Pengusaha Ternak Ayam di Gunungsari Angkat Bicara

Bantah Dapat Penolakan Warga dan Ganggu Lingkungan

0
280

SERANG – Pengusaha ternak ayam di Desa/Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, menjawab keresahan warga yang mengeluhkan jarak peternakan dengan permukiman. Mereka menjamin, kegiatan usaha peternakan aman dan tidak akan menimbulkan bau karena menggunakan sistem modern.

Diberitakan sebelumnya, warga Desa/Kecamatan Gunungsari mengeluhkan keberadaan peternakan ayam di desanya. Hal itu dipicu jarak lokasi peternakan dengan permukiman yang berdekatan, hanya berjarak sekira lima meter. Warga khawatir terjadi polusi udara di lingkungan mereka.

Baca juga: Warga Gunungsari Protes Ternak Ayam Dibangun di Permukiman

Oman D Saputra yang mengaku sebagai pemilik ternak ayam memastikan, kegiatan usaha peternakan miliknya tidak akan menimbulkan pencemaran udara. Soalnya, kata Oman, di peternakan ayam sudah menggunakan sistem yang modern untuk menghilangkan bau tak sedap yang ditimbulkan binatang ternaknya. “Kita sudah pakai sistem close house. Jadi, ayam-ayam ternakan kita tidak akan menimbulkan bau, apalagi sampai ke permukiman,” jelas Oman saat meminta klarifikasi di Stadion Ciceri, Kota Serang, Selasa (26/9).

Lebih lanjut, Oman menjelaskan, mesin blower untuk menghilangkan bau kotoran ayam juga disimpan di tempat paling belakang peternakan sehingga tidak akan menimbulkan bising ke permukiman. “Di depan (lokasi peternakan-red) hanya untuk pergudangan saja,” ujarnya.

Diungkapkan Oman, peternakan baru beroperasi kembali sejak 15 hari lalu setelah beberapa waktu lalu sempat dihentikan oleh Pemkab. Peternakan bisa menampung 40.000 ekor ayam per periode. Oman juga mengaku, pihaknya sudah menyelesaikan proses perizinan ke berbagai instansi, di antaranya izin mendirikan bangunan (IMB), izin operasional peternakan, dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). “Kita sudah tempuh izinnya selama sebelas bulan. Setelah perizinan selesai, baru kita beroperasi,” jelasnya.

Oman membantah, keberadaan peternakan mendapatkan penolakan dari warga setempat. Meski demikian, Oman tidak memungkiri masih ada sebagian warga yang enggan menandatangani surat persetujuan pengoperasian peternakan. “Hanya ada dua rumah (yang enggan menandatangani-red). Selebihnya setuju semua. Bahkan, kita sampai minta tanda tangan warga di empat RT,” tegasnya.

Oman menuding, warga yang protes terhadap peternakan mayoritas bukan warga setempat. Aksi penolakan, diakui Oman, sempat mencuat saat peresmian peternakan. Padahal, proses peresmian peternakan dihadiri Abuya Muhtadi Dimyati dan Kapolres Serang AKBP Wibowo.

Bentuk penolakannya, diceritakan Oman, massa melakukan aksi brutal membuat bising acara dengan menarik gas knalpot motor hingga menyalakan musik keras. “Saat itu tokoh masyarakat juga bilang ke kita, yang menolak itu bukan orang sekitar. Mereka rata-rata berusia remaja dari luar kecamatan. Soalnya, kita merasa enggak ada masalah karena sudah sosialisasi terbuka ke warga. Kalau kita tidak dapat izin, kita siap tutup usaha,” tegasnya.

Dikatakan Oman, pihaknya juga sering mendatangi warga yang menolak keberadaan peternakan ayam miliknya. Bahkan, Oman sampai melakukan transaksi jual beli tanah kepada warga yang kontra terhadap keberadaan peternakan. “Kita sudah barter tanah. Tanah milik saya untuk dia, begitu pun sebaliknya. Malah saya yang nambah. Tapi, kok sekarang malah protes,” tukasnya.

Lantaran itu, Oman berjanji untuk mendatangi kembali warga yang kontra untuk mencari solusi terbaik. Oman juga menegaskan, siap menyalurkan dana corporate social responsibility (CSR) untuk lingkungan sekitar. “Sudah kita siapkan untuk pembangunan musala dan sebagainya,” pungkasnya. (Rozak/RBG)