Penagih Utang Tewas Dikeroyok

0
2310
Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Deonijiu De Fatima (tengah) menunjukan barang bukti kasus penganiyaan yang menimpa Willy dan Suhendra pada saat menagih hutang perusahaan.

TANGERANG – Nyawa Willy Edward (51), tak tertolong, Rabu (9/4). Penagih utang itu tewas usai dikeroyok oleh pemilik PT Evercront Utama dan empat anak buahnya.

Sekira pukul 14.00 WIB, Willy bersama Suhendra (41), mendatangi PT Evercront Utama di Jalan Kavling DPR, Blok B, No 72-73, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Dia berniat menagih utang  PT Evercront Utama sebesar Rp20 juta kepada PT Agung.

Willy dan Suhendra pun ditemui oleh ED, pemilik PT Evercront Utama. ED ngotot tidak mau membayar utang. Willy dan ED pun akhirnya terlibat cekcok mulut. Cekcok mulut itu berujung pada baku hantam di antara keduanya. Keributan di halaman perusahaan itu membuat empat anak buah ED mendatangi keduanya. Bukannya melerai, empat anak buah ED itu justru mengeroyok Willy dan Suhendra.

Tubuh Willy dan Suhendra diseret oleh empat anak buah ED ke ruang mesin dan kamar mandi. Selama hampir tiga jam, kedua penagih utang itu dipukuli beramai-ramai.

“Para tersangka mengaku kesal, pada saat diperiksa petugas, mereka mengatakan tidak mempunyai utang perusahaan. Makanya, pada saat ditagih mereka kesal dan tidak memberikan ampun kepada kedua korban,” papar Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Deonijiu De Fatima di Mapolres Metro Tangerang Kota, Selasa (13/4).

Setelah tak berdaya, Willy dan Suhendra dilarikan ke RSUD Kabupaten Tangerang.

Namun, nyawa Willy tak tertolong lantaran pendarahan otak. Sementara Suhendra mengalami luka lebam di wajah dan tubuhnya.

“Penganiaya tersebut dilakukan oleh PD, ED, AD, SMN Dan MS. Mereka adalah, orang yang menganiyaya korban hingga menyebabkan Willy meninggal dunia,” beber Deonijiu.

Untuk memastikan motif pengeroyokan tersebut, polisi masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap kelima pelaku. Kini, kelimanya telah diamankan dan disangka melanggar Pasal 170 ayat (1), (2), dan (3) KUH Pidana. “Ancaman hukumannya 12 tahun penjara,” tutupnya. (rbnn/nda)