Pemuda dari Korea Jatuh Cinta pada Makanan Indonesia

0
58
Pemuda asal Selatan saat berkunjung ke Kota Tangerang Selatan.

Nasi goreng, mi goreng sampai ramyun khas Indonesia menjadi daya tarik belasan pemuda asal Kota Daejeon, Korea Selatan datang ke Indonesia, khususnya Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Datang selama tiga hari, banyak hal dan bekal yang bisa dibawa mereka kembali ke Korea.

Berseragam merah marun dan mengalungi tanda pengenal, belasan pemuda Kota Daejoon memasuki kantor Pusat Pemerintahan Kota Tangsel pukul 08.00 WIB. Dibimbing langsung oleh ketua delegasi pertukaran pemuda Tangsel – Daejon Tae Yeon Sook.

Sambil mengeluarkan ponsel masing-masing, sebagian besar anak yang masih duduk di bangku SMP itu merekam keadaan dan suasana pemkot yang hari itu masih lengang. Namun mereka seolah tidak ingin kehilangan momen untuk diabadikan dan diceritakan di kota asalnya.

Salah satu peserta delegasi Kim Doon Jon mengatakan, ada banyak barang dan hal yang terkenal milik Indonesia di Korea Selatan. Salah satunya adalah banyak warganya yang menggunakan hijab. Di Korea sendiri, cukup jarang ditemukan perempuan berhijab sementara di Indonesia hampir setiap perempuan muslim mengenakan hijab.

Tak hanya itu, lelaki yang akrab dipanggil Doon Jon ini mengatakan banyak makanan Indonesia yang cukup terkenal di Korea Selatan. Salah satunya adalah buah durian. Menurutnya buah berduri tersebut dijual cukup mahal dan jarang sekali ditemukan di toko-toko buah besar sekalipun.

”Kalau di Korea satu buah durian memiliki harga berkisar Rp450 ribuan atau bisa sampai Rp700 ribuan. Kalau di sini hampir setiap rumah makan menyediakan minuman dengan bahan baku durian,” ujar dia yang dibantu dengan translator.

Doon Jon juga mengaku Indonesia memiliki sejumlah makanan yang kaya akan rempah-rempah. Bahkan rasa rempah-rempah tersebut juga terasa saat dirinya memakan mi instan yang cukup terkenal di Korea Selatan.

”Saya suka sekali mi indomie goreng, ketika di Korea pun suka makan mi itu. Rasanya enak dan gurih. Makanan ini juga populer, karena memang sangat enak,” ujar lelaki berkacamata itu.

Bersama teman-temannya, Doon Jon mengaku banyak belajar mengenai budaya Indonesia. Tak hanya itu, mereka juga belajar tentang keramahan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat.  ”Kalau ada kesempatan saya mau kembali lagi,” katanya.

Sementara ketua delegasi pertukaran pemuda Tangsel – Daejon Tae Yeon Sook mengatakan, kunjungan pemuda ke Tangsel ini merupakan proyek kerja sama antara Daejon dan Tangsel. Apalagi beberapa waktu lalu kedua belah pihak sudah menandatangani MoU mengenai sejumlah kerja sama yang akan terjalin.

Tae Yeon Sook mengatakan salah satu mega proyek yang sedang mereka kerjakan adalah pembuatan Gedung Inovasi yang akan dibangun tahun 2018. ”Ini merupakan salah satu lanjutan kerja sama antara Tangsel dan Daejon, semoga ke depannya akan ada kerja sama-kerja sama lainnya,” kata Yeon Sook.

Dia menambahkan, dengan pertukaran pemuda ini ada beberapa program yang bisa diadaptasi oleh Pemerintah Kota Daejon dari Kota Tangsel untuk diaplikasikan di Daejon.

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, dengan hadirnya pemuda Daejon ke Tangsel ada beberapa sistem atau program atau infrastruktur yang bisa dievaluasi dan dinilai. ”Atau bisa juga dipelajari sehingga bermanfaat di Daejo,” pungkasnya. (Annisa Fitrah Laela)