Peralihan Musim Kemarau ke Penghujan, BMKG: Waspadai Puting Beliung

SERANG – Warga Banten harus lebih waspada dalam beraktivitas. Saat ini telah memasuki peralihan musim, dari musim kemarau ke musim penghujan. Peralihan musim ini berpotensi terjadi angin puting beliung.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Serang, puncak musim kemarau sudah berakhir pada September lalu dan kini memasuki peralihan ke musim penghujan.

Pada zona 58 yang meliputi Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Cilegon, awal musim penghujan akan dimulai pada dasarian II Desember 2019. Kemudian, pada zona 55 dan zona 63 pada wilayah Lebak bagian selatan dan Pandeglang bagian selatan akan mulai pada dasarian Desember III.

Kendati demikian, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kelas I Serang Tarjono mengatakan, bukan berarti Oktober hingga Desember tidak ada hujan sama sekali. “Ada hujan, tapi memang ringan,” katanya saat ditemui Radar Banten di kantor BMKG Kelas I Serang, di Taktakan, Kota Serang, Rabu (9/10).

Secara umum, hujan pada Oktober masih ada, tetapi di bawah normal dengan intensitas antara 21 sampai 25 mililiter. Padahal, normalnya hujan memiliki kapasitas antara 132 sampai 178 mililiter. “Jika pun ada hujan besar, sifatnya sporadis, lokal. Intensitas hujan tidak berlangsung lama. Nah, diprakiraan bulan Oktober curah hujannya hanya 21 sampai 25 mililiter, artinya masih di bawah normal,” kata Tarjono.

Hanya saja, dalam keadaan seperti itu, Tarjono mengingatkan potensi terjadinya angin puting beliung. Menurutnya, angin puting beliung memiliki kecepatan 60 sampai 70 kilometer per jam.  “Meskipun durasinya singkat tiga sampai lima menit, itu bisa mengangkat benda dan merusak atap rumah,” ujar Tarjono.

Kata dia, puting beliung terjadi ketika adanya awan kumulonimbus. Yakni, sebuah awan vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan terlibat dalam badai petir dan cuaca. “Ketika sudah ada awan kumulonimbus, di situ berpotensi angin puting beliung dan petir. Ketika ada awan ini kita waspadai,” kata Tarjono, memperlihatkan gambar awan tersebut.

Tarjono tidak menjelaskan detail di mana saja potensi puting beliung tejadi. Dia hanya memberi peringatan agar masyarakat lebih berhati-hati. “Angin ini tidak bisa dicegah, tapi ketika terjadi kita mencari tempat yang lebih aman,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk lebih menjaga stamina dalam peralihan musim kemarau ke penghujan. Dia menyarankan agar setiap orang lebih banyak mengonsumsi air putih dan vitamin. “Imbauannya di masa transisi ini untuk lebih menjaga fisik dan stamina,” kata Tarjono.

BMKG Kelas I Serang juga mengingatkan kepada pemerintah daerah untuk lebih dini melakukan antisipasi terjadinya banjir saat datang musim penghujan. Sebelum musim hujan memasuki puncak, alangkah baik untuk dilakukan perawatan atau perbaikan drainase di sekitar lingkungan warga.

Berdasarkan prakiraan musim BMKG, puncak musim hujan akan berlangsung sesuai zonanya masing-masing. Puncak musim hujan wilayah Provinsi Banten dan DKI Jakarta umumnya terjadi pada Desember. “Untuk zona Pandeglang Lebak dan Kota Kabupaten Serang puncak hujan pada Februari 2020,” ucap Tarjono.    

Karena itu, masih ada waktu bagi pemerintah daerah dan masyarakat secara umum untuk mempersiapkan diri. “Ini agar saat hujan tiba tidak terjadi banjir,” ucapnya. (ken/ira)