Penyalahgunaan Sabu, Kasus Paling Banyak Ditangani Kejari Serang

0
61

SERANG – Penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu merupakan kasus paling banyak ditangani Kejaksan Negeri (Kejari) Serang. Narkotika jenis sabu-sabu menduduki peringkat teratas dari kasus penyalahgunaan narkotika jenis lainnya.

“Dari awal tahun sampai November 2018, sabu-sabu paling banyak dibandingkan kasus ganja dan lain-lain,” kata Kepala Kejari Serang Azhari ditemui di kantor Kejari Serang, Rabu (14/11).

Namun, jumlah pelaku dan barang bukti penyalahgunaan sabu-sabu yang telah ditangani Kejari Serang tidak dirinci oleh Azhari. “Detail ada di pidum. Baik dari barang bukti dan tersangka paling banyak sabu-sabu,” ucap Azhari.

Pada kesempatan itu, 155 barang bukti kejahatan dari perkara yang telah inkracht pada 2018 dimusnahkan di halaman Kejari Serang. Pemusnahan itu disaksikan institusi terkait, seperti unsur kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN), BPOM, dan tokoh masyarakat. “Hari ini (kemarin-red), kami telah musnahkan barang bukti kejahatan tahun 2018 yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap,” kata Azhari.

Barang bukti itu antara lain narkotika, obat-obatan ilegal, miras oplosan, alat pendingin, chiller (alat pendingin), kompresor air conditioner (AC), ponsel, dan senjata tajam (sajam). “Jamu atau obat-obatan yang paling banyak dimusnahkan hari ini,” kata Azhari.

Barang bukti narkotika yang dimusnahkan, kata Azhari, merupakan sisa dari barang bukti yang disisihkan saat proses penuntutan perkara. “Untuk narkotika, ini hanya sisanya. Selebihnya, ada di penyidik dan kemungkinan sudah dimusnahkan,” kata Azhari.

Diakui Azhari, pemusnahan itu juga upaya meminimalisasi penyalahgunaan barang bukti kejahatan oleh oknum kejaksaan. “Meskipun, saya yakin anak buah saya tidak akan melakukan itu. Tetapi, apabila ada sesuatu yang dapat dijualbelikan, dapat saja tergoda. Jadi, ini meminimalisir penyalahgunaan,” kata Azhari.

Soal pemusnahan alat elektronik, Azhari mengaku memilih memusnahkannya daripada dilelang. Sebab, nilai ekonomis alat elektronik itu tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti lelang. “Sesuai tuntutan dan vonis hakim dimusnahkan. Kalau dirampas untuk negara, biaya lelang lumayan besar dan biasanya peminat sedikit. Lagi pula, nilainya tidak terlalu tinggi,” kata Azhari. (Merwanda/RBG)