Pemprov dan Pemkab Pandeglang Kompak Cegah Radikalisme

PANDEGLANG – Insiden penusukan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto di Alun-alun Menes, Kamis (10/10) lalu, menjadi perhatian semua kalangan. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Banten Ade Aryanto, Bupati Irna Narulita, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pandeglang kompak menyatakan akan berupaya mencegah paham radikalisme tersebut.

Pernyataan sikap itu disampaikan pada Pembukaan Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional, di aula Baitul Hamdi Menes, Senin (14/10).

Hadir Ketua DPRD Pandeglang Tb Udi Juhdi, Ketua KPU Kabupaten Pandeglang Ahmad Suja’i, Komisioner Bawaslu Kabupaten Pandeglang Fauzi Ilham, Ketua Presidium Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Banten Udin Saparudin, Ketua Presidium Majelis Daerah KAHMI Pandeglang Ahmad Wihya Dipyana, Kepala Bidang Pembinaan Anggota PBHMI Helmi Yunan, serta 45 peserta LK2 perwakilan 25 HMI Cabang di Indonesia.

Ketua Umum HMI Cabang Pandeglang Fikri Anidzar Albar memastikan, tragedi penusukan Menkopolhukam Wiranto menjadi perhatian khusus bagi HMI. Ia berjanji HMI akan menjadi garda terdepan mengusir radikalisme khususnya di Kabupaten Pandelegang.

“Peristiwa penusukan Wiranto jadi PR HMI. Kita akan menjadi garda terdepan mengusir paham itu,” katanya.

Ia meyakini, melalui intermediate training sebagai kawah candradimuka mahasiswa untuk membentuk kader intelektual dengan wawasan ke-Islaman dan kebangsaan. “Dengan modal kepribadian wawasan ke-Islaman dan kebangsaan maka paham radikalisme harus mampu kita usir,” katanya.

Kepala Kesbangpol Provinsi Banten Ade Aryanto berharap, para kader HMI bisa membantu pemerintah dalam mengantisipasi paham radikal. “Pemahaman para kader HMI sesuai ajaran Islam agar bisa menjadi tameng untuk mengantisipasi radikalisme,” katanya.

Bupati Irna Narulita menyambut baik atas perjuangan HMI dalam perjuangan mendorong perubahan, dan terlibat mengantisipasi paham radikal. “Apalagi Pandeglang ada kota perjuangan, dan Menes kota pendidikan,” katanya.

Irna berharap, peristiwa teror yang menimpa Menkopolhukam cukup pertama dan terakhir. “Caranya dengan bersabar kita tetap untuk merawat NKRI. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi seperti di Menes. Bahkan aksi teror ini baru pertama dan terjadi menimpa seorang menteri di Menes. Maka ke depan kita semua tetap berhati-hati dengan pendatang, tanya mulai dari profesi sebagai apa, aktivitasnya apa,” katanya. (her/zis)