Penderitaan Suyitno dan Keluarganya Tinggal di Kandang Ayam

Warga Miskin
Suyitno (baju merah) di dalam kandang ayam yang dia tinggali bersama istri dan anaknya, di Kampung Cinumpi, Desa Cilangkap, Kecamatan Kalanganyar, Rabu (6/1/2016). (Foto: Mastur)

Nasib baik sepertinya belum berpihak kepada Suyitno (37) dan keluarganya. Tiga bulan lalu, Suyitno harus membawa ketiga anaknya, Winda (11), Windi (8), dan Febrianti (3) serta istrinya, Khodijah (35), untuk menghuni sebuah kandang ayam berukuran empat meter kali tiga meter. Bagaimana cara mereka untuk bertahan?

MASTUR – Kalanganyar

Susunan bambu dan kayu berbentuk kotak menjadi tempat tinggal Suyinto dan keluarganya. ‘Rumah’ kandang ayam ini berada di Kampung Cinumpi, Desa Cilangkap, Kecamatan Kalanganyar. Perkampungan ini hanya berjarak sekira lima kilometer dari pusat Kota Rangkasbitung.

Untuk menyambangi Suyitno, kemarin (6/1/2016), dari Alun-alun Rangkasbitung, saya menyusuri Jalan Maulana Hasanudin. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalan poros Desa Cilangkap yang masih cukup bagus, bisa dilalui pengemudi kendaraan dengan nyaman.

Di Kampung Cinumpi, sebuah kandang ayam berdiri kokoh di dekat kebun milik warga. Kandang ayam ini menjadi tempat tinggal sementara Suyitno dan keluarganya. Soalnya, tiga bulan lalu, rumah keluarga miskin ini ambruk karena lapuk di makan usia.

Tepat di depan ‘rumah’ kandang ayam ini, fondasi rumah sedang dibangun. Fondasi ini bakal rumah Suyitno. Petani serabutan tersebut tidak mampu menyelesaikan pembangunan rumah semipermanennya.

Kedatangan saya kembali disambut hangat oleh Suyitno. Dia mempersilakan saya masuk ke dalam ‘rumah’ kandang ayamnya.

Suyitno lalu menunjukkan kasur lantai yang menjadi tempat tidur ketiga anaknya. Suyitno dan Khodijah tidur dengan beralaskan karpet plastik.

Ketika malam hari, tutur Suyitno, dinginnya angin masih leluasa masuk, meskipun Suyitno telah berusaha menutup dinding ‘rumah’ kandang ayamnya dengan kain dan spanduk bekas. Ketiga anak Suyitno selalu kedinginan dan menjadi santapan nyamuk. “Kami tidak punya pilihan. Tidak punya uang untuk mengontrak rumah,” keluh Suyitno.

Tentu, istri dan ketiga anak Suyitno tidak akan betah tinggal di ‘rumah’ kandang ayamnya. Hal inilah yang membuat tekad dan semangat Suyitno menyelesaikan pembangunan rumah semipermanennya terus berkobar.

“Saya akan berusaha menyelesaikan pembangunan rumah saya. Kasihan anak-anak karena harus menanggung derita orangtuanya yang miskin,” tuturnya.

Sejak menempati ‘rumah’ kandang ayamnya, Suyitno mengatakan bahwa Winda, anak pertamanya, sering demam. Cuaca tidak menentu dan dingin angin malam menjadi salah satu faktor penyebab anak Suyitno sakit.

Oleh karenanya, Suyitno dan Khodijah memperlakukan Winda lebih khusus. Winda tidur di kasur lantai dengan selimut tebal. “Beberapa hari lalu, dia sakit dan hanya diobati dengan obat dari warung saja,” katanya.

Di tempat sama, Khodijah membenarkan bahwa anak pertamanya sering sakit sejak menempati ‘rumah’ kandang ayam. Selama tiga bulan, Winda sudah lebih dari sepuluh kali sakit sehingga tidak bisa masuk sekolah di SDN Ojar.

“Mudah-mudahan, ada uluran tangan dari masyarakat dan pemerintah sehingga kami bisa cepat pindah ke rumah baru,” harap Khodijah.

Sejak kondisi Suyitno dan keluarganya ini menjadi perhatian media massa, Khodijah mengakui, bantuan dari pemerintah daerah dan masyarakat berdatangan. Antara lain, dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lebak, keluarga miskin ini mendapatkan bantuan uang tunai Rp1 juta dan sembako dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lebak.

“Kami bersyukur masih ada yang peduli. Semoga kebaikan dari semuanya mendapatkan balasan dari Allah,” Khodijah berdoa. (*)