Perairan Pulomerak Tercemar Limbah Oli

Limbah oli terlihat mencemari perairan di dekat dermaga milik Ditpolairud Polda Banten, Rabu (12/2).

CILEGON – Perairan di Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, tercemar limbah oli, Rabu (12/2). Salah satu jenis bahan bakar minyak (BBM) itu terlihat di sekitar dermaga milik PT Lingga Perdana dan Direktorat Kepolisian Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Banten.

Pantauan Radar Banten di dermaga Ditpolairud Polda Banten, limbah yang diduga oli bercampur solar itu terlihat di permukaan air dan menempel di tiang pancang serta bebatuan di sekitar dermaga. Hal yang sama pun terlihat di area lain di perairan yang berlokasi di Kelurahan Suralaya tersebut.

Bau BBM tercium di sekitar markas Ditpolairud Polda Banten, khususnya di sekitar tepi laut. Hingga pukul 15.00 WIB kemarin, bau tersebut masih terasa tercium.   

Kasubdit Patroli Ditpolairud Polda Banten AKBP Noman Trisapto menuturkan, tumpahan oli itu pertama kali diketahui sekira pukul 06.00 WIB di sekitar dermaga dan sekitar markas Ditpolairud.

Mengetahui adanya pencemaran, dua kapal patroli pun langsung dikerahkan untuk menelusuri kapal yang membuang BBM tersebut.

“Satu kapal menyisir di perairan Merak, satu lagi menyisir di perairan Salira,” ujar Noman.

Empat kapal diperiksa oleh petugas, tetapi hasilnya, pencemaran air itu bukan dilakukan oleh keempat kapal tersebut. Kata Noman, dugaan sementara, BBM itu berasal dari kapal yang melakukan aktivitas pembersihan sambil berlayar. Jika benar hal itu terjadi, kapal tersebut telah melanggar Undang-Undang tentang Pelayaran. Seharusnya, proses pembersihan dilakukan di tempat yang telah ditetapkan dan limbah hasil pembersihan itu tidak dibuang ke laut.  

“Kita masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk tahu kapal mana yang telah mencemari laut itu,” ujarnya.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Cilegon Abiandini berharap, pencemaran laut itu disikapi serius oleh pemerintah agar tidak terulang kembali.  Jika pencemaran itu terus terjadi, maka nelayan yang akan menjadi korban. Ekosistem laut akan rusak sehingga memengaruhi tangkapan ikan para nelayan.

“Kalau tercemar, ikan kecil yang menjadi santapan ikan besar mati, lama-lama laut rusak,” tuturnya. 

Jika saat penindakan nanti ditemukan ada perbuatan melanggar hukum, ia menyerahkan hal tersebut kepada pihak kepolisian untuk menindak secara tegas. (bam/alt/ira)