selesai panitia segera membersihkan diri,” katanya.

Terkait pemeriksaan awal kesehatan, kata Siswati, di mana panitia kurban terlebih dahulu melakukan pengukuran suhu tubuh. Bagi panitia dan masyarakat yang berkunjung memiliki gejala demam, nyeri tenggorokan, batuk, pilek dan sesak nafas dilarang masuk ke tempat pemotongan. “Panitia kurban dari tidak dalam masa karantina mandiri,” terangnya.

Selanjutnya, kata Siswati, panitia kurban wajib menerapkan kebersihan lokasi pemotongan kurban, dengan menyediakan fasilitas cuci tangan sabun cair atau hand sanitizer, melalukan disinfeksi pada peralatan sebelum dan setelah digunakan. “Setiap orang menghindari berjabat tangan atau kontak langsung dan memperhatikan etika bersin,” katanya.

Selain proses pemotongan, kata Siswati, lapak-lapak pedagang hewan kurban yang berada di Kota Serang untuk menerapkan protokol kesehatan. “Di Kota Serang tahun lalu ada sekira 70 lapak. Dalam waktu dekat kita akan memberikan edaran ke lapak-lapak pedagang hewan kurban,” katanya.

Lebih lanjut, Siswati mengatakan, pihaknya kini tengah membentuk tim pengawasan dan pemeriksaan hewan kurban, yang bertugas melaksanakan pengawasan pendataan dan pemeriksaan kesehatan hewan kurban dua minggu menjelang Idul Adha. “Tugasnya nanti, melaksanakan pengawasan, pendataan dan pemeriksaan pada saat pemotongan hewan kurban,” katanya.

“Kami berharap, semua pihak ikut terlibat dalam penerapan protokol kesehatan dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban,” sambungnya.

Sementara itu, salah satu pedagang hewan kurban di Kota Serang, M Faturrahman mengaku kembali berjualan hewan kurban di tengah pandemi Covid-19. Ia mengaku akan menerapkan protokol kesehatan pada saat berjualan. “Beda dengan tahun lalu, sekarang saya harus menyiapkan hand sanitizer, dan masker sebagai antisipasi saja,” katanya.

Meskipun di tengah pandemi Covid-19 dirinya mengaku optimistis masih bisa menjual hewan kurban miliknya. Kata Fatur, masyarakat tetap akan melaksanakan kurban sehingga kebutuhan hewan kurban akan tetap ada. “Saya jual kambing, kambingnya dari Ciamis Jawa Barat. Udah ada 50 ekor. Sekarang tinggal siap dipasarkan saja,” terangnya.

“Tiap tahun sering dapat pemberitahuan dari petugas (Dinas Pertanian Bidang Peternakan-red). Biasanya mereka datang ke lapak kami. Memeriksa kesehatan hewan dan mungkin sekarang ditambah dengan imbauan penerapan protokol kesehatan,” pungkasnya. (fdr/air)