SERANG – Penderita Tuberkulosis (TBC) di Kota Serang masih cukup tinggi. Sepanjang 2018, Dinas Kesehatan Kota Serang menemukan sebanyak 1.619 kasus.

Temuan ini didasarkan atas pelaksanaan program TOS (Temukan, Obati sampai Sembuh) Penderita TBC selama 2018. “Dari target Provinsi Banten sebesar 2.131 sasaran temuan, kita temukan 76 persen atau 1.619 penderita,” kata Bagian program TBC pada Bidang P2P Dinkes Kota Serang Reni Stephani, Kamis (28/3).

Tahun ini pihaknya menargetkan kesembuhan hingga 91 persen. Upayanya, dengan melakukan pengawasan melalui kader pengawas di tiap-tiap kecamatan. “Ini karena pengobatan butuh waktu lama dan takut bosan, maka perlu ada pengawas yang mengingatkan,” ujarnya. 

Sebab, lanjut Reni, penderita TBC harus mengikuti program pengobatan selama enam bukan. Jika penderita tidak mengonsumsi obatnya sekali, maka harus memulai program dari awal. “Untuk pengobatannya sendiri penderita tidak dipungut biaya (gratis). Namun, karena membutuhkan waktu lama dalam pengobatannya banyak pasien merasa bosan datang ke Puskesmas untuk mengambil obat,” katanya.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Iqbal mengatakan, pemerintah gencar melaksanakan program TOS yang digulirkan kementerian dalam penanganan penyakit TBC. Kemudian diperkuat oleh pemerintah daerah dengan adanya instruksi gubernur Banten dan komitmen daerah.  “TBC di Kota Serang ini relatif masih tinggi, sehingga pemerintah daerah melalui instruksi gubernur melakukan TOS,” katanya.

Menurutnya, untuk menekan angka penemuan TBC dilakukan dengan memutus mata rantai penularan dari penderita ke masyarakat. Pihaknya mengimbau kepada penderita TBC ataupun bukan jika batuk harus menutup mulut. “Karena dia menularnya melalui percikan (air liur) dari penderita ke orang lain. Tidak semua mudah tertular, tergantung imunitasnya,” ucapnya. 

Kuman pada penyakit menular itu umumnya menyerang paru-paru. Namun, ada juga yang menyerang tulang dan jaringan organ lainnya. Sementara, pengobatannya membutuhkan waktu yang cukup lama. “Pengobatan TB butuh waktu lama, ada 6 bulan sampai 6 bulan lebih,” ujarnya. (Ken Supriyono)