Pendatang Adu Nasib Jadi Buruh Industri

Para pencari kerja mengumpulkan berkas persyaratan untuk mendapatkan kartu kuning di Disnaker Kabupaten Serang, Kamis (13/6). Pasca Hari Raya Idul Fitri, terdapat lonjakan pemohon kartu kuning untuk kebutuhan melamar pekerjaan.

SERANG – Usai Lebaran, jumlah pendatang yang ingin mengadu nasib ke luar daerah cukup tinggi. Pemicunya tak lain karena mereka yang datang dari kampung ingin mendapatkan pekerjaan lebih baik.

Tak terkecuali di Provinsi Banten. Para pendatang yang datang ke kabupaten kota di Banten jumlahnya meningkat. Ini bisa dilihat dari tingginya permintaan surat keterangan domisili atau surat tanda penduduk non-permanen. Surat ini wajib dimiliki pendatang sebagai syarat untuk membuat kartu pencari kerja atau yang biasa disebut dengan kartu kuning.

Wilayah industri di Provinsi Banten keberadaannya tersebar di Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Cilegon. Industri padat karya mayoritas berdiri di wilayah Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang. Sementara di Kota Cilegon, mayoritas berdiri pabrik yang padat modal.

Di Kabupaten Tangerang, meski belum ada lonjakan permintaan pembuatan surat keterangan domisili, tetapi permohonan pembuatan kartu kuning meningkat.

Sekretaris Desa Talagasari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Kosim mengatakan, saat ini belum ada lonjakan permintaan surat keterangan domisili. “Mungkin nanti minggu depan mulai ada pelonjakan. Rencanannya, minggu depan akan mulai pendataan kembali jumlah penduduk untuk mengetahui jumlah pendatang,” tutupnya.

Terhitung sejak Senin (10/6), jumlah pencari kerja (pencaker) lebih dari seribu. “Setiap hari padat. Per hari bisa mencapai sekira 300 lebih pencaker yang buat dan perpanjangan masa berlaku kartu kuning untuk melamar pekerjaan. Kalau hari-hari biasanya 70 sampai 150 pencaker,” ujar Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Tangerang Jarnaji, Kamis (13/6).

Para pencaker didominasi lulusan SMA SMK sederajat. Untuk melayani padatnya para pencaker, pihaknya menambah jumlah loket pelayanan. “Kami menambah sekitar tiga loket pelayanan. Awalnya enam, kini ada sembilan bahkan bisa ditambah lagi jika jumlah pencaker terus bertambah. Para pencaker sudah padat mengantre sekira pukul 07.00 WIB,” tambah Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang itu.

KARTU KUNING DIBATASI

Di Kota Cilegon, kesempatan para pendatang mencari pekerjaan lebih ketat. Disnaker Kota Cilegon memberlakukan pembuatan kartu kuning hanya untuk warga ber-KTP Cilegon saja. “Yang memohon kartu kuning adalah warga yang sudah lama tinggal di Kota Cilegon karena telah memiliki KTP,” kata Kasi Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri Wawan Gunawan.

Kata dia, sejak empat hari ini sudah lebih dari 213 orang yang memohon pembuatan kartu kuning untuk kepentingan melamar pekerjaan. Menurutnya, saat ini belum banyak perusahaan di Kota Baja yang membuka lowongan pekerjaan. “Sejauh ini perusahaan yang melapor membuka lowongan kerja baru dua perusahaan, yaitu Rumah Sakit Kurnia dan Koperasi Rusa Mas Suralaya. Jumlah lowongan pekerjaan yang dibuka hanya sedikit. Rumah Sakit Kurnia sekira 10 orang, Koperasi Rusa Mas lima orang,” ujarnya.

Kata Wawan, perusahaan yang akan membuka lowongan kerja harus melapor ke Disnaker terlebih dahulu, kemudian usai penerimaan harus kembali melaporkan.

LONJAKAN DI LEBAK-PANDEGLANG

Lonjakan pembuatan kartu kuning terjadi di Kabupaten Lebak. Meski bukan kawasan industri, tapi hingga Kamis (13/6) sebanyak 1.107 warga telah mengajukan permohonan pembuatan kartu antar kerja (AK-1). Setiap harinya ratusan calon pencari kerja tampak berbondong-bondong memadati kantor Disnakertrans, pascalibur Idul Fitri 1440 Hijriah. Kartu ini sebagai persyaratan pengantar dan kelengkapan ketika mereka melamar kerja.

Jika sehari-hari kantor Disnakertrans, yang beralamat di Jalan Siliwangi, didatangi belasan orang pembuat kartu kuning, dua hari terakhir ini lima ratus orang lebih pencari kerja menjejali kantor tersebut. Untuk memberikan pelayanan kepada para pencari kerja Disnakertrans memasang tenda untuk menampung pemohon kartu kuning di halaman parkir kantor setempat.

Kepala Disnakertrans Lebak Maman Suparman mengatakan, pencari kerja ramai sejak Senin (10/6) atau pada hari pertama pelayanan umum dibuka setelah libur Lebaran.

“Ya, hingga tadi siang (Kamis-red) sudah 1.107 orang calon pencaker mengajukan surat permohonan kartu kuning. Hari pertama saja ada 302 pencaker. Kemungkinan jumlah tersebut akan terus bertambah. Rata-rata per hari biasanya 250 orang mengajukan pembuatan kartu kuning pasca Lebaran,” ungkap Maman, kemarin.

Menurut dia, faktor utama banyaknya pencari kerja setelah Lebaran dikarenakan banyaknya lowongan di pabrik-pabrik yang bergerak di bidang industri tekstil, sepatu dan kulit. “Laporan yang masuk umumnya mereka mau bekerja di luar Lebak seperti Serang, Tangerang dan Jakarta,” katanya.

Lonjakan serupa juga terjadi di Kabupaten Pandeglang. Tiga hari terakhir tercatat daftar permohonan pembuatan kartu kuning mencapai 750 orang. Jumlah itu sangat signifikan jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya dengan jumlah per bulan rata-rata 800 pemohon. ” Pada hari biasanya hanya rata-rata 60 sampai 100 pemohon setiap harinya. kini mencapai 250 pemohon per hari,” kata Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Pandeglang Dadun Kohar ditemui di ruang pelayanan, kemarin.

Dadun menjelaskan, melonjaknya jumlah pemohon KTPK selian karena banyaknya potensi lowongan kerja (loker) setelah Lebarandari, juga banyaknya lulusan SLTA tahun ini. “Jadi mayoritas pencaker ini usia produktif. Kemukinan jumlahnya ke depan akan terus bertambah,” katanya.

Dadun memprediksi, jumlah pencaker pada tahun ini lebih banyak jika dibandingkan tahun sebelumnya. “Soalnya jumlah pemohon pada bulan Juni tahun lalu per harinya hanya 200 orang, bulan Juni tahun ini per harinya mencapai diatas 250 orang. Jadi kemungkinan tahun ini pencaker akan lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun lalu,” katanya.

Dadun berharap, pencaker asal Kabupaten Pandeglang agar bekerja pada perusahaan di sejumlah daerah khususnya di luar daerah. “Pemohon ini rata rata akan melamar pekerjaan di luar daerah. Seperti Serang, Tangerang, dan Jakarta. Karena di kita minin lapangan pekerjaan,” katanya.

Dadun menjelaskan, untuk mengurangi pengangguran di Kabupaten Pandeglang instansinya sudah menjalin kerja sama dengan 14 perusahaan. “Ada perusahaan yang bekerja sama dengan kita, sebanyak 14 perusahaan yang sudah pembukaan loker pada busa kerja bulan lalu,” katanya.

Lulusan SMKN 9 Pandeglang Antawijaya mengaku bingung akan melamar pekerjaan apa dan kemana, lantaran informasinya saat ini banyak informasi adanya uang sogokan kalau mau bekerja di sejumlah perusahaan besar. “Apa lagi katanya kalau tidak ada orang dalem di perusahaan tertentu maka sulit diterima,” katanya.

DIDOMINASI PENDATANG

Lantaran banyaknya jumlah industri padat karya di wilayah Serang Timur, keberadaan warga pendatang jumlahnya tak sedikit. Kepala Desa Tambak, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Jaenudin mengatakan, wilayahnya menjadi salah satu kawasan industri. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak warga pendatang yang menetap di Desa Tambak. “Data tahun 2018, itu ada 3.000 warga pendatang di Desa Tambak,” katanya.

Ribuan warga pendatang itu, kata dia, berasal dari berbagai daerah. Paling banyak berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Palembang. “Semuanya berstatus sebagai pekerja di beberapa perusahaan,” ujarnya.

Saking banyaknya, ia mengaku kesulitan melakukan pendataan keberadaan warga pendatang. Karena setiap warga pendatang tidak langsung melapor ke ketua RT dan kepala desa. “Mereka (warga pendatang-red) itu lapor kalau ada keperluan saja, seperti mau bikin rekening bank untuk keperluan kerjanya, harusnya kan begitu datang langsung lapor ke kita,” terangnya.

Pada bagian lain, di Kota Serang, para pendatang yang ingin mengadu nasib pekerjaan mulai marak. Ketua RT01/02 Lingkungan Kemang, Kelurahan Penancangan, Tb Ikhsan mengaku, baru mendapatkan empat laporan warga yang datang ke kawasannya. “Habis Lebaran belum ada orang laporan  pindah domisili. Baru ada empat orang masuk,” katanya.

Empat orang yang datang tersebut semuanya pekerja pada industri yang ada di Kota Serang. Mulai dari Bandung, Lampung, Ciamis, dan Tegal, “Yang lapor ke saya cuma itu, mungkin yang enggak lapor banyak juga. Padahal aturannya ya harus lapor. Jangan menetap, bertamu 1×24 jam saja harus lapor,” cetusnya.

Dugaan Ikhsan bukan tanpa alasan. Sebab, di wilayahnya tercatat ada  20 lebih kontarakan yang dihuni pekerja yang bekerja di kawasan yang tidak jauh dari Mall of Serang itu.

Menurutnya, satu kontrakan bisa terdiri dari tiga sampai delapan kamar. “Tapi yang ngontrak jarang yang laporan ke RT. Padahal sudah sering ditegur agar ada pendataan,” keluhnya. Informasinya, di kawasan tersebut juga terdapat mes salah satu restoran yang berada di dalam mal. Mes restauran tersebut dapat menampung lebih dari sepuluh orang. “Harusnya yang punya mes itu jugq laporan untuk pendataan dan urusan administrasi kependudukan,” kata Ikhsan. (bam-jek-nce-ken-her-mg04/air/ags)