Penderita Tuberkulosis di Kabupaten Serang Capai 1.521 Kasus

SERANG – Penderita penyakit tuberkulosis (TB) di Kabupaten Serang terus bertambah. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang, sepanjang 2018 hingga Maret ini sudah 45 penderita TB. Sebelumnya, pada 2017 penderita TB mencapai 1.476 kasus.

Kepala Unit Pelaksana Teknis TB Dinkes Kabupaten Serang Padri AS mengatakan, setiap tahun angka penderita TB mengalami peningkatan. Hal itu disebabkan penyebaran virus yang begitu cepat melalui udara. Satu penderita bisa menularkan virus TB kepada 15 orang. “Teori penularan ini bagi penderita yang belum mendapatkan pengobatan,” ungkapnya kepada Radar Banten melalui sambungan telepon seluler, Kamis (22/3).

Dijelaskan Padri, penyakit TB memiliki beberapa gejala awal. Di antaranya, gejala batuk selama dua minggu berturut-turut disertai batuk berdarah, sesak napas, napsu makan berkurang, serta berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas. “Kalau ada saudara kita seperti itu, patut dicurigai dan harus segera bawa ke puskesmas,” imbaunya.

Kata Padri, penderita TB harus mendapatkan pengobatan rutin selama enam hingga delapan bulan. Jika pengobatan terputus, penderita akan mengalami multi-drugs resistant (MDR) atau kegagalan pengobatan. Kondisi itu akan membuat pasien membutuhkan pengobatan lebih lama lagi. “Kalau sudah MDR bisa sampai dua tahun pengobatannya dan harus rutin tiap hari disuntik selama delapan bulan,” ujarnya mengingatkan.

Diungkapkan Padri, pihaknya berhasil menyembuhkan 1.371 jiwa dari total 1.476 kasus TB pada 2017 atau mencapai 94,4 persen. “Angka ini (94,4 persen-red) melebihi target 90 persen,” ucapnya bangga.

Padri mengatakan, pihaknya memiliki target sasaran penyembuhan kasus TB sebanyak 4.302 jiwa pada 2017. Hasilnya, baru 2.265 jiwa penderita TB yang berhasil disembuhkan. “Menurut sistem dari kementerian, sasaran penyembuhan dari semua kasus, baik yang positif maupun yang terduga,” tandasnya.

Senada disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kabupaten Serang Riris Budiharni. Katanya, penyakit TB berkembang melalui lingkungan yang tidak sehat. Misalnya, di daerah yang kumuh dan lembab. “Virus TB bisa mati bila terkena sinar matahari,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi penyebaran TB, menurut Riris, harus diterapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di masyarakat. Jika PHBS sudah melekat pada masyarakat, segala macam penyakit tidak akan mudah berkembang biak. “Kalau kita masih malas bersih-bersih, jangan salahkan orang lain, tapi kita sendiri,” pungkasnya. (Rozak/RBG)