MERAK – Kendati telah mengalami penurunan harga sekira Rp250 pada awal tahun 2015 ini, namun akibat sempat adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar pada pertengahan Desember 2014 lalu, pengusaha pelayaran penyeberangan Merak-Bakauheni masih merasa terbebani. “Kenaikan BBM waktu itu telah memberikan dampak luar biasa termasuk kurs dolar yang sangat tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Dan itu telah menyebabkan naiknya biaya sparepart, biaya perawatan maupun biaya pengedokan antara 20 – 30 persen,” ungkap Sunarya, Kepala Cabang Dharma Lautan Utama (DLU), salah satu perusahaan pelayaran di Merak, Kamis (15/1/2015).

menurutnya, kondisi itu sebaliknya tidak mendapatkan dukungan yang baik dari pemberlakuan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) 58 tahun 2014 tentang Tarif Angkutan Penyeberangan Lintas Antar Provinsi pada November silam. “Pada saat itu, perhitungan tarif pada Peraturan Menteri itu hanya memperhitungkan kenaikan BBM saja, tidak memperhitungkan biaya yang mengalami kenaikan akibat dari kenaikan BBM maupun multier effect. Padahal imbas kenaikan BBM waktu itu, sangat mengerikan. Ini yang mengakibatkan kondisi biaya perawatan kapal penyeberangan juga saat ini sangat tinggi dan semakin membengkak,” katanya.

Selain itu, jelas Naryo, kenaikan tarif dasar listrik juga menambah beban kenaikan biaya perawatan dan docking kapal, bahkan kenaikan inflasi tahun 2014 sebesar 8 persen menyebabkan kenaikan biaya operasional yang lain. “Atas dasar beberapa hal tersebut, kami berharap harga BBM bisa turun lagi seiring dengan turunnya harga minyak dunia. Sehingga, kami juga bisa mengkompensasikan penurunan harga BBM tersebut untuk menutupi kenaikan biaya yang lain dengan tarif yang tetap, atau tarif kembali dinaikkan. Lagipula, subsidi BBM transportasi publik itu seharusnya lebih besar dari subsidi transportasi private sehingga masyarakat bisa berpindah dari transportasi private ke transportasi publik,” tandasnya. (Devi Krisna)