Penderita Kanker Pita Suara Ini Buktikan Pentingnya JKN-KIS

0
1.563 views

SERANG – Ucapan syukur terus keluar dari mulut Siti Amalia (34). Warga Kaujon, Kota Serang, tersebut mengutarakan rasa syukur tersebut untuk dua hal. Pertama, kakaknya, Siti Aisah (37) bisa lepas dari maut setelah beberapa tahun menderita kanker pita suara. Satu hal lainnya yaitu keikutsertaanya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Lebih jelas Amalia menuturkan kaitan dua hal tersebut, yaitu kesembuhan kakaknya dan JKN-KIS. Didampingi sang kakak di kediamannya di Lontar Kidul, RT 3/3 Gang Pemuda, Kota Serang, Amalia menceritakan salah satu berkah terbesar yang pernah diterima keluarganya tersebut.

Tiga tahun lalu, tahun 2014, Aisah merasa gatal di area tenggorokannya. Gatal yang terjadi beberapa hari tersebut awalnya tidak terlalu dihiraukan oleh mantan guru taman kanak-kanak tersebut.

Hingga suatu waktu, Aisah menyadari ada keanehan. Selama beberapa bulan, perempuan kelahiran 25 Desember 1980 tersebut tidak terkena batuk dan pilek. Hanya gatal tenggorokan yang dirasakan Aisah.

Merasa terganggu dengan gatal di tenggorokannya, Aisah pun memutuskan untuk memeriksa kesehatannya ke dokter umum di sebuah klinik di Kota Serang. Hasilnya, dokter mendiagnosa Aisah terkena radang tenggorokan.

Memasuki tahun 2015, penyakit Aisah tak kunjung sembuh, malahan rasa sakit yang dirasa Aisah bertambah. Aisah mengalami kesulitan bernafas. Dadanya terasa sesak.

Saat itu, Amalia beserta keluarga, memutuskan untuk membawa Aisah untuk berobat ke Puskesmas Singandaru. Di sana, Aisah menjalani perawatan selama satu minggu.

“Tidak ada perubahan, sempat pulang ke rumah satu minggu, terus teteh dibawa ke rumah sakit DKT. Di sana teteh dirawat satu minggu,” tutur Amalia mengisahkan perjalanan yang dialami kakaknya, Rabu (27/9).

Sepekan menjalani perawatan di rumah sakit DKT, kondisi Aisah membaik. Keluarga pun membawanya ke rumah. Namun sepekan kemudian, kondisi Aisah kembali parah. Aisah pun dibawa ke Rumah Sakit Dr Drajat Prawiranegara, Kota Serang.

“Awalnya rawat jalan, sudah satu bulan, kondisi teteh makin parah. Dibawa lagi ke rumah sakit umum, langsung di ICU, sempet alami koma sehari,” ujar Amalia.

Sejak berobat di klinik, kemudian ke Puskesmas Singandaru, ke Rumah Sakit DKT, dan RS Dr Drajat Prawiranegara, penyakit Aisah belum ditemukan. Semuanya mendiagnosa terkena radang tenggorokan. Hingga akhirnya, keluarga disarankan untuk memeriksa Aisah ke poli tertentu.

“Kontrol di poli paru, terus THT, setelah tiga kali kontrol di poli THT, ketahuan ada benjolan,” ungkap Amalia.

Mengetahui adanya benjolan, Aisah pun dirujuk ke Rumah Sakit Cipto pada bulan Mei 2015. Di rumah sakit di Jakarta itulah diketahui jika Aisah menderita kanker pita suara.

“Di Rumah Sakit Cipto langsung dioperasi. Pertama dioperasi pembolongan di tenggorokan biar tidak sesak,” tutur Amalia.

Tidak ada kendala yang dihadapi keluarga. Amalia pun tidak menyangka, dengan menggunakan layanan JKN-KIS di BPJS Kesehatan, kakanya mendapatkan pelayanan seperti pasien umum.

Tidak ada kerumitan baik dari sisi administrasi maupun yang lainnya. Keluarga pun tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk operasi. Semuanya ditanggung JKN-KIS BPJS Kesehatan.

Menurut Amalia, hal tersebut terjadi bukan pada operasi pembolongan saja  namun juga pada biopsi dan operasi besar serta sampai saat ini, cek rutin setiap tiga bulan sekali. Semuanya  gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Saat ini, meski Aisah tidak bisa bicara (akibat pita suaranya diangkat), kondisi kesehatan Aisah jauh lebih baik. Aisah sudah bisa kembali beraktivitas dengan baik.

“Kami berterima kasih dengan adanya program JKN-KIS yang diselenggarakan BPJS (Kesehatan), dengan adanya itu teteh bisa sembuh,” kata Amalia.

Dalam kesempatan itu, Amalia pun menuturkan, sebelum menggunakan layanan JKN-KIS,  biaya banyak dikeluarkan keluarganya selama pengobatan di klinik, puskesmas, hingga rumah sakit DKT. Saat menggunakan layanan JKN-KIS, khususnya di RS Cipto, keluarga hanya perlu mengeluarkan biaya ongkos menuju rumah sakit saja.

“Sebelumnya sudah habis banyak, jutaan,” katanya.

Dengan kejadian yang dialami kakak perempuannya, Amalia mengerti betapa pentingnya JKN-KIS. Menurutnya, iuran yang dikeluarkan setiap bulannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat saat mengalami sakit.

“Kalaupun selama terdaftar tidak mengalami sakit, iuran yang kita berikan membantu masyarakat lain yang menjadi peserta JKN-KIS yang sedang alami sakit. Namun apabila disaat kita mengalami perawatan karena sakit disaat itulah iuran peserta yang sehat membantu kita,” ujarnya.

Sama seperti Amalia, Aisah pun mengaku sangat bersyukur atas kemudahan yang dia dapat saat menjalani perawatan. Berkat JKN-KIS, proses pengobatannya selama ini tidak terkendala masalah biaya.

“Sekarang, saya merasa jauh lebih enak, sudah bisa gerak, alhamdulillah,” kata Aisah dengan gerakan mulut dan tangan yang diperjelas oleh Amalia.

Aisah pun berterima kasih kepada para peserta JKN-KIS lainnya. Menurutnya, para peserta yang selama ini membayar iuran ikut punya andil atas apa yang dialaminya selama ini. (ADVERTORIAL/BPJS KESEHATAN)