SERANG – Salah satu kegiatan Anyer Krakatau Culture Festival (AKCF) 2017 pada Sabtu (19/8) yaitu pagelaran seni debus. Berbeda dari pergelaran debus lainnya, dalam rangka HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia, memadukan debus, panjat pinang, dan tarik tambang.

Pendekar memanjat 6 anak tangga. Pijakan tangga tersebut diganti dengan golok yang sudah diasah. Salah satu pendekar lantas naik ke atas. Usai itu, ia membelah-belah tangannya. Kebal. Tidak terluka. Rasa ngeri penonton mulai tercacah-cacah.

Setelah panjat pinang, beberapa pendekar menghancurkan lampu neon panjang dengan gigi dan mulutnya. Pecah. Prak. Begitu suara terdengar dari pecahan-pecahan lampu tersebut yang tersumbal di mulut para pendekar.

Setelah itu, mereka kembali memainkan aksi menarik tambang di atas bara api. Tak pernah lelah, pendekar kembali memanjat pinang dengan tangga yang sudah diganti dengan golok-golok yang siap membelah kaki-kaki mereka hingga berdarah-darah. Apa yang terjadi? Golok itu seolah dikalahkan dengan kulit daging yang kenyal.

Pendekar asal Ciomas, Saniin mengatakan, filosofi pendekar adalah penzikir. Sedangkan silat diartikan sebagai salat. Ia memaknai sebagai seorang pendekar silat haruslah zikir dan salat. Selalu ingat pada Sang Maha Kuasa.

“Kita harus melestarikan silat ini hingga turun-temurun. Bahkan adanya jurus kaserangan ini sebagai upaya pelestarian seni bela diri tradisonal,” ucapnya usai ditemui Radar Banten Online di Pantai Florida Anyer.

Pantauan Radar Banten Online, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, Wakil Gubernur Andhika Hazrumy, dan Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa tampak antusias melihat pergelaran seni bela diri debus Kabupaten Serang. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).