Pengusaha Ikan Asin di Labuan Merugi

Seorang pengusaha ikan asin menjemur ikan di sekitar perairan Teluk Labuan, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kamis (1/8). Para pengusaha itu mengeluh karena ikan asin olahannya harus dijual ke luar daerah Pandeglang dengan harga murah. Foto Adib/Radar Banten

PANDEGLANG – Sejumlah pengusaha ikan asin di Desa Teluk, Kecamatan Labuan mengeluhkan sulitnya menjual ikan asin hasil olahannya. Hal itu terjadi lantaran tidak ada agen penjualan ikan asin di wilayah Pandeglang yang menampung hasil olahan para nelayan dalam skala besar.

Daslan (57), pengusaha ikan asin asal daerah setempat mengatakan, kerap menjual hasil olahan mereka ke luar daerah seperti Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kota Serang dengan harga murah.

Akibat hal itu, keuntungan yang didapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. “Untungnya enggak banyak paling dari satu kilo itu cuma dua ribu, sedangkan satu kali mengirim ikan biasanya seratus kilo, untungnya berarti cuma Rp200 ribu, belum dipotong untuk ongkos, kecil untungnya pak,” katanya, kemarin.

Daslan mengatakan, selain tempat penjualan yang jauh, sisa bencana tsunami juga menjadi persoalan yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah, karena banyak perahu milik nelayan mengalami kerusakan dan berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan.

“Masa-masa sekarang itu, masa yang sulit bagi para nelayan, karena hasil tangkapan ikan enggak terlalu banyak, bahkan ada juga yang sama sekali tidak mendapatkan ikan. Kalau sudah seperti itu, tentunya saya juga enggak bisa mengolah ikan,” katanya.

Daslan berharap, Pemkab Pandeglang bisa mencari solusi untuk mengatasi sulitnya menjual ikan asin tersebut. “Keinginan kita itu enggak besar pak, kita cuma ingin agar ikan olahan ini bisa langsung kita jual, tetapi tempatnya tidak terlalu jauh, kalau jauh ongkos yang kita keluarkan juga besar, belum lagi untuk membayar lima orang pegawai, karena kalau enggak dibayar kasihan mereka pak, mau makan apa?,” katanya.

Maksum (46), pengusaha ikan asin lainnya mengaku, pada saat musim paceklik, dirinya hanya bisa mengandalkan sisa tabungan yang dimiliki, karena tidak bisa mengolah ikan untuk dijual.

“Kalau musim paceklik itu kita enggak bisa ngapa-ngapain, paling kita pakai sisa tabungan yang ada, kalau uangnya sudah habis, ya peralatan rumah tangga kita gadaikan, atau kita jual. Ya mau gimana lagi pak, kita enggak bisa berbuat apa-apa lagi, keahlian lain kita juga enggak bisa,” katanya.

Dihubungi terpisah, Asda Bidang Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Pemkab Pandeglang Indah Dinarsiani mengaku akan melakukan pembahasan untuk mengatasi keluhan para pengusaha ikan asin tersebut.

“Kita akan bahas dulu dengan semua pihak terkait, mengenai teknisnya nanti akan kita sampaikan lagi. Karena kita juga tidak mau ada pengusaha lokal yang kesulitan menjual hasil olahan mereka, kita ingin agar usaha mereka tetap berjalan, karena usaha itu juga sangat menguntungkan bagi mereka,” katanya. (dib/zis)