Penanganan Banjir Belum Maksimal

0
1388

SERANG – Penanganan banjir di wilayah ibukota Provinsi Banten sejauh ini masih belum maksimal. Tiap musim penghujan, Kota Serang menjadi daerah langganan banjir. Kondisi ini disebabkan tak seimbangnya tata kelola drainase dengan pertumbuhan infrastruktur perumahan dan kepadatan penduduk masuk ke Kota Serang.

PERAHU KARET: Petugas menggunakan perahu karet untuk membantu warga melewati banjir, di Komplek Untirta, Kota Serang, Rabu (3/2). Banjir yang terjadi akibat hujan lebat sejak semalam tersebut membuat aktivitas warga terganggu. (QODRAT/RADAR BANTEN)

Sejumlah titik yang menjadi langganan banjir yakni, Perumahan Citra Gading, Komplek Untirta di Kecamatan Cipocokjaya, Pengampelan di Kecamatan Walantaka, Kelurahan Kasemen di Kecamatan Kasemen dan beberapa lingkungan seperti Perumahan Grand Sutera, Cikulur Jelawe, Taman Widya Asri di Kecamatan Serang.

“Banjir sulit hindari, tiap tahun bisa saja bertambah titiknya. Kota Serang langganan banjir,” ujar pengamat Tata Kota dan Arsitektur Kota Serang, Dede Rohmat kepada Radar Banten, Minggu (7/2).

Pria Lulusan Program Studi Teknik Arsitektur,  Universitas Komputer (Unikom) Bandung itu mengatakan, daya tampung drainase dan saluran air di wilayah Kota Serang sejajar dengan jalan disebabkan oleh pendangkalan berupa sampah, pasir, dan material lainnya. “Persoalan drainase ini yang harus diselesaikan dari hulu ke hilir,” katanya.

“Drainase tinggal diaktifkan. Kalau pun daerah rendah kalau drainasenya maka aliran air akan berjalan,” tambah Dede.

Dede mengatakan, Pemkot Serang dituntut mematangkan pembangunan tandon di hulu, dan segera membuat sumur-sumur resapan di area titik banjir. Minimal, pemkot menargetkan waktu lima tahun. “Jangka pendeknya perbaikan drainase dan membuat sumur resapan seperti di area rawan banjir Perumahan Citra Gading, Komplek Untirta dan lain-lain,” terangnya. 

“Bisa saja, sumur resapan bisa dimasukkan menjadi syarat, terutama area infrastruktur utama. Sehingga penanganan banjirnya bisa maksimal dilakukan pemerintah,” harapnya.

ALOKASI ANGGARAN

Sementara itu, untuk memaksimalkan penanganan banjir di Kota Serang, Ketua DPRD Kota Serang, Budi Rustandi mengatakan, alokasi anggaran normalisasi drainase dan sungai sebagian masuk dalam APBD 2021. Jumlahnya memang, diakui Budi, belum bisa mengakomodir seluruh kebutuhan. “Semestinya tidak hanya Pemkot Serang. Penanganan banjir ini juga ada yang menjadi kewenangan Pemprov Banten. Seperti, pelebaran jembatan di depan Perum Citra Gading dan lainnya,” katanya.

Budi mengatakan, DPRD mendorong Pemkot Serang agar menyelesaikan titik langganan banjir, seperti di wilayah Kecamatan Kasemen, Cipocokjaya, Curug, Walantaka dan Serang. “Saya sering turun ke masyarakat meninjau titik banjir, memang penyebabnya ada penyempitan dan pendangkalan,” terangnya.

Terpisah, Walikota Serang Syafrudin mengatakan, Pemkot Serang sebesar Rp4 miliar dari APBD 2021 untuk pemeliharaan dan perbaikan saluran air yang berada di wilayah Kota Serang. Alokasi anggaran Rp4 miliar berada di dua dinas. Yakni, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sebesar Rp3,5 miliar dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) sebesar Rp500 juta. “Iya, anggarannya sudah ada (Rp4 miliar-red). Itu untuk penanganan titik banjir yang ada di Kota Serang,” katanya.

Syafrudin mengakui jika teknis banjir yang menimpa Kota Serang disebabkan penyempitan, pendangkalan dan penyumbatan di saluran air. Seperti halnya terjadi di Perum Ranau Estate, Citra Gading, Komplek Untirta, dan Kelurahan Kasemen. “Kita maksimalkan anggaran yang ada. Karena memang kondisi saat ini tengah pandemi Covid-19,” katanya.

“Soal tandon dan sumur resapan. Itu akan kita matangkan. Karena memang pemerataan pembangunan dari berbagai bidang perlu mendapat  perhatian,” tambah Syafrudin.

Syafrudin mengungkapkan, tidak hanya melakukan normalisasi dan perawatana drainase, Pemkot Serang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial (Dinsos) mengalokasi anggaran untuk bantuan pada korban bencana. “Drainasenya kita perbaiki, kemudian apabila ada bencana kita siapkan anggarannya,” terangnya.

Lebih lanjut, Syafrudin meminta pengusaha atau developer perumahan ikut terlibat dalam memelihara drainase buatan atau kali di pinggir area perumahan, termasuk tidak menjual tanah di bantaran kali ke masyarakat. “Developer jangan jual tanah bantaran kali. Itu tanah negara. Kalau dijual kemudian dibangun rumah, kan menimbulkan banjir,” katanya.

     “Saya instruksikan camat, lurah di Kota Serang apabila ada developer mengurus izin di pinggir kali, untuk mengingatkan agar tidak menjual tanah. Itu kan ada aturannya,” tambah Politikus PAN itu.

PEMELIHARAAN RUTIN

Terpisah, Kepala DPRKP Kota Serang, Iwan Sunardi mengaku berdasarkan kewenangan pihaknya melakukan pemeiharaan rutin saluran drainase perumahan yang telah diserahkan ke Pemkot Serang. Seperti yang telah dilakukan di Kompleks Untirta akhir tahun 2020. “Kita alokasikan Rp500 juta untuk 50 perumahan yang asetnya telah diserahkan ke Pemkot Serang,” katanya.

“Kalau Kompleks Untirta menjadi kewenangan PUPR. Nanti seperti apa, ada di PUPR. Komplek Ranau Estate aset nya belum diserahkan ke Pemkot,” tambah Iwan.

Kepala DPUPR Kota Serang M Ridwan mengatakan, tengah melakukan normalisasi saluran air di titik banjir yang terjadi pekan kemarin sebagaimana instruksi Walikota. “Kompleks Untirta, Ranau Estate karena debit air kiriman besar sedangkan saluran air mengalami sedimentasi dan ada tumpukan sampah. Kita akan normalisasi,” katanya.

POHON TUMBANG

Sementara itu, di Kota Cilegon, akibat cuaca buruk banjir dan pohon tumbang terjadi di Kecamatan Pulomerak dan Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon.

Informasi yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon, banjir terjadi pada Satu (6/2) malam di Kelurahan Tamansari, dan Lebak Gede Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon.

Banjir dengan ketinggian 50 hingga 70 sentimeter itu merendam 807 kartu keluarga (KK) di tiga lingkungan. Jumlah terdampak paling parah di Lingkungan Baru, di mana 300 KK terendam air.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kota Cilegon, Afuh Mafruh menjelaskan, banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi di Kota Cilegon pada Sabtu malam.

Kondisi itu diperparah dengan letak geografis lingkungan yang berada di titik cekung, serta sistem drainase atau saluran air yang kurang baik.

“Drainasenya kecil, lalu ada beberapa yang atasannya tertutup, sehingga air yang akan mengalir ke sungai terhambat,” ujar Afuh, Minggu (7/2).

Banjir terjadi sekira pukul 20.30 Wib dan baru surut pada Minggu (7/2) sekira pukul 01.02 WIB. Tidak ada korban dan warga pun tidak perlu dievakuasi.

Terkait pohon tumbang, menurut Afuh hal itu terjadi di Jalan Raya Merak, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon sekira pukul 07.00 WIB.

Cuaca ekstrem di wilayah Kota Cilegon dan angin kencang pun diduga menjadi penyebab tumbangnya  pohon tersebut.

Akibatnya, pohon pun menutup sebagian akses jalan sehingga membuat lalu lintas sempat terganggu.

“Evakuasi selesai pada pukul 08.15 WIB, kondisi aman dan terkendali,” ujarnya.

Sebelumnya, Walikota Cilegon, Edi Ariadi  menyebut banjir menjadi persoalan global, bukan hanya di Kota Cilegon. Banjir disebabkan fenomena cuaca ekstrem yang terjadi termasuk di Kota Cilegon.

Termasuk banjir yang terjadi di Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon pada Rabu (3/2) lalu. Menurutnya hal itu terjadi tak lagi karena cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Menurut Edi secara bertahap pemerintah terus melakukan upaya pencegahan banjir, menurutnya akibat keterbatasan anggaran penangan banjir pun berjalan kurang maksimal.

“Kalau sekaligus butuh uang banyak,” ujar Edi.

Menurut Edi, pemerintah telah berupaya membangun tandon, serta normalisai saluran air, namun menurut Edi perlu peran serta aktif masyarakat, salah satunya dengan memperhatikan saluran air serta tidak membuang sampah sembarangan.

“Masyarakat juga jangan enak-enak saja, buang sampah jangan sembarangan, pohon jangan di tebangin ini mah jangan nyalahin pemerintah saja,” ujar Edi. 

LANDA TIGA KECAMATAN

     Di Kabupaten Serang, banjir melanda tiga wilayah yakni Kecamatan Cikande, Ciruas dan Kecamatan Binuang. Banjir menggenangi puluhan rumah dengan ketinggian rata-rata 50 sentimeter.

Di Kecamatan Cikande, banjir sudah mulai terjadi sejak Kamis (4/2) di Kampung Sema, Desa Koper. Selain rumah dan akses jalan perkampungan, banjir juga merendam satu yayasan pendidikan.

Kepala Desa Koper, Sana Jaya mengatakan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan TNI setempat untuk memastikan kondisi warga tetap kondusif. “Banjirnya dari kamis karena hujannya deras,” katanya. Kondisi air sempat menyusut, tapi, hujan deras kembali turun pada Sabtu (6/2) sehingga banjir kembali terjadi. “Tapi sekarang (kemarin-red) sudah mulai surut,” kata Sana saat dikonfirmasi ulang pukul 20.00 WIB, Minggu (7/2).(fdr-bam-mg06/air)