Pendiri MA Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

SERANG – Pengurus Besar Mathlaul Anwar (PBMA) mengusulkan KH Mas Abdurrahman sebagai pahlawan nasional. Pendiri MA tersebut diharapkan mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat atas jasanya dalam dunia pendidikan.

Usulan tersebut disampaikan melalui kegiatan seminar tentang sosok KH Mas Abdurrahman yang digelar PBMA di Pendopo Gubernur, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (18/12). Hadir dalam seminar tersebut tokoh pendiri Provinsi Banten Embay Mulya Syarief, sejarawan Banten Dr Mufti Ali, sejarawan Bonnie Triyana, Ubik Baehaqi yang merupakan cucu pertama KH Mas Abdurrahman, Plt Asda I Pemprov Banten Samsir dan ratusan tokoh masyarakat Banten lainnya.

Menurut Ketua PB Mathlaul Anwar KH Sadeli Karim, usulan pahlawan nasional terhadap KH Mas Abdurrahman merupakan amanah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Mathlaul Anwar pada 31 Agustus-1 September 2019. Menindaklanjuti hasil rakernas tersebut, PBMA kemudian menyelenggarakan Seminar Usulan Pahlawan Nasional bagi KH Mas Abdurrahman pada 28 November 2019 bekerja sama dengan Pemkab Pandeglang di Pendopo Bupati Pandeglang.

“Seminar usulan calon pahlawan nasional di daerah pengusul merupakan salah satu prasyarat yang ditentukan UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK). Dari seminar pertama keluar rekomendasi dari Bupati Pandeglang kepada Gubernur Banten untuk mengusulkan secara resmi KH Mas Abdurrahman sebagai pahlawan nasional ke pemerintah pusat,” kata Sadeli saat memberikan keterangan pers.

Untuk mendapatkan dukungan dari Pemprov Banten, lanjut Sadeli, PBMA kembali menggelar Seminar Usulan Pahlawan Nasional bagi KH Mas Abdurrahman tingkat Provinsi Banten. “Melalui seminar di Provinsi Banten ini diharapkan Gubernur Banten mendukung dan mengusulkan secara resmi KH Mas Abdurrahman sebagai pahlawan nasional kepada Presiden melalui Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan,” paparnya.

Ia menambahkan, PBMA optimistis usulan pahlawan nasional bagi KH Mas Abdurrahman mendapat dukungan penuh dari Pemprov Banten. Sebab, pendiri MA ini merupakan tokoh pendidikan terkemuka di Indonesia dan sebagai ulama Banten, semasa hidupnya KH Mas Abdurrahman aktif dalam perjuangan kemerdekaan NKRI.

Semua seminar dan kajian-kajian akademis tentang kiprah KH Mas Abdurrahman sudah harus selesai pada Maret 2020 karena pengajuan usulan ke pemerintah pusat paling lambat pada April 2020. “Memang banyak persyaratan yang harus dipenuhi sebelum mengusulkan KH Mas Abdurrahman sebagai pahlawan nasional. Kami akan serahkan segala persyaratannya kepada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) tingkat Provinsi Banten agar secepatnya bisa diusulkan ke pemerintah pusat,” tegasnya.

Ia menyebut, usulan pahlawan nasional itu bukan hanya merupakan kebanggaan bagi warga Mathlaul Anwar, akan tetapi kebanggaan bagi masyarkat Banten dan Indonesia pada umumnya. Dukungan terhadap usulan pahlawan nasional bagi KH Mas Abdurrahman tidak hanya datang dari PBMA, Pemkab Pandeglang dan Pemprov Banten, tapi Pengurus Wilayah Mathlaul Anwar (PWMA) di seluruh Indonesia juga menyelenggarakan Seminar Usulan Pahlawan Nasional sebagaimana yang diselenggarakan di Pandeglang dan di Serang.

“PWMA DKI Jakarta dan PWMA Kalimantan Barat juga telah menyelenggarakan seminar yang sama, PWMA Jawa Barat dalam waktu dekat menggelar seminar disusul PWMA daerah lainnya,” paparnya.

Sadeli berharap, masyarakat Banten juga memberikan dukungan agar pendiri MA dianugerahi gelar pahlawan nasional.

“Sejak didirikan pada 10 Juli 1916 lalu oleh KH Mas Abdurrahman, kini usia Mathlaul Anwar telah lebih dari 103 tahun. MA memiliki pengurus wilayah di 30 provinsi, bahkan telah memiliki perguruan tinggi, yakni Universitas Mathlaul Anwar (UNMA) di Kabupaten Pandeglang,” bebernya.

Tokoh masyarakat Banten Embay Mulya Syarief di hadapan pengurus PBMA langsung menyampaikan dukungan atas usulan gelar pahlawan nasional untuk pendiri MA. “KH Mas Abdurrahman sangat layak diusulkan sebagai pahlawan nasional atas jasa-jasanya dalam mendirikan dan membesarkan madrasah yang sampai saat ini sudah tersebar hampir di seluruh provinsi. Mudah-mudahan prosesnya bisa seperti usulan Brigjen KH Syam’un yang sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” kata Embay.

Senada, sejarawan Banten Dr Mufti Ali mengatakan, KH Mas Abdurrahman dari sisi sejarah itu paling banyak kontribusinya pada tataran ide untuk pengentasan kebodohan, kemudian berjuang dari sisi model pendidikan modern melalui pendirian madrasah.

“Kemudian, KH Mas Abdurrahman ini menginspirasi para kadernya untuk berjuang melawan musuh pada zaman kolonialisme Belanda,” katanya.

Mufti menambahkan, dengan ribuan cabang madrasah Mathlaul Anwar yang tersebar di seluruh Indonesia saat ini, itu bukan hal yang mudah dalam perjuangan dan ide seorang KH Mas Abdurrahman dalam pengembangan pendidikan madrasah di Indonesia.

“Ketika KI Hajar Dewantara menjadi tokoh pahlawan nasional, itu punya cabang di bawah 40-an. Ini jumlahnya ribuan, maka kalau bicara kontribusi terhadap NKRI itu tidak main-main. Jadi, sangat layak menjadi pahlawan nasional,” tutur Mufti Ali.

Sejarawan Bonnie Triyana mengatakan, melihat dari definisi pahlawan nasional memang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Itu yang harus dibuktikan sebagai syarat untuk mengusulkan pahlawan nasional ini, termasuk hasil seminar ini.

“Saya pikir dengan adanya usulan KH Mas Abdurrahman ini akan memperkaya sumbangan Banten untuk Indonesia. Karena sebelumnya sudah ada usulan dari Banten yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” katanya.

Ia melanjutkan, kepahlawanan KH Mas Abdurrahman dapat dilihat dari sisi tokoh pendidikan, seperti halnya juga KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). “Yang harus dikedepankan adalah bagaimana KH Mas Abdurrahman ini punya peran mendirikan institusi pendidikan, di Menes, Pandeglang, saat itu,” ungkapnya.

Menurut Bonnie, untuk melakukan pembuktian kepahlawanan KH Mas Abdurrahman supaya menjadi pahlawan nasional perlu ditinjau secara historis. “Pembuktian kepahlawanan tidak mudah, banyak persyaratan yang harus dipenuhi secara administrasi. Tim penelitinya harus mampu membuktikan kedudukan KH Mas Abdurrahman dalam landscape yang lebih luas lagi,” tambah Bonnie.

Usai seminar, Ketua Majelis Amanah PBMA Irsyad Juweli menambahkan, hal yang wajar bila PBMA mengusulkan KH Mas Abdurrahman menjadi salah satu pahlawan nasional. Itu lantaran kiprah KH Mas Abdurrahman sebagai tokoh pembaharuan pendidikan tidak hanya di Banten, tapi juga di Indonesia. “Perjuangannya cukup besar, Beliau telah melakukan pembaharuan di bidang pendidikan. Di Banten yang pertama kali kan Mathlaul Anwar yang melakukan pembaharuan, tokohnya KH Mas Abdurrahman ini,” ujarnya.

Menanggapi usulan PBMA, Plt Asda I Pemprov Banten Samsir mengatakan Pemprov mendukung usulan KH Mas Abdurrahman sebagai pahlawan nasional asal Banten. “Kita minta semua persyaratannya segera dipenuhi agar Gubernur bisa mengusulkannya ke pemerintah pusat,” katanya.

Berdasarkan data PBMA, KH Mas Abdurrahman lahir sekira 1875 di Kampung Janaka, di lereng Gunung Aseupan, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, dan wafat pada 16 Agustus 1944. Tokoh pendiri MA itu dimakamkan di Cikaliung Sodong, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, atau sekitar lokasi Universitas Mathlaul Anwar (UNMA). (den/alt/ira)