Pengangguran di Banten Bertambah

0
470 views

SERANG – Jumlah pengangguran di Banten bertambah 171 ribu orang dibandingkan Agustus 2019. Hal itu terlihat dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2020 yang sebesar 10,64 persen atau sebanyak 661,06 ribu orang. Angka TPT ini menempatkan Banten di posisi kedua secara nasional.

Angka TPT Banten itu meningkat 2,53 persen poin atau bertambah sebanyak 171 ribu orang dibandingkan dengan Agustus 2019. Bertambahnya jumlah pengangguran di Banten ini juga merupakan dampak dari pandemi Covid-19. Lantaran di Februari lalu, TPT Banten sebesar 8,01 persen atau 489.216 orang. Selama enam bulan, jumlah pengangguran di Tanah Jawara ini bertambah sekira 171 ribu orang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten, Adhi Wiriana mengatakan, adanya beberapa perusahaan industri tutup menjadi salah satu faktor bertambahnya . “Dan ada juga yang masih buka tapi mengurangi tenaga kerja, jadi di PHK,” ujar Adhi, kemarin.

Ia mengatakan, ada tambahan pertanyaan pada Survei Angkatan Kerja Agustus tahun 2020. Hasilnya, dari 9,64 juta penduduk usia 15 tahun ke atas, 1,84 juta terkena dampak Covid-19 atau atau 19,18 persen. Secara total, jumlah laki-laki yang terdampak Covid-19 lebih besar hampir dua kali lipat dibandingkan perempuan. Sedangkan penduduk usia kerja yang terdampak di perkotaan sebesar 31,18 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan yakni 6,74 persen.

“Ada yang dipecat jadi penganggur, tapi ada yang masih bekerja dan digaji perusahaan,” terangnya. Namun, ada juga yang pekerjaannya masih belum ada (dirumahkan). Selain itu, ada juga seperti pekerja hotel atau mall yang bekerjanya tidak penuh dan gajinya juga dibayar separuh.

Kata dia, adanya pandemi Covid-19, tidak hanya masalah kesehatan yang timbul, tapi semua aspek dalam kehidupan ikut terdampak, termasuk perekonomian. Perekonomian mulai menurun sejak diberlakukannya pembatasan aktivitas. “Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih menurun sampai pada triwulan III tahun 2020. Penurunan tersebut juga berdampak pada dinamika ketenagakerjaan di Indonesia,” terangnya.

Ia mengungkapkan, penduduk usia kerja lainnya juga turut terdampak dengan adanya pandemi Covid-19. Penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 tersebut dikelompokan menjadi empat komponen yaitu penganggur; bukan angkatan kerja (BAK) yang pernah berhenti bekerja pada Februari-Agustus 2020; penduduk yang bekerja dengan status sementara tidak bekerja; dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja.

Berdasarkan survei, Adhi mengungkapkan, pengangguran karena Covid-19 sebanyak 205 ribu orang atau sekitar 31,05 persen terhadap total penganggur sebanyak 661,06 orang di Banten, BAK karena Covid-19 sebanyak 28 ribu orang, sementara tidak bekerja karena Covid-19 sebanyak 103 ribu orang. Selain itu, penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 sebanyak 1,51 juta orang.

“Berkurangnya jam kerja adalah dampak Covid-19 yang paling banyak dirasakan penduduk usia kerja, sebanyak 1,51 juta orang atau sebesar 81,75 persen,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, ia juga menerangkan, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2020 sebanyak 6,21 juta orang atau naik 170 ribu orang dibanding Agustus 2019. Sejalan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga naik sebesar 0,65 persen poin. Namun, penduduk yang bekerja sebanyak 5,55 juta orang atau turun sebanyak 282 orang dari Agustus 2019.

Adhi juga mengungkapkan, ekonomi Banten triwulan III-2020 dibanding triwulan III-2019 (y-on-y) mengalami kontraksi 5,77 persen. Pertumbuhan negatif tersebut sebagai dampak belum meredanya Pandemi Covid-19 yang menghantui perekonomian dunia, nasional, dan regional termasuk Provinsi Banten.

Terpisah, Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, meningkatnya jumlah pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang tidak baik itu karena dampak dari pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi. “Apalagi Banten daerah industri, pastinya terpukul,” ujar pria yang akrab disapa WH ini. (nna/air)