Pengguna QRIS di Banten Meningkat 12,06 Persen

0
1.399 views

SERANG – Tahun ini pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS, dibaca KRIS) di Banten mengalami peningkatan sekitar 12,06 persen dari 183.873 merchant pada Maret menjadi 206.040 merchant pada April.

QRIS adalah penyatuan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) menggunakan QR Code. QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya. Semua Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran yang akan menggunakan QR Code Pembayaran wajib menerapkan QRIS.

Saat ini, dengan QRIS, seluruh aplikasi pembayaran dari penyelenggara manapun baik bank dan nonbank yang digunakan masyarakat, dapat digunakan di seluruh toko, pedagang, warung, parkir, tiket wisata, donasi (merchant) berlogo QRIS, meskipun penyedia QRIS di merchant berbeda dengan penyedia aplikasi yang digunakan masyarakat. Merchant hanya perlu membuka rekening atau akun pada salah satu penyelenggara QRIS yang sudah berizin dari BI. Selanjutnya, merchant sudah dapat menerima pembayaran dari masyarakat menggunakan QR dari aplikasi manapun penyelenggaranya.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah dan Satuan Layanan Administrasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erry P. Suryanto menyampaikan, pengguna QRIS di Banten menempati urutan ke 5 secara nasional. “Peningkatan ini akan terus didorong guna memfasilitasi kelancaran pembayaran masyarakat Provinsi Banten dalam masa pandemi Covid-19,” katanya, Selasa (5/5).

Menurutnya, Bank Indonesia bersyukur penggunaan QRIS di Provinsi Banten terus meningkat semenjak di-lauching awal tahun ini. Ke depan, penggunaan QRIS akan terus meningkat untuk memberi kemudahan bagi masyarakat dan memberi manfaat terbesar bagi ekonomi Banten. “Pada masa pandemi COVID-19, kita harus social distancing namun kebutuhan transaksi tetap perlu dilakukan,” katanya.

Menurutnya, penggunaan QRIS di Banten, mengalami peningkatan relatif pesat setelah pelaksanaan Pekan QRIS Nasional Maret lalu. Bank Indonesia terus berupaya mendorong penyerapan penggunaan QRIS sejak awal 2020, melalui edukasi dan sosialisasi ke milenial, merchant, rumah ibadah, pesantren serta mendorong penggunaan QRIS sebagai bagian dari elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.

Ia menuturkan, saat ini, QRIS bukan hanya untuk keperluan berbelanja atau bertransaksi, namun QRIS juga digunakan untuk menerima donasi, zakat, infak, sedekah atau persembahan di tempat ibadah seperti masjid dan gereja. Kemudian di rumah sakit dan yayasan kemanusian. Saat ini, terdapat sembilan masjid dan gereja, serta Lembaga Amil Zakat Harapan Dhuafa (LAZ HARFA) yang telah menggunakan QRIS sebagai salah satu pilihan kanal pembayaran.

“Ini dalam rangka menerima dana dari masyarakat lebih cepat, aman dan efisien,” katanya.

Masih banyak masjid, gereja, rumah sakit dan berbagai badan atau lembaga amal serta pedagang di Banten yang sedang dalam proses pengajuan pendaftaran QRIS. Penggunaan QRIS sebagai kanal pembayaran retribusi atau penerimaan pemda terus dikoordinasikan dengan Pemda dan PJSP.

“Penggunaan QRIS di masa pandemi COVID-19 ini bermanfaat untuk pengumpulan infaq dan sedekah di rumah ibadah,” katanya.

Direktur LAZ HARFA Indah Prihanande mengatakan, dengan adanya penggunaan logo QRIS mempermudah masyarakat memberikan donasi dan tidak perlu bingung apa pun dompet elektroniknya. “Pengumpulan donasi untuk masyarakat yang terdampak Covid-19 juga lebih cepat terkumpul dan lebih cepat tersalurkan,” katanya.

District Manager Link Aja Jakarta (Jabodetabek) Yudi Tri Hatmojo berharap, Provinsi Banten menjadi semakin terdigitalisasi dengan pembayaran via QR Code agar memperlancar sistem pembayaran dan mendorong efisiensi perekonomian. “Mempercepat keuangan inklusif serta memajukan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Provinsi Banten,” katanya. (Susi K)