SERANG – Perayaan tahun baru Imlek 2566 bagi etnis Tionghoa menjadi tidak lengkap bila tidak ada kue keranjang sebagai sesaji. Kue ini biasanya tidak dimakan sampai malam ke-15 setelah tahun baru Imlek (Cap Gomeh).

Jusuf Winata (45), pemilik usaha kue keranjang di Jalan Tirtayasa No 125 Kelurahan Kota Baru, Kota Serang, kepada wartawan Selasa (17/2), mengatakan, kue ini sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku (Cau Kun Kong) agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga (Giok Hong Siang Te).

“Kue keranjang yang manis merupakan simbol doa agar kehidupan orang-orang yang merayakan Imlek memiliki kehidupan yang manis. Lalu bentuk kue yang bulat juga diyakini agar keluarga terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang,” jelas Jusuf.

Ia menuturkan, kue keranjang yang ditekuninya merupakan usaha yang digeluti leluhurnya sejak 1940-an. Sebagai keturunan dari generasi ketiga dirinya diamanatkan mengelola perusahaan ‘Ny. Onh Tiang Bie’ yang salah satu usahanya membuat kue keranjang. “Ini usaha turunan dan saya generasi ketiga. Untuk kue keranjang dibuat hanya menjelang tahun baru Imlek, di hari-hari biasa kita memproduksi kerupuk udang, terasi, dodol, dan lain-lain,” jelas Jusuf.

Jusuf mengatakan, proses pembuatan kue keranjang harus memiliki keahlian tersendiri untuk menghasilkan kualitas kue yang bagus, seperti menyiapkan adonan yang antik dengan menggunakan beras ketan bayong pilihan, ditumbuk atau digiling dengan alat yang ada, dan dikasih gula putih seperti melakukan fermentasi selama dua minggu. “Kue Keranjang yang dihasilkan pun memiliki rasa yang berbeda dengan kue yang dijual di daerah lain,” jelasnya. (Fauzan Dardiri)